RADAR BANYUWANGI – Kawah Ijen menghadapi situasi darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api yang merambat dari kawasan Perkebunan Pasewaran hingga Gunung Merapi Ungup-Ungup kini telah mendekati Pondok Bunder, bahkan lidah api terpantau hanya sekitar 20 meter dari bibir jalur pendakian utama. Seluruh aktivitas wisata dan pendakian Kawah Ijen pun ditutup total sejak 4 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Penutupan menjadi langkah pengamanan setelah kebakaran diperkirakan telah menghanguskan sekitar 20 hektare kawasan cagar alam dan hutan lindung. Tidak ada korban dalam kejadian tersebut karena jalur pendakian sedang kosong, bertepatan dengan jadwal penutupan berkala program Ijen Rijik.
Namun, ancaman belum berakhir. Medan terjal dan licin membuat mobilisasi air serta peralatan pemadam menjadi sulit. Tim gabungan yang bersiaga di Pos Paltuding kini mengandalkan pemadaman manual, termasuk metode gebyok dan pembuatan sekat bakar, untuk membatasi pergerakan api.
Api Merambat dari Bawah Ijen
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Rabu malam (2/9) di kawasan bawah Ijen, tepatnya Perkebunan Pasewaran. Dari titik tersebut, api merambat menuju kawasan Gunung Merapi Ungup-Ungup.
Kondisi vegetasi selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang mempercepat penjalaran. Semak, ilalang, dan dedaunan yang mengering menjadi bahan bakar alami yang mudah tersulut.
Situasi semakin sulit ketika angin kencang berembus di kawasan dataran tinggi. Bara api dapat berpindah dan memicu titik kebakaran baru di area sekitarnya.
Dari hasil pantauan visual darurat, luasan kawasan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare. Angka tersebut masih berupa estimasi karena proses pemetaan dan pengukuran luasan kebakaran terkendala medan serta titik api yang terus bergerak.
Pondok Bunder Jadi Titik Kritis
Pergerakan api kini memasuki kawasan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Pondok Bunder menjadi salah satu titik kritis karena berada di jalur utama menuju Kawah Ijen sekaligus dikenal sebagai lokasi penimbangan belerang terakhir.
Lidah api terpantau hanya sekitar 20 meter dari bibir jalur pendakian. Kondisi itu membuat risiko terhadap aktivitas manusia di jalur pendakian menjadi semakin tinggi.
Karena alasan keselamatan, seluruh aktivitas pendakian dan wisata ditutup total mulai 4 September 2026. Tidak ada kepastian kapan kawasan tersebut akan kembali dibuka.
Keputusan pembukaan kembali nantinya bergantung pada kondisi kebakaran dan hasil evaluasi keselamatan kawasan.
Pemadaman Terhambat Medan
Tim gabungan saat ini dipusatkan di Posko Paltuding. Unsur yang terlibat meliputi BPBD Banyuwangi, BPBD Bondowoso, BKSDA, Perhutani, relawan, serta komunitas penambang lokal.
Mereka menghadapi tantangan medan yang tidak ringan. Sejumlah titik api berada di kawasan lereng dengan kontur terjal dan licin. Kondisi tersebut menyulitkan kendaraan maupun pasokan air untuk mendekati lokasi kebakaran.
Karena akses terbatas, petugas harus mengoptimalkan metode pemadaman manual. Metode gebyok digunakan untuk memukul dan memadamkan bagian vegetasi yang terbakar, sedangkan sekat bakar dibuat untuk menghambat api agar tidak terus merambat ke kawasan lain.
Strategi tersebut menjadi penting untuk mengendalikan api sembari menunggu kondisi yang memungkinkan bagi penanganan lebih lanjut.
Jalur Kosong, Korban Nihil
Di tengah situasi darurat tersebut, tidak ada laporan korban wisatawan maupun pendaki. Jalur pendakian sedang kosong karena Kawah Ijen memang bertepatan dengan jadwal penutupan berkala untuk program Ijen Rijik.
Kondisi itu menjadi faktor penting dalam mencegah jatuhnya korban ketika api bergerak mendekati jalur pendakian.
Meski demikian, ancaman terhadap kawasan wisata dan ekosistem Ijen masih serius. Api telah bergerak dari kawasan bawah menuju kawasan yang lebih tinggi dan kini mendekati salah satu titik penting jalur pendakian.
Untuk sementara, Kawah Ijen bukan sekadar ditutup untuk wisata. Kawasan tersebut berada dalam situasi darurat karhutla, dengan keselamatan manusia dan pengendalian api menjadi prioritas utama hingga kondisi benar-benar aman. (*)
Editor : Ali Sodiqin