RADAR BANYUWANGI - Masyarakat di Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak El Nino kategori kuat. Fenomena iklim tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dari kondisi normal dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul mengatakan, indikasi El Nino kuat terlihat dari anomali suhu muka laut di kawasan Samudera Pasifik timur atau Nino 3.4 yang berada di atas 2 derajat Celsius.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pola curah hujan di Indonesia. Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang perlu mengantisipasi berkurangnya hujan dan bertambah panjangnya periode tanpa hujan.
“Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih kering,” ujar Linda, Kamis (13/8), dikutip Antara.
Menurut dia, kemarau yang lebih kering dapat memicu sejumlah dampak. Di antaranya hari tanpa hujan yang semakin panjang, meningkatnya potensi kekeringan, hingga berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian dan masyarakat.
Situasi tersebut juga berpotensi meningkatkan ancaman karhutla. Vegetasi dan lahan yang lebih kering akan lebih mudah terbakar, terutama jika terdapat sumber api dari aktivitas manusia.
Selain pengaruh El Nino, kondisi atmosfer-laut di Samudera Hindia turut menjadi perhatian. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat berada pada fase positif dengan nilai sekitar 0,63.
Kondisi itu mengindikasikan suplai uap air cenderung bergerak dari wilayah Indonesia bagian barat menuju pesisir timur Afrika. Kombinasi El Nino kuat dan IOD positif tersebut dapat membuat musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan musim kemarau di wilayah tersebut masih akan berlangsung hingga awal 2027. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh aktivitas yang berpotensi memunculkan api.
Salah satu yang perlu dihindari adalah membuang puntung rokok sembarangan. Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah, terutama di area yang kondisi vegetasinya sudah kering.
Aktivitas pembersihan lahan maupun kebun dengan metode pembakaran juga sebaiknya dihentikan. Cara tersebut berisiko membuat api sulit dikendalikan ketika kondisi angin dan lahan mendukung penyebaran api.
“Tidak melakukan segala aktivitas yang mampu memicu terjadinya karhutla, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah,” kata Linda.
Selain mencegah kebakaran, masyarakat juga diminta lebih bijak dalam menggunakan air. Penghematan perlu dilakukan untuk mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air selama periode kemarau yang lebih panjang dan kering.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara