Topik pengembangan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi tampaknya cukup menarik bagi sebagian besar wilayah di tanah air. Yang terbaru, salah satu karya tulis berjudul Pemberdayaan Wanita, Batik, dan UMKM Pengrajin Batik Tulis di Banyuwangi mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo.
Penulisnya adalah Adhek Januar, putra dari Tri Irianto, seorang pelukis di Banyuwangi. Pria berusia 36 tahun itu mendapat penghargaan sebagai Insan Muda Indonesia Berprestasi Nasional Terbaik pada peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia Sabtu (17/8). Tulisannya dianggap cukup menarik dan bahkan bisa menjadi salah satu gagasan yang bisa diterapkan di Ibu Kota Nusantara (IKN) nantinya.
Pada malam resepsi kemerdekaan, Adhek mendapat penghargaan bersama pemuda lainnya dari Presiden Jokowi. Adhek yang dihubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi menceritakan, tulisan itu nantinya akan dijadikan usulan bagi pemerintah di IKN.
Tulisan tersebut diikutkan dalam lomba yang digelar oleh Kementerian Pendidikan untuk menjaring gagasan-gagasan dari semua segmen. Kebetulan, tulisan karya Adhek yang dibesarkan di Banyuwangi itu menjadi yang terbaik untuk segmen ekonomi dan bisnis.
”Tulisan ini sebenarnya pengembangan dari skripsi saya saat studi S-1 di Universitas Bhayangkara Surabaya. Skripsi saya tentang Implikasi Program Sosialisasi, Pelatihan, dan Pendampingan (SP2) sebagai Sarana untuk Meningkatkan Kesiapan UMKM,” kata Adhek.
Isi dari tulisan itu adalah sebuah terobosan agar UMKM bisa bersaing dengan pinjaman modal yang diterima dari dunia perbankan. Adhek menilai, selama ini UMKM menggunakan sistem pelaporan keuangan yang berbeda dengan perusahaan. Akibatnya, pelaku UMKM kerap kesulitan mendapatkan pinjaman dalam jumlah besar dari bank.
Padahal, imbuh Adhek, jika UMKM bisa menerapkan sistem Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang sama dengan perusahaan, akan mempermudah pelaku UMKM mendapatkan pinjaman dari perbankan. ”Dengan menerapkan SAK ETAP, UMKM akan mudah mendapatkan modal. Ini yang saya bahas dalam tulisan itu,” papar sulung dari dua bersaudara itu.
Putra dari pasangan suami istri Tri Irianto dan Suprihatin itu menambahkan, IKN nanti akan menjadi sebuah wilayah dengan kekhasan baru. Adhek melihat cukup relevan kalau tulisannya nanti bisa menjadi cara yang diterapkan IKN.
Adhek mencontohkan batik gajah oling asal Banyuwangi yang awalnya tidak banyak dikenal, namun saat ini semakin dikenal dan dicari orang. ”Bisa jadi nanti di IKN ada kultur baru entah itu batik atau apa. Dari tulisan ini ada terobosan yang bisa dilakukan pelaku usaha di sana,” jelasnya.
Meski kini menetap di Sidoarjo, kecintaan Adhek terhadap Banyuwangi tidak pernah luntur. Dia melihat ada potensi di Banyuwangi yang bisa dikembangkan untuk Indonesia. Adhek pun menuangkan dalam tulisan tersebut. Beruntungnya, tulisan itu lolos menjadi yang terbaik.
Adhek berharap tulisannya itu benar-benar bisa diterapkan di IKN sehingga akan lebih banyak manfaat yang bisa didapat masyarakat, khususnya para pelaku UMKM. ”Tulisan ini bisa menjadi inovasi di IKN nanti. UMKM bisa bersaing dengan perusahaan,” tandas alumnus SMPN 4 Banyuwangi itu. (aif/c1)
Editor : Niklaas Andries