Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Satu Teladan, Lebih Baik dari Seribu Nasihat 

Ali Sodiqin • Kamis, 29 September 2022 | 23:02 WIB
Nuhbatul Fakhiroh Maulidia
Nuhbatul Fakhiroh Maulidia
ADAKAH mereka yang bertanya tentang krisis moral yang dihadapi saat ini?

Tentu, tidak sedikit yang mengeluh untuk bisa bertahan mendidik dan mengajari murid-murid saat ini. Kalau bukan untuk menggugurkan kewajiban, kalau bukan formalitas, kalau bukan ingin menyambung kehidupan, tidak harap bisa berdiri di hadapan sekian banyak anak, agar tetap bisa mendidik dan mengajar di sekolah. Syukurlah, jika memang penuh landasan dasar yang sadar. Masa depan begitu dekat, bukanlah panjang. Ada harapan yang perlu diperjuangkan. Nahas, tak semua berpikir demikian. Peliknya, kalau bukan karena uang. Tak akan sudi mengajar anak orang.

Sebagian dari kita, barang kali pernah berpikir demikian. Hidup di era yang tak sama dengan masa muda kita. Menganggap bahwa sukar sekali teori dan metodologi yang diajarkan. Banyak sekali diskusi, webinar, zoominar, diklat, kelas-kelas yang bertebaran hanya untuk membahas problematika karakter anak-anak yang sedang dihadapkan. Semakin banyak istilah-istilah kesehatan mental yang menjamur, menjadikan pola pikir terkotak-kotak, terpecah, menciptakan fenomena dan analisis baru. Hanya karena ingin memasuki dunia anak didik. Keterbatasan-keterbatasan itulah yang menjadikan pemisah antara hal-hal yang absah, satu sama lainnya.

Ternyata, bukan hanya itu yang diminta. Kita tak bisa semena-mena menyalahkan kerusakan moral dan degradasi akhlak. Perlu menyadarkan diri, tentang diri, dan juga upaya apa yang telah kita lakukan hingga saat ini. Baiklah, mengikuti perkembangan zaman dengan memantau teori parenting dari berbagai sumber. Itu tidak salah. Mencontoh yang baik dan membuang yang buruk. Mencomot teori sekian dari negara ini, tokoh publik yang ini, kemudian menyontek kalimat-kalimat afirmasi dari bahasa ini, dan seterusnya.

Ternyata, inilah yang menjadi kerancuan berpikir kita selama ini. Mengambil atau meniru teori dari suatu aspek, dengan tidak sempurna. Bisakah kita membayangkan, jika kita analogikan cara berpikir ini dengan cara saat kita memasak. Kita ingin memasak suatu menu pilihan favorit kita. Karena ingin menjadikan makanan yang akan kita masak ini penuh dengan kelezatan sempurna, maka kita berusaha untuk mencari resep dan cara masak dari segala sumber yang bisa kita temukan. Baik itu dari internet, resep legendaris turun-temurun, restoran ternama, majalah, aneka tabloid. Segala bumbu dari A sampai Z, telah dirinci dan siap untuk dibeli. Tentu, jika ingin menghasilkan makanan yang super lezat, tidak hanya memanfaatkan bahan-bahan sekadarnya. Jika mahal pun, susah dijangkau, akan dicari.

Ringkasnya, saat semua bahan dipadupadankan, tentu, akan mengalami kendala saat mengolahnya. Ketidakcocokan, sering terjadi. Pisang yang terlalu matang, tak serasi saat diolah menjadi keripik. Susu yang terlampau basi, ternyata lezat sekali jika dicampurkan menjadi bahan minuman, dan masih banyak sekali bahan makanan dan minuman yang ternyata tidak sesuai dengan standar terbaiknya, cocok untuk lidah dan indra perasa sebagian orang.

Kembali lagi, pada proses mendidik anak-anak. Sama halnya demikian, terkadang cara yang baik di mata orang, tidak selamanya menjadi sempurna di mata anak kita. Teori yang dilakukan orang lain, yang dijelaskan narasumber materi parenting, ternyata tidak sesuai dalam kehidupan dan ajaran kita. Atau bahkan, apa yang telah diajarkan oleh orang tua kita sekalian, justru lebih ampuh. Kita tidak pernah tahu, setiap orang mempunyai fase dan cara yang berbeda. Menuntut kesempurnaan tak selalu buruk, menjadikan anak didik lebih baik tentulah harapan setiap orang. Lalu, apa yang perlu disiapkan untuk menjadi bekal?

Ada satu pepatah mengatakan: ”satu teladan, lebih baik dari seribu nasihat”. Iya, suatu keteladanan. Jika ada yang lebih bijak dari tulisan dan perkataan, barangkali itu adalah sebuah tindakan.

Suatu hari, ada seorang ibu yang bercerita tentang tingkah laku anaknya kepada gurunya. Beliau berkeluh tentang perubahan sikap yang dialami anaknya di sekolah. Sang anak kerap sekali berbohong, ia ingin memperlihatkan apa yang sedang dimiliki, dan beberapa keluhan, yang mungkin baru terasa akhir-akhir ini. Beliau mengatakan, bahwa hal ini tak pernah dialaminya sebelum masuk di jenjang sekolah saat ini.

Berpanjang lebar, sang ibu bercerita. Ternyata, ada yang menjadi benang merah di antara keduanya. Selang berpuluh menit bercerita, beliau sering tidak sadar ada kebohongan yang sengaja dikatakan untuk melindungi sang anak, ada pernyataan yang harus ditunjukkan pada percakapan untuk menutupi keadaan, dan beberapa pernyataan yang sesungguhnya sangat menjelaskan, bahwa buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Ini hanya kisah, ada banyak sekali tokoh untuk dijadikan permisalan.

Demikian. Mendidik ternyata bukan semudah menuangkan air dalam gelas. Berproses untuk menjadikan anak didik lebih baik, tidak bisa hanya dilalui sebagian waktu dalam hidup kita. Kalau kita menyadari, bahwa mereka adalah anugerah terbaik, maka jadikan proses kembang tumbuhnya adalah bagian dari kehidupan kita sepanjang hayat. Mendidik sedari dini, hingga belia lalu lepas landas saat dewasa. Tidak. Tidak semudah itu ternyata.

Memang, sama sekali tidak ada yang sempurna dalam kisah perjalanan mendidik anak atau murid kita semua. Tapi, menjadikan pribadi semakin lebih baik, menyadarkan diri untuk tetap jadi teladan bagi mereka, bukanlah hal yang sulit jika kita berusaha setelah membaca tulisan ini. Kita semua, diciptakan untuk beribadah, dan mendidik adalah salah satu ibadah terbaik, untuk mewujudkan khairu ummah (baca: umat terbaik). Jika fondasi tertanam kuat dalam lingkup kecil. Dimulai dari muhasabah diri, lalu masyarakat kecil dalam tatanan keluarga, maka semoga akan menciptakan pemimpin, serta generasi dengan moralitas dan kualitas terbaik di masa yang akan datang. (*)

*) Guru di MTsN 1Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #Perspektif #artikel #refleksi #opini