Misteri Saat Gajah Mungkur Surut: Makam Kuno Puluhan Tahun Terendam Mulai Tampak

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:00 WIB
Nisan makam kuno muncul ke permukaan wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri menyusul menyusutnya Waduk Gajah Mungkur, Senin (7/9/2026). (M.IHSAN/RADAR SOLO)
Nisan makam kuno muncul ke permukaan wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri menyusul menyusutnya Waduk Gajah Mungkur, Senin (7/9/2026). (M.IHSAN/RADAR SOLO)

RADAR BANYUWANGI – Surutnya air Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Jawa Tengah, kembali membuka jejak masa lalu. Kompleks makam kuno yang selama puluhan tahun berada di dasar waduk mulai bermunculan, terutama di wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro. Fenomena tersebut merupakan kejadian tahunan yang biasanya muncul ketika musim kemarau tiba.

Sebagian struktur nisan dan bangunan makam masih terlihat cukup utuh. Namun, tidak sedikit bagian makam yang telah terkikis setelah puluhan tahun terendam air waduk.

Kemunculan makam kuno itu menjadi pemandangan tersendiri bagi warga sekitar. Sebab, kompleks tersebut merupakan bagian dari kawasan permukiman lama yang telah ditinggalkan ketika pembangunan WGM berlangsung.

Belum Semua Makam Terlihat

Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan, makam-makam kuno di kawasan tersebut memang biasanya mulai terlihat ketika volume air WGM menyusut pada musim kemarau.

Namun, kondisi tahun ini belum membuat seluruh kompleks makam muncul ke permukaan.

“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi baru sebagian, karena masih ada air,” ujar Soemardjono, Senin (7/9/2026).

Menurut dia, permukaan WGM saat ini masih relatif tinggi. Kondisi tersebut tidak lepas dari tingginya debit air setelah musim penghujan sebelumnya.

“Penghujan kemarin kan membuat debit waduk cukup banyak. Jadi saat ini masih ada airnya,” imbuhnya.

Dengan kondisi tersebut, bagian kompleks makam yang berada lebih rendah masih tertutup genangan.

Fenomena Tahunan Saat Kemarau

Munculnya makam kuno bukan fenomena baru bagi masyarakat Wuryantoro.

Setiap musim kemarau, ketika volume air waduk turun, bagian-bagian tertentu dari kawasan yang sebelumnya terendam kembali terlihat. Salah satunya adalah kompleks pemakaman kuno.

Fenomena itu sekaligus memperlihatkan perubahan lanskap kawasan yang terjadi setelah pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Ketika permukaan air menyusut, jejak permukiman lama seolah kembali muncul ke permukaan. Nisan dan struktur makam menjadi penanda bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebelum berubah menjadi wilayah genangan waduk.

Ada Sebelum Waduk Gajah Mungkur Dibangun

Secara historis, kompleks makam tersebut telah ada jauh sebelum proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur direalisasikan.

Pembangunan waduk kemudian mengubah wajah kawasan secara besar-besaran. Permukiman masyarakat yang berada di wilayah terdampak harus dipindahkan melalui program bedol desa maupun transmigrasi.

Migrasi massal itu menjadi bagian dari proses pembangunan WGM yang kemudian menggenangi kawasan permukiman lama.

Kini, puluhan tahun setelah kawasan tersebut berada di bawah air, makam-makam kuno itu sesekali kembali terlihat.

Jejak Masa Lalu di Dasar Waduk

Kemunculan kompleks makam kuno di Wuryantoro bukan sekadar fenomena akibat turunnya permukaan air.

Di balik nisan yang kembali tampak, tersimpan jejak sejarah masyarakat yang pernah hidup di kawasan tersebut sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Setiap kemarau, ketika air WGM menyusut, sebagian jejak itu kembali terlihat. Namun ketika musim penghujan datang dan debit waduk meningkat, kawasan tersebut kembali tertutup air.

Untuk tahun ini, belum seluruh kompleks makam dapat terlihat karena permukaan Waduk Gajah Mungkur masih cukup tinggi.

Fenomena tersebut membuat surutnya WGM setiap musim kemarau menjadi semacam jendela sementara untuk melihat kembali kawasan lama yang telah puluhan tahun berada di dasar waduk. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Solo
Waduk Gajah Mungkur makam kuno WGM Wonogiri Wuryantoro bedol desa