Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Remaja SMK di Muncar Banyuwangi Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Tertekan Konflik Keluarga dan Broken Home

Ali Sodiqin • Kamis, 16 April 2026 | 13:15 WIB
BUNUH DIRI: Pensiunan polisi di Jembrana nekat gantung diri
BUNUH DIRI: Ilustrasi pelajar di Muncar Banyuwangi nekat gantung diri

RADARBANYUWANGI.ID – Suasana tenang Kamis pagi (16/4/2026) di Dusun Kedungdandang, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, mendadak berubah menjadi kepanikan setelah seorang remaja ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon waru, hanya sekitar 10 meter dari rumahnya.

Korban diketahui berinisial MBN, 17 tahun, seorang pelajar kelas XI jurusan Teknik Sepeda Motor di salah satu SMK di Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Peristiwa tragis yang mengguncang warga itu pertama kali diketahui oleh nenek korban, Katini, 60, sekitar pukul 07.00 WIB.

Saat hendak menuju bagian belakang rumah, Katini sontak dibuat histeris ketika mendapati cucunya sudah dalam posisi tergantung menggunakan tali tampar pada pohon waru.

Teriakan minta tolong langsung memecah pagi di lingkungan permukiman tersebut.

Warga sekitar yang mendengar jeritan itu, termasuk Ketua RT setempat Kasman, 51, segera berlarian menuju lokasi kejadian.

“Warga langsung berupaya menolong dengan memotong tali menggunakan pisau dan membawa korban ke dalam rumah,” ujar salah seorang warga di lokasi.

Namun nahas, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.


Polisi Pastikan Tidak Ada Tanda Kekerasan

Petugas medis dari Puskesmas Tapanrejo yang dipimpin dr Aprin Dwi Ristanto langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan luar terhadap jasad korban.

Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan bekas jeratan kuat pada bagian leher yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.

Kapolsek Muncar AKP Mujiono menyatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban.

“Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” tegasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar pukul 04.30 WIB, atau beberapa jam sebelum akhirnya ditemukan oleh neneknya.

Polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan barang bukti berupa tali tampar yang digunakan korban.


Dugaan Kuat Dipicu Konflik Keluarga, Orang Tua Pisah Ranjang

Kasus ini semakin menyita perhatian warga setelah muncul dugaan kuat bahwa korban mengalami tekanan psikologis akibat persoalan keluarga.

Dari keterangan saksi dan hasil pendalaman polisi, korban selama ini dikenal sebagai pribadi yang pendiam, tertutup, dan jarang bercerita.

Pihak kepolisian menduga kondisi mental korban terguncang akibat konflik rumah tangga orang tuanya.

“Dugaan motif gantung diri diduga karena masalah keluarga atau broken home,” terang AKP Mujiono.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kedua orang tua korban, Masduki (51) dan Mukotimah (42), telah pisah ranjang sejak menjelang Lebaran bulan lalu.

Keduanya bahkan disebut tengah bersiap menempuh proses perceraian.

Selama ini korban tinggal bersama ayah dan neneknya di Dusun Kedungdandang, sementara ibunya menetap di Desa Kedungringin.

Situasi keluarga yang tidak harmonis itu diduga menjadi tekanan berat bagi korban yang masih berstatus pelajar.

Angle inilah yang kini menjadi perhatian utama dalam penyelidikan, meski polisi memastikan tidak ada unsur pidana lain dalam peristiwa tersebut.


Keluarga Tolak Autopsi, Jenazah Langsung Diserahkan untuk Dimakamkan

Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan selesai, pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah.

Keluarga juga memutuskan menolak autopsi lanjutan dan tidak akan menempuh jalur hukum.

“Pihak keluarga, khususnya ayah korban, telah menerima kejadian ini sebagai musibah. Mereka menolak dilakukan otopsi lebih lanjut dan tidak menuntut secara hukum, yang dituangkan dalam surat pernyataan resmi,” ujar AKP Mujiono.

Jenazah korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan di pemakaman umum setempat.

Kepergian MBN meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar dan rekan-rekan sekolahnya.


Tragedi yang Menjadi Alarm Konflik Keluarga dan Kesehatan Mental Remaja

Peristiwa ini menjadi pengingat serius mengenai dampak konflik keluarga terhadap kondisi psikologis remaja.

Di usia sekolah yang seharusnya menjadi masa pembentukan masa depan, tekanan emosional akibat perpecahan rumah tangga sering kali menjadi beban yang tidak terlihat.

Warga sekitar berharap tragedi ini menjadi perhatian bersama agar lingkungan keluarga dan sosial lebih peka terhadap perubahan perilaku anak-anak remaja, terutama yang cenderung menutup diri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#remaja gantung diri Banyuwangi #Muncar Banyuwangi hari ini #konflik keluarga remaja #berita duka Banyuwangi #pelajar SMK meninggal