Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengapa Cerita One Piece Terasa Mirip Realita Indonesia, Teori Cocokologi Nakama?

Agung Sedana • Senin, 4 Agustus 2025 | 19:16 WIB
Ilustrasi seorang pria mengibarkan bendera merah putih bersama bendera one piece
Ilustrasi seorang pria mengibarkan bendera merah putih bersama bendera one piece

RADARBANYUWANGI.ID - Belakangan ini, One Piece bukan hanya jadi perbincangan karena alur epik dan kekuatan buah iblis, tapi juga karena polemiknya di Indonesia.

Sejumlah warganet menyoroti penggunaan bendera bajak laut Topi Jerami yang dianggap menyerupai simbol terlarang. Beberapa aparat bahkan mengimbau agar masyarakat tidak memasangnya menjelang perayaan Kemerdekaan Indonesia ini.

Meski belum ada aturan pelarangan resmi, isu ini berkembang liar, hingga membuat sebagian penggemar merasa resah.

Di tengah kontroversi ini, muncul pertanyaan baru. Mengapa cerita fiksi dari Jepang ini begitu kuat resonansinya di Indonesia?

 

Padahal sebelumnya, Indonesia sempat dikaitkan dengan negeri Konoha di anime Naruto. Di mana urutan Hokage di Naruto, mirip persis dengan Presiden Indonesia. Bahkan hingga latar belakangnya pun mirip.

 

Ada apa dengan One Piece?

Semakin dalam mengikuti kisah dalam One Piece, semakin sulit rasanya mengabaikan kemiripan antara dunia fiksi ciptaan Eiichiro Oda dan realitas di sekitar.

Pulau-pulau yang diambil alih atas nama perdamaian global, masyarakat adat yang disingkirkan secara perlahan, sejarah yang sengaja dikaburkan, hingga elit penguasa yang menyusun definisi keadilan menurut versinya sendiri, semuanya terasa akrab.

Apakah ini sekadar teori cocokologi dari para penggemar? Atau justru pantulan tak langsung dari pola dunia nyata yang terekam lewat kisah-kisah fiksi ini?

Berikut rangkuman teori liar dari para nakama yang telah dirangkum dari berbagai sumber di media sosial.

Dominasi Donquixote Doflamingo

Dalam semesta One Piece, Donquixote Doflamingo adalah simbol sempurna dari kekuasaan yang korup, mematikan, dan terselubung rapi di balik senyuman politik dan legitimasi palsu.

Ia bukan hanya seorang bajak laut, tapi juga mantan Tenryuubito, yakni kaum elit langit yang memiliki kekuasaan absolut atas hidup dan mati rakyat biasa.

Dressrosa, dalam cerita, adalah pulau yang tampak damai di permukaan. Indah, tertata, penuh dengan atraksi yang memikat turis. Tapi semua itu hanyalah topeng.

Doflamingo menguasai Dressrosa dengan cara kamuflase. Menciptakan boneka kekuasaan untuk memanipulasi citra, dan menyelimuti semua penderitaan rakyatnya di balik ilusi perdamaian dan pertunjukan.

Menurut teori netizen, di Indonesia saat ini banyak golongan Donquixote Doflamingo berdasi rapi di ruang-ruang kekuasaan. Mereka punya akses terhadap izin lahan, tambang, dan proyek strategis.

Netizen mengkritik Donquixote Doflamingo berdasi ini membungkus bisnisnya dengan istilah pengembangan, ekowisata, atau transisi energi, padahal di baliknya ada penderitaan rakyat kecil.

Konflik Wano, Negeri para Naga

Sementara itu, Wano menggambarkan negeri tertutup yang awalnya mandiri, penuh kebanggaan budaya dan kekayaan alam.

Namun semuanya berubah saat rezim Orochi dan Kaido berkuasa. Wano dijarah secara sistematis.

Gunung-gunungnya dibor untuk bahan senjata, sungai-sungainya tercemar limbah, dan rakyatnya dipaksa makan sisa makanan beracun.

Dunia luar tidak tahu, karena Wano memilih menutup diri dan mengurung rasa malu dan penderitaannya.

Lagi-lagi netizen mengaitkan arc Wano ini dengan situasi di kawasan timur Indonesia yang jarang masuk berita nasional.

Misalnya saja di pulau Komodo, pulau yang mirip dengan Wano yang identik dengan para naga.

Masyarakat Pulau Komodo juga memiliki adat, sejarah, dan ikatan spiritual dengan alam. Tapi diklaim oleh netizen, semua itu dirusak atas nama pembangunan.

Hutan-hutan dibuka, lahan dikelola pihak luar, laut dikelilingi properti wisata eksklusif. Di luar sana, Indonesia terlihat ramah-tamah dan penuh senyum untuk turis. Tapi di dalam, ada ratusan orang yang kehilangan hak dan suaranya sendiri.

Demikian dua contoh teori dari netizen yang telah dirangkum. Apakah ini hanya "Cocokologi" semata atau memang Eiichiro Oda bisa meramalkan kejadian lewat cerita One Piece?

 

Editor : Agung Sedana
#one piece