RADARBANYUWANGI.ID – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Sempu sejak Kamis malam (25/6) kembali memicu banjir luapan di Dusun Tlogosari, Desa Jambewangi, Banyuwangi. Sungai Suromenojo yang tak mampu menampung debit air meluap pada Jumat (26/6) pagi, merendam sedikitnya tujuh rumah warga dan memaksa penghuni menyelamatkan barang-barang berharga sebelum genangan semakin tinggi.
Air mulai meluap sejak menjelang subuh dan mencapai puncaknya sekitar pukul 06.00 WIB. Air berwarna cokelat pekat masuk ke permukiman dengan ketinggian hingga betis orang dewasa, membuat aktivitas warga lumpuh seketika.
"Airnya tiba-tiba datang dari arah utara dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah," ujar Rofiq, 37, salah seorang warga terdampak.
Begitu mengetahui air mulai menggenangi rumahnya, Rofiq bersama keluarganya segera mengevakuasi berbagai barang agar tidak rusak. Kasur, peralatan elektronik, lemari, hingga sepeda motor dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.
"Pertama langsung menaikkan kasur. Sepeda motor juga langsung saya amankan," katanya.
Meski sempat membuat panik warga, banjir kali ini tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 07.00 WIB, debit air mulai berangsur surut hingga genangan menghilang. Namun, menurut warga, banjir kali ini menjadi yang paling parah dibanding kejadian-kejadian sebelumnya.
"Ini yang paling parah dibanding sebelum-sebelumnya, tapi untungnya cepat surut. Sekitar setengah jam air sudah hilang," ungkap Rofiq.
Usai air surut, warga Dusun Tlogosari langsung bergotong royong membersihkan lumpur dan sampah yang terbawa masuk ke dalam rumah maupun halaman. Mereka berupaya membersihkan endapan lumpur sebelum mengering dan semakin sulit diangkat.
"Kalau tidak dibersihkan langsung, kotorannya mengering dan susah dibersihkan," tambahnya.
Tak lama kemudian, petugas dari Kecamatan Sempu turun ke lokasi untuk meninjau dampak banjir sekaligus melakukan pendataan dan mencari penyebab utama luapan sungai.
Kepala Desa Jambewangi, Maskur, mengatakan banjir yang terjadi murni disebabkan meluapnya Sungai Suromenojo. Menurutnya, persoalan utama berada pada kapasitas aliran sungai yang terbatas serta gorong-gorong jembatan yang terlalu sempit sehingga menghambat aliran air saat hujan deras.
"Daya tampung sungai di lokasi itu memang kecil. Ditambah lagi ada sumbatan di gorong-gorong jembatan karena ukurannya terlalu sempit," jelasnya.
Maskur mengungkapkan pemerintah desa sebenarnya telah berulang kali mengusulkan pelebaran gorong-gorong kepada instansi terkait. Namun hingga kini usulan tersebut belum juga direalisasikan, sehingga banjir masih berulang setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
"Kami sudah beberapa kali mengajukan pelebaran gorong-gorong, tetapi sampai sekarang belum terealisasi. Akibatnya, kalau hujan deras cukup lama, kejadian seperti ini terus berulang. Kami berharap segera ada penanganan agar warga tidak lagi waswas setiap musim hujan," pungkasnya.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya peningkatan kapasitas drainase dan normalisasi aliran sungai di kawasan rawan banjir agar luapan air tidak terus mengancam permukiman warga setiap kali curah hujan meningkat. (sas)
Editor : Ali Sodiqin