Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sebut Harga Cabai Banyuwangi Dipengaruhi Stok Nasional, Dispertan Anggap Serangan Virus Hanya Isu

Ayu Lestari • Rabu, 8 November 2023 | 18:30 WIB
SIAP PETIK: Petani memanfaatkan air dari sumur bor untuk mengairi lahan tanaman cabai di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, beberapa waktu lalu.
SIAP PETIK: Petani memanfaatkan air dari sumur bor untuk mengairi lahan tanaman cabai di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

RadarBanyuwangi.id – Setelah meroket hingga mencapai Rp 70 ribu per kilogram (kg), harga cabai rawit belum sepenuhnya kembali normal.

Di Pasar Banyuwangi, misalnya, komoditas yang identik dengan rasa pedas tersebut dijual seharga Rp 59 ribu per kilogram (kg) Selasa (7/11). Padahal, pada awal Agustus lalu, harganya hanya Rp 35 ribu per kg.

Selain dampak dari cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino, beberapa pedagang mengaku naiknya harga cabai terjadi akibat adanya serangan virus sehingga mengakibatkan gagal panen.

Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Pongky Asmara mengatakan, kenaikan harga cabai segala jenis yang masih bergulir di Banyuwangi salah satunya juga dipicu harga komoditas dan kondisi stok nasional. Termasuk di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Pongky, cuaca panas ekstrem saat ini memicu penurunan produksi di beberapa kabupaten sentra penghasil cabai, seperti Blitar, Kediri, dan beberapa sentra daerah Jawa Tengah.

Akibatnya, ketersediaan stok di pasar menurun dan berimplikasi menaikkan harga secara nasional.

”Banyuwangi juga menjadi salah satu sentra cabai nasional. Hampir 80 persen produksi, baik cabai rawit maupun cabai merah besar dari Banyuwangi dipasarkan ke luar kota seperti Semarang, Surabaya, dan Bali,” ujarnya.

Pongky mengaku, hingga saat ini hasil panen petani cabai di Banyuwangi masih dalam kategori surplus. Namun karena sebagian stok masih dikirim ke luar daerah, harga cabai masih belum stabil.

Terkait kabar serangan virus yang mengakibatkan petani cabai gagal, Pongky mengaku hal tersebut masih perlu diobservasi secara teliti dan mendalam.

Virus yang menyerang cabai atau sering disebut virus kuning menyerang tanaman sejak benih ditebar di lahan atau masih dalam bentuk bibit.

”Terkait isu tersebut mungkin saja benar. Namun, dilihat dari situasi dan kondisi saat ini kemungkinan adanya virus tersebut sangat minim,” jelasnya. (tar/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#virus #harga cabai #nasional #cabai #banyuwangi #stok