RadarBanyuwangi.id - Di sebuah sudut sunyi di Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi, seorang wanita sepuh berusia 74 tahun, Siami, terus menganyam helai-helai benang sutra menjadi kain tenun yang mempesona.
Dengan menggunakan alat tenun kayu yang usianya diperkirakan sudah seabad, Siami menciptakan karya indah yang sarat akan warisan budaya khas Banyuwangi.
Berbekal warisan dari leluhurnya, mulai dari buyut hingga ibunya, Siami telah menekuni seni menenun sejak kecil.
Namun, kini ia menjadi satu-satunya penenun tradisional di desanya, setelah generasi penerusnya memilih untuk tidak melanjutkan tradisi ini.
Menenun bagi Siami bukan hanya pekerjaan, melainkan panggilan hati.
Butuh waktu berminggu-minggu, bahkan sebulan penuh, untuk menyelesaikan sehelai kain tenun yang bisa bernilai hingga Rp 3 juta.
Namun, tantangan terbesar bagi Siami saat ini adalah ketersediaan benang sutra yang semakin langka, memaksanya untuk memesan terlebih dahulu demi melanjutkan karyanya.
Dengan motif Gedog Solok dan Kuwung yang khas, kain tenun buatan Siami menjadi saksi bisu perjuangan seorang wanita dalam menjaga kelestarian warisan leluhur, di tengah arus zaman yang semakin modern.
Upaya ini membuatnya menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Mengutip Keputusan Mendikbudristek Nomor 387/P/2024 tentang Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024, Siami akan menerima penghargaan dari menteri untuk kategori pelestari.
Namun, Siami mengaku belum mengetahui perihal penghargaan yang akan diterimanya dari Mendikbudristek.
"Belum tahu, tapi kalau memang diberi akan saya terima. Terima kasih kepada pak menteri," katanya, Senin (26/8).
Anugerah Kebudayaan Indonesia diberikan ke individu, kelompok, atau lembaga yang telah mendedikasikan dirinya untuk berkarya bagi pemajuan kebudayaan.
Penerima penghargaan harus konsisten melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan Objek Pemajuan Kebudayaan atau cagar budaya dan telah berkarya di bidang kebudayaan minimal sepuluh tahun.
Pada tahun 1969, Anugerah Kebudayaan Indonesia diberikan dengan sebutan Hadiah Seni.
Pada tahun 2012, nama Hadiah Seni kemudian diubah menjadi Anugerah Kebudayaan sejak diselenggarakan Kemendikbudristek. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi