RADAR BANYUWANGI – Kabar baik datang dari 35 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menjalani rawat inap setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Rabu (2/9) pagi, seluruh pasien di RS Siti Hajar berada dalam kondisi stabil dan sebagian besar diperkirakan sudah bisa pulang hari ini.
Keluhan yang masih dirasakan para santri relatif ringan. Nyeri perut menjadi keluhan paling dominan, disusul sedikit pusing. Tim medis memastikan tidak ada pasien yang kondisinya semakin memburuk setelah mendapatkan penanganan dokter spesialis.
Direktur Utama RS Siti Hajar Sidoarjo dr. Iqbal Faizin, M.Kes, AIFO-K, mengatakan kondisi tersebut berdasarkan pemantauan hingga Rabu pagi.
“Ya, per hari ini ada 35 pasien yang dirawat inap di RS Siti Hajar Sidoarjo. Alhamdulillah dari ke-35 ini posisinya stabil, yang paling banyak keluhannya masih nyeri perut dan sedikit pusing,” ujar dr. Iqbal kepada JawaPos.com, Rabu (2/9).
84 Pasien Sudah Mendapat Penanganan
Data RS Siti Hajar per pukul 09.10 WIB mencatat sebanyak 84 pasien telah mendapatkan penanganan medis.
Dari jumlah tersebut, 35 pasien menjalani rawat inap, sedangkan 49 lainnya sudah berstatus rawat jalan.
Para pasien yang masih dirawat mendapatkan pemantauan dokter spesialis. Penanganan disesuaikan dengan usia serta keluhan yang dialami masing-masing santri.
Dokter spesialis anak menangani pasien sesuai kategori usia, sementara pasien yang membutuhkan penanganan penyakit dalam ditangani dokter spesialis penyakit dalam.
“Dari analisa kami yang sudah ditangani oleh dokter spesialis anak dan penyakit dalam, rencananya akan pulang hari ini atau besok. Jadi tidak ada yang status kesehatannya lebih buruk lagi, insyaallah stabil semua,” jelasnya.
Mayoritas Bisa Pulang
Kondisi stabil membuat sebagian besar dari 35 santri yang menjalani rawat inap diproyeksikan meninggalkan rumah sakit pada Rabu (2/9).
Meski demikian, dokter tidak serta-merta memulangkan seluruh pasien secara bersamaan. Sejumlah santri masih membutuhkan observasi untuk memastikan kondisi mereka benar-benar aman sebelum diperbolehkan pulang.
“Iya, sebagian besar pulang hari ini, sebagian kecil kita perlu observasi lebih lanjut, ya,” kata dr. Iqbal.
Keputusan pemulangan tetap berdasarkan hasil pemeriksaan dan perkembangan kondisi masing-masing pasien.
Satu Kamar Diisi 3–4 Santri
Lonjakan pasien membuat RS Siti Hajar menerapkan pola perawatan khusus. Para santri ditempatkan di ruang VIP, tetapi tidak menggunakan pola satu pasien satu kamar.
Dalam kondisi tersebut, satu kamar ditempati sekitar tiga hingga empat pasien. Pengaturan itu dilakukan karena banyaknya pasien yang membutuhkan pelayanan dalam waktu bersamaan.
Meski demikian, penanganan medis tetap berada di bawah pemantauan dokter spesialis.
“Ya, sesuai keluhan yang muncul. Namun, kami sudah tempatkan di ruang VIP, tetapi tidak satu orang satu kamar. Satu orang bisa 3–4 orang karena memang keadaan luar biasa,” jelas dr. Iqbal.
RS Masih Siap Terima Pasien Tambahan
Di tengah proses pemulihan para santri, RS Siti Hajar juga masih menyiapkan kapasitas apabila ada pasien tambahan dari Ponpes Manba’ul Hikam.
Sebelumnya, terdapat informasi mengenai sembilan santri yang disebut akan dibawa ke rumah sakit tersebut. Namun, hingga sekitar pukul 10.00 WIB, pihak rumah sakit belum menerima konfirmasi kedatangan mereka.
“Kami belum menerima itu. Seandainya itu dibawa, kami insyaallah siapkan, ya, karena masih muat kami,” tutur dr. Iqbal.
Kasus dugaan keracunan ini bermula setelah ratusan santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9) siang.
Para santri kemudian mengalami sejumlah keluhan kesehatan dan sebagian dibawa ke beberapa fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
Hingga pembaruan terakhir di RS Siti Hajar, tidak ada pasien yang kondisinya dilaporkan memburuk. Sebanyak 35 santri masih menjalani rawat inap, sementara 49 lainnya telah menjalani rawat jalan.
Sebagian besar pasien rawat inap diharapkan dapat pulang setelah dokter memastikan kondisi mereka stabil. Sementara pasien yang masih memerlukan pemantauan akan tetap menjalani observasi hingga dinyatakan cukup aman untuk meninggalkan rumah sakit. (*)
Editor : Ali Sodiqin