Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Aksi Heroik Rakyat Banyuwangi Melawan VOC Belanda Diabadikan di Pintu Masuk Desa Bayu

Dedy Jumhardiyanto • Minggu, 17 Desember 2023 | 16:00 WIB
PENGINGAT: Tetenger Monumen Perang Puputan Bayu berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
PENGINGAT: Tetenger Monumen Perang Puputan Bayu berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Peristiwa heroik Perang Puputan Bayu menjadi bagian sejarah yang tak terlupakan di Banyuwangi.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, dibangun sebuah tetenger.

Tetenger yang berupa Monumen Perang Puputan Bayu tersebut berada di pintu masuk Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Lokasinya tepat di simpang tiga jalan masuk desa.

Di pintu masuk terdapat lambang Pemkab Banyuwangi dan lambang Garuda yang dilengkapi simbol padi dan kapas.

Yang menarik, pada tugu tersebut terdapat relief keris berdiri tegak di tengah lingkaran yang di atasnya terdapat lambang Garuda.

Sementara itu, pada sebelah kanan dan kiri relief Garuda terdapat dua patung. Patung yang sebelah kanan menghunus pedang.

Sedangkan patung sebelah kiri memegang busur panah. Kedua patung tersebut menggambarkan semangat pejuang Pangeran Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit.

Monumen itu dibangun sekitar tahun 2003 lalu di era Bupati Samsul Hadi. Monumen tersebut mengisahkan peperangan heroik rakyat Blambangan mengusir penjajah VOC Belanda.

Berdasar sejarah, sekitar tahun 1771–1772, VOC mengerahkan ribuan pasukan dari Semarang dan kota lain untuk menaklukkan Banyuwangi. Kala itu, Banyuwangi masih bernama Blambangan.

Konon, para pejuang Blambangan menggelar perang habis-habisan di lereng timur Gunung Raung.

VOC menemui kekalahan hebat, meski banyak pula pejuang Blambangan gugur. Lalu, Belanda mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Momen bersejarah itulah yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Jadi Banyuwangi melalui perda yang ditetapkan secara aklamasi oleh DPRD Banyuwangi tahun 1995.

”Keberadaan monumen ini untuk pengingat, agar kita dan generasi penerus bangsa ini tidak lupa dengan sejarah para pendahulunya. Bahwa di daerah Desa Bayu, Kecamatan Songgon ini, dulu menjadi menjadi medan pertempuran antara VOC Belanda dengan pejuang Blambangan,” ujar Ilham, budayawan Banyuwangi.

Puputan Bayu diambil sesuai nama desa tempat berlangsungnya perang yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak, yakni Desa Bayu.

Perang Puputan Bayu dipimpin para tokoh pejuang pemberani. Seperti Pangeran Rempeg Jogopati, Patih Jaga Lara, dan Sayu Wiwit.

Kini, Banyuwangi telah berusia 252 tahun. Peringatan perang heroik puputan bayu itu selalu digelar rutin dengan napak tilas Puputan Bayu.

Napak tilas ibarat penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kegiatan napak tilas merupakan momen mengenang sejarah. Napak tilas Puputan Bayu menjadi salah satu agenda pokok Hari Jadi Banyuwangi. Kegiatan tersebut diikuti kalangan pelajar dan warga umum.

”Kita sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, tidak boleh melupakan sejarah. Kita sebagai generasi penerus harus melanjutkan perjuangan orang-orang terdahulu. Hal-hal di masa lalu yang bagus, harus dilanjutkan dan dikembangkan agar lebih baik lagi,” pungkas Ilham. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Samsul Hadi #VOC belanda #songgon #perang #Bayu #garuda #tetenger #monumen #banyuwangi