RadarBanyuwangi.id – Dalam memperingati Hari Jadi Kemiren yang ke-167 Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali mengadakan kegiatan Ngopi Sepuluh Ewu yang pelaksanaannya terbagi menjadi dua hari yakni tanggal 5-6 Nopember 20224.
Dimulai pada hari Selasa 5 Nopember peringatan Hari Jadi Kemiren diadakan Pawai Budaya pukul 15.00 WIB. Dilanjutkan dengan selametan desa pukul 18.00 WIB, dan pada pukul 21.00 WIB tradisi Mocoan Lontar menutup rangkaian pada hari pertama.
Lalu, keesokan harinya pada hari Rabu 6 Nopember 2024 adalah acara inti dari Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Diawali dengan Opening Ngopi pukul 18.00 WIB, dilanjutkan dengan penampilan Musik tradisonal untuk menemani nyruput kopi pukul 19.30 WIB, lalu ditutup dengan pertunjukan kesenian Barong Tresna Budoyo pukul 21.00 WIB.
Pemerintah Desa Kemiren mengharap dan mengajak kepada masyarakat Banyuwangi dan wisatawan lokal maupun mancanegara agar datang ke perayaan Desa Kemiren untuk merasakan kehangatan dan persaudaraan dalam setiap teguk kopi.
Sejarah Ngopi Sepuluh Ewu
Setelah ditetapkan sebagai Desa Wisata Adat Osing oleh Bupati Purnomo Sidik tahun 1995 Desa kemiren semakin di kenal sebagi Desa Wisata Adat Osing di Kabupaten Banyuwangi.
Sejak di pimpin oleh Bupati Abdullah Azwar Anas tahun 2010-2015, Setiap tahun di Desa Kemiren Banyuwangi diadakan festival budaya seperti tradisi barong ider bumi, ngopi sepuluh ewu, tradisi tumpeng sewu, tradisi mepe kasur dan lain-lain.
Ngopi sepuluh ewu merupakan tradisi masyarakat suku Osing untuk menjaga keakraban dan persaudaraan. Setiap warga desa adat menyuguhkan kopi di halaman rumahnya.
Mereka menyulap teras rumah menjadi area lesehan atau meja-meja layaknya warung kopi. Apabila dihitung-hitung, deretan rumah yang menyediakan sajian kopi mencapai 2 kilometer panjangnya.
Disuguhkan dengan cangkir khusus yang telah diwariskan turun-temurun. Kopi yang disajikan pun beragam, mulai dari arabika, robusta hingga kopi dengan campuran khusus atau house blend. Disajikan pula beragam jajanan tradisional untuk menemani nyruput kopi.
Tradisi yang masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival ini bukan sekedar acara minum kopi bersama, melainkan pertunjukan budaya yang menggambarkan keramahan dan kemurahan hati warga Osing.
Dengan filosofi “sak corotan dadi seduluran” yang artinya sekali seduh kita bersaudara. Dengan ngopi bersama masyarakat Osing merekatkan rasa persatuan dan persaudaraan.
Dan hal yang perlu diketahui oleh pengunjung adalah kopi yang disajikan gratis, pengunjung cukup membayar makanan saja sebagai ganti bahan. Karena masyarakat Desa Kemiren memiliki filosofi; lungguh, gupuh, suguh.
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Desa Kemiren jika ada tamu makan tuan rumah akan mempersilakan duduk (lungguh), menyiapkan dan menyajikan makanan (gupuh dan suguh). (*)
- Penulis: ABDUL QODIR JAELANI HAERON
- Mahasiswa Fakultas Dakwah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo