Radarbanyuwangi.id – Festival Tumpeng Sewu yang digelar masyarkat Desa Kemiren, Keamatan Glagah, berlangsung meriah tadi malam (9/9). Tak sekadar menyuguhkan ribuan nasi tumpeng, festival ini juga menjadi ”etalase” keramahan warga suku Oseng.
Ya, sejak sore warga keluar rumah dan membawa tumpeng untuk disantap bersama-sama di sepanjang jalan desa dan gang-gang di desa adat tersebut. Pecel pitik (ayam) menjadi menu wajib setiap tumpeng.
Pecel pitik adalah makanan khas suku Oseng berupa ayam kampung yang dibakar lalu dicampur dengan parutan kelapa dengan racikan bumbu tertentu. Tumpeng-tumpeng tersebut lantas dinimkati bersama-sama oleh warga setempat dan wisatawan yang berkunjung ke Desa Kemiren.
Sementara itu, ada sosok yang berperan besar di balik suksesnya Festival Tumpeng Sewu. Dia adalah Abdul Karim. Dalam tempo sehari semalam, pria berusia 52 tahun ini mampu memasak 250 ekor ayam ingkung (ayam bakar) untuk keperluan selamatan Tumpeng Sewu.
Untuk memberikan cita rasa khas, Karim memasak ayam ingkung tersebut dengan kobaran api dari tungku dan bahan bakar kayu.
Ayam-ayamnya juga dijejer rapi agar bisa matang merata. ”Setiap acara Tumpeng Sewu digelar, yang bertugas membakar ayam ingkungnya saya,” ujar Abdul Karim.
Di sudut dapur yang lain, beberapa orang sibuk menyiapkan bumbu-bumbu dan mengatur penyajian tumpeng.
”Tumpeng ini simbol kebersamaan dan syukur kepada Tuhan. Setiap orang punya peran penting,” kata Karim.
Proses memasak seribu tumpeng melibatkan hampir seluruh warga desa. Mereka bekerja sama, bergotong royong, dan berbagi tugas. Ada yang mempersiapkan nasi kuning, ada yang memasak lauk-pauk, dan ada juga yang bertugas menghias tumpeng dengan berbagai hiasan tradisional.
”Festival Tumpeng Sewu bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah cara kami melestarikan tradisi dan mempererat tali persaudaraan. Setiap orang berpartisipasi, dari yang muda hingga yang tua,” ungkap Karim.
Dengan senyum puas yang terpancar di wajahnya, Karim mengamati hidangan Tumpeng Sewu yang telah disiapkan.
Bagi Karim, melihat orang-orang yang menikmati makanan yang dia persiapkan dengan penuh dedikasi bersama warga lainnya adalah kebahagiaan tersendiri. ”Ini bukan hanya tentang memasak, tapi juga tentang merawat tradisi dan kebersamaan,” pungkasnya. (rio/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries