Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menyaksikan Drama Musikalisasi Bertema 'Paglak Menyingsing, Senja Berkisah' di RTH Singojuruh, Seniman Muda Dedikasikan Pertunjukan untuk Sang Maestro

Redaksi • Senin, 2 Juni 2025 | 16:35 WIB
Para seniman muda dari sanggar Jiwa Etnik Blambangan (JEB) menggelar drama musikalisasi Angklung Paglak bertajuk “Paglak Menyingsing, Senja Berkisah” di RTH Singojuruh pada Sabtu (31/5).
Para seniman muda dari sanggar Jiwa Etnik Blambangan (JEB) menggelar drama musikalisasi Angklung Paglak bertajuk “Paglak Menyingsing, Senja Berkisah” di RTH Singojuruh pada Sabtu (31/5).

RADARBANYUWANGI.ID - Sanggar tari Jiwa Etnik Blambangan (JEB) kembali menggelar pertunjukan drama musikalisasi Angklung Paglak yang bertajuk “Paglak Menyingsing, Senja Berkisah”.

Event ini digelar penuh kemegahan yang menghibur serta membangkitkan warisan musik tradisional khas Banyuwangi yang unik melalui kisah keseharian petani suku Oseng, Sabtu (31/5) pukul 19.00-22.00 WIB, di ruang terbuka hijau (RTH) Singojuruh.

Pergelaran ini merupakan lanjutan kegiatan sarasehan budaya “Membaca Tohan: Maestro Angklung Paglak Banyuwangi” yang digelar pada tanggal 8 Februari lalu.

Hingga akhirnya kegiatan ini mendapat apresiasi dari pihak Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Pementasan musik ini tak hanya sakral bagi seni, tapi juga penting bagi sejarah musik angklung paglak di Banyuwangi.

Event ini sekaligus menampilkan film dokumenter yang merekam perjalanan Mbah Tohan dalam merawat dan meneruskan warisan musik leluhur.

“Sebuah perjalanan panjang Sang Maestro yang kita dokumentasikan, kita rawat dan kita lanjutkan jeripayahnya,” ujar Adlin Mustika Alam, selaku ketua panita dan pemilik sanggar seni JEB.

Tema ”Paglak Menyingsing, Senja Berkisah” tak sekadar tema puitis, melainkan simbol kebangkitan tradisi dari seorang yang telah melalui senja hidupnya dengan kesetiaan yang penuh.

Dialah Tohan sang maestro yang menjadi pusat penghormatan dalam pergelaran malam itu melalui penampilan karya-karyanya.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, Adlin bersama tim mengajak 25 pemuda Banyuwangi untuk melakukan kegiatan nyantrik atau belajar langsung di rumah Mbah Tohan selama beberapa hari lalu.

Mereka mempelajari teknik, filosofi, serta sejarah Angklung Paglak dari sang maestro secara langsung.

Dalam pementasan karya Tohan, kurasi dilakukan oleh Moh. Pungki Hartono, SSn dan Achzana Ilhami, SSn.

Sementara komposisi musik ditangani oleh Bagus Agustin, SSn yang merupakan murid dari Tohan langsung.

Bagus  mengungkapkan, tantangan terbesar dalam penggarapan musik ini terletak pada penambahan instrumen pengiring.

“Jadi karena Angklung Paglak itu hanya dua instrumen, yaitu angklung dan kendang kecil, saya menitikberatkan tambahan instrumen lain seperti gong, kendang besar, vokal, supaya harmonisasinya yang lebih kaya namun tetap menguatkan ruh musik angklungnya,” ujar Bagus.

Sementara itu, Mbah Tohan yang kini berusia 74 tahun memberikan pesan menyentuh kepada generasi muda.

"Semua harus melestarikan kesenian Banyuwangi. Hal ini harus didasari dari anak-anak muda itu sendiri supaya kesenian yang ada di Banyuwangi tetap lestari," ujar Mbah Tohan.

Pergelaran ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ratusan penonton memadati area RTH Singojuruh, menikmati alunan khas Angklung Paglak yang berpadu dengan narasi kebudayaan dan nilai-nilai lokal yang kuat.

Pergelaran ini tak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal, namun juga hadir wisatawan asal Jerman, yaitu Paul, Rebbeca, dan Hiscole.

Mereka mengaku terkesan dengan kekayaan budaya Banyuwangi yang ditampilkan dalam event tersebut.

It was a really new experience. It’s different from the traditional music we hear in Germany, but we really enjoy it (Ini adalah pengalaman yang benar-benar baru. Berbeda dengan musik tradisional yang kami dengar di Jerman, tapi kami sangat menikmatinya,” ungkap Paul dengan antusias.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Dwi Yanto. Dia memberikan apresiasi atas terselenggaranya pergelaran seni ini.

“Angklung Paglak adalah karya musik tradisional yang tidak dimiliki oleh kabupaten lain, bahkan tidak ditemukan di wilayah manapun di Indonesia. Ini adalah kekayaan khas Banyuwangi yang patut kita jaga, lestarikan, dan perkenalkan ke generasi mendatang,” ujarnya.

Pemkab juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung upaya pelestarian seni tradisi, termasuk melalui kolaborasi dengan komunitas, sanggar dan generasi muda yang peduli terhadap budaya daerah.

”Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal menjaga warisan, tetapi juga tentang menumbuhkan kecintaan baru melalui generasi muda, yang siap menyingsingkan semangat baru bagi seni tradisi Banyuwangi,’’ paparnya.  (aif)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#drama musikalisasi #Paglak Menyingsing Senja Berkisah #rth singojuruh