JAWA POS RADAR BANYUWANGI – Kesempatan istimewa bakal diterima oleh para penari disabilitas tuna rungu-wicara dari Tim Tari Kampung Inklusi Banyuwangi.
Mereka bakal tampil di forum internasional ASEAN High Level Forum on Disability - Inclusive Development and Pertnership beyond 2025 (AHLF) yang rencananya digelar di Makassar besok (10/10).
Mereka bakal menampilkan tari kreasi baru dengan judul “Seret Konde”. Tari hasil ciptaan mereka itu mengangkat kisah seorang yang dipandang sebelah mata namun ternyata memiliki kemampuan dan potensi yang luar biasa.
Bupati Ipuk Fiestiandani telah menyaksikan langsung persiapan para penari difabel tersebut di aula Balai Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, Banyuwangi, pekan lalu. Tepatnya di sela kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa).
“Saya kagum dengan anak-anak semua yang begitu kreatif. Gerakan tari dan aransemen musiknya benar-benar diciptakan sendiri,” ujarnya.
Kesempatan tampil di forum internasional tersebut, imbuh Ipuk, adalah sesuatu yang berharga. Untuk itu, dia berpesan agar para penari menunjukkan performa terbaiknya.
“Kalian merupakan anak-anak terpilih yang akan mewakili daerah sekaligus menjadi duta budaya Banyuwangi. Maka siapkan diri dan berikan yang terbaik dalam penampilan kalian nanti,” pinta Ipuk.
AHLF merupakan forum tingkat tinggi tentang penyandang disabilitas yang akan berlangsung 10-12 Oktober.
Forum internasional ini akan dihadiri 200 peserta dari perwakilan Badan Sektor ASEAN, organisasi teraviliasi ASEAN, Organisasi Penyandang Disabilitas, Mitra Wicara ASEAN, dan akademisi.
Ipuk juga menyampaikan bahwa Pemkab Banyuwangi membuka beasiswa seni kerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.
“Bagi yang ingin serius untuk menekuni bidang seni, silakan dimanfaatkan,” cetusnya.
Baca Juga: Hadapi Liga 3 Jatim, Pemain Banyuwangi Putra Ada yang Digaji Rp 10 Juta Sebulan
Perlu diketahui, Kampung Inklusi Banyuwangi merupakan sebuah lembaga nonprofit yang berfokus membangun lingkungan masyarakat Banyuwangi yang ramah terhadap penyandang disabilitas dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang inklusif.
Berpusat di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kampung Inklusi melakukan gerakan melalui pendidikan, pengembangan dan pemberdayaan teman disabilitas.
Mereka mendapat kesempatan untuk tampil di forum internasional itu setelah lolos seleksi yang diadakan oleh Kementerian Sosial.
“Seleksinya waktu itu kami mengirimkan video tarian dari anak-anak. Alhamdulillah kita berhasil lolos dari puluhan yang ikut seleksi se Indonesia,” ujar Pembina Kampung Inklusi Sri Wahyuni.
Penari yang akan berangkat berjumlah 10 orang. Mereka berasal dari Sekolah Luar Biasa (SLB) tingkat SMA dan perguruan tinggi.
Mereka berkolaborasi dengan tim pemusik dalam menciptakan gerakan tarian yang akan dibawakan.
“Anak-anak ini bersama-sama dengan para pemusik menciptakan gerakan tari hanya dalam tempo empat hari. Mereka sangat totalitas dan bersemangat menjalani semua persiapan untuk tampil mewakili daerah,” katanya
Selama berlatih, lanjutnya, anak-anak mengikuti ritme musik dengan menggunakan ketukan. Sehingga tarian yang dibawakan bisa presisi mengikuti rancaknya musik yang mengalun.
“Selama ini mereka juga sudah sering tampil di acara tingkat nasional,” pungkas Sri Wahyuni. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin