RadarBanyuwangi.id – Tanggal 6 November tahun ini akan diperingati sebagai Hari Jadi Desa Kemiren, Banyuwangi, ke-166 tahun.
Peringatan ini sekaligus yang pertama kalinya digelar oleh pihak desa bersama tetua adat dan warga setempat. Setelah ratusan tahun hilang, Desa Kemiren Glagah, Banyuwangi, kini memiliki hari jadi.
Kepala Desa Kemiren Mohamad Arifin mengatakan, terbentuknya Desa Kemiren berawal dari ditemukannya sebuah dokumen kuno.
Penentuan tanggal hari jadi mengacu pada sebuah dokumen berupa SK Kepala Desa Kemiren kedua, yaitu Darmokarto atau Kepundung yang dibuat oleh Residen Besuki.
Surat tersebut ditulis dengan mesin ketik dan sebagian tulisan tangan. Di sana tertulis tanggal penetapan kepala desa pada 6 November 1902.
Dokumen tersebut disimpan oleh Kades Kemiren ke-7 Sutris yang memerintah pada tahun 1989 sampai 1999.
Setelah ditemukan dokumen tersebut, Arifin kemudian menggelar musyawarah desa (musdes) untuk menentukan kapan Hari Jadi Kemiren diperingati. Rapat tersebut melibatkan masyarakat dan lembaga adat.
Kades pertama dijabat oleh Marjan alias Walik yang memerintah selama 45 tahun sebelum Darmokarto.
Artinya, ada acuan tahun yang menjadi bukti dimulainya pemerintahan di Desa Kemiren, yaitu pada tahun 1857.
Akhirnya, dalam musdes tersebut disepakati Hari Jadi Kemiren ditentukan dengan tanggal SK kades kedua, yaitu pada tanggal 6 November.
Sedangkan tahunnya mengacu awal tahun kades pertama memerintah, yaitu pada 1857.
”Setelah dimusdeskan dengan masyarakat dan tokoh adat, akhirnya sepakat Hari Jadi Kemiren dimulai pada 6 November 1857,” kata Arifin.
Peringatan Hari Jadi Kemiren bagi Arifin akan menjadi titik pengingat dan pengikat masyarakat Kemiren dengan budayanya.
Pada puncak peringatan nanti, semua produk budaya dari benda hingga nonbenda seperti perabotan kuno, batik, budaya ngopi, arsitektur, tari-tarian, mocoan lontar, dan kesenian barong akan disajikan.
Peringatan Hari Jadi Kemiren juga akan dipadu dengan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Kombinasi berbagai kegiatan tersebut dirasa cukup tepat. Selain menyajikan sebuah atraksi, masyarakat bisa melihat museum yang ditampilkan melalui foto dan koleksi perabotan warga Kemiren.
Harapannya, selain memberitahu masyarakat luar tentang budaya Kemiren, generasi muda juga bisa turut bangga dengan kekayaan budaya masyarakat Oseng Kemiren yang masih lestari hingga sekarang.
”Selain melestarikan adat, output-nya bisa meningkatkan ekonomi desa dari kearifan lokal. Harapan kami, tahun depan peringatan Hari Jadi Desa Kemiren bisa lebih meriah,” tegas Arifin.
Ketua Lembaga Adat Masyarakat Using Kemiren Suhaimi menceritakan, sebelum ditemukannya dokumen tentang awal mula Desa Kemiren, banyak peneliti menanyakan hal tersebut.
Dari semua pertanyaan yang dilontarkan peneliti, hampir semua bisa dijawab. Namun, ketika membahas masalah Hari Jadi Kemiren, Suhaimi tak bisa menjawab dengan detail.
Suhaimi kemudian mulai mencari bukti yang bisa merujuk kepada awal mula Desa Kemiren. Mulai dari cerita para sesepuh desa, dokumen yang disimpan warga, hingga dokumen desa. Sampai kemudian ditemukan SK kades kedua Kemiren.
”Dari dokumen tersebut ditambah data kades pertama, akhirnya disepakati Hari Jadi Kemiren pada 6 November 1857 ketika Desa Kemiren pertama kali berdiri,” beber Suhaimi.
Suhaimi menceritakan, sebelum era Desa Kemiren, masyarakat Oseng Kemiren sebenarnya sudah ada.
Tapi mereka bersifat sesepuhan, memilih pemimpin berdasarkan siapa tokoh yang paling dituakan di tengah masyarakat.
Dulunya, imbuh Suhaimi, wilayah Kemiren memiliki luasan hingga ke Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung.
Sayangnya, tidak ada bukti otentik terkait peta desa atau dokumen resmi terkait luasan Desa Kemiren saat itu.
”Kalau dokumen kita mengacu dari data SK kades dan tahun jabatan kades pertama,” tegas kakek tujuh cucu tersebut. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin