Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

118 Siswa SMAN 2 Kudus Keracunan MBG, 46 Dirawat Inap: Operasional SPPG Purwosari Dihentikan Sementara

Ali Sodiqin • Senin, 2 Februari 2026 | 08:17 WIB
DARURAT: Salah satu siswa SMAN 2 Kudus yang diduga keracunan MBG digotong dan dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.
DARURAT: Salah satu siswa SMAN 2 Kudus yang diduga keracunan MBG digotong dan dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.

RADARBANYUWANGI.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu kasus keracunan massal.

Kali ini, sebanyak 118 pelajar SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG yang dibagikan pada Rabu (28/1).

Dari jumlah tersebut, 46 siswa harus menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan.

Insiden ini langsung menyita perhatian publik karena menambah panjang daftar kasus dugaan keracunan MBG sepanjang Januari 2026.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus pun bergerak cepat dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari Kudus, dapur yang menyuplai makanan ke sekolah tersebut.

Kronologi Keracunan: Usai Makan Garang Asem dan Soto Ayam

Keracunan massal di SMAN 2 Kudus bermula dari pembagian MBG yang dilakukan sekitar pukul 11.45 WIB.

Ribuan ompreng makanan sebelumnya diantar pihak SPPG Purwosari Kudus ke sekolah sekitar pukul 11.15 WIB.

Salah satu guru SMAN 2 Kudus yang enggan disebutkan namanya, Wi, mengaku turut mengonsumsi MBG hari itu. Menu yang ia santap adalah soto ayam.

“Siangnya tidak ada keluhan. Tapi sekitar jam dua dini hari saya mulai diare hebat dan perut terasa sangat sakit,” tutur Wi.

Awalnya, Wi mengira gangguan pencernaan tersebut disebabkan makanan lain yang ia konsumsi malam harinya. Namun keesokan paginya, dugaan itu terbantahkan.

Banyak siswa dan guru mengeluhkan keluhan serupa, mulai dari diare, mual, pusing, hingga pingsan.

“Di kelas, anak-anak bolak-balik ke kamar mandi sampai antre. Ada yang delapan sampai sepuluh kali. Wajahnya pucat, lemas, bahkan ada yang pingsan,” ungkap Wi.

Puluhan Siswa Dilarikan ke Rumah Sakit

Situasi di sekolah semakin darurat. Sejumlah siswa sempat mendapatkan penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan puskesmas terdekat.

Namun karena jumlah korban terus bertambah, pihak sekolah meminta bantuan ambulans.

“Yang dirujuk ke rumah sakit sekitar 130 siswa, dan yang dirawat inap sampai sekarang ada 52 orang,” kata Wi sambil merujuk data terakhir pihak sekolah.

Dari total 1.178 siswa SMAN 2 Kudus, tercatat 521 siswa dan 24 guru mengalami gejala dugaan keracunan. Kondisi ini membuat sebagian wali murid menyatakan penolakan terhadap MBG.

“Ada wali murid yang menolak MBG. Bahkan ada usulan agar penyedia SPPG dipindah,” imbuh Wi.

Kesaksian Siswa: Sudah Sakit Sejak Menu Garang Asem

Salah satu siswa, Tika, masih menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengaku trauma dengan program MBG.

“Masih sakit perut, pusing, sama mual,” ujarnya lirih saat dihubungi melalui telepon orang tuanya.

Berbeda dengan mayoritas korban, Tika mengaku sudah mengalami diare sejak Selasa (27/1) setelah menyantap menu garang asem MBG.

“Saya pulang sekolah langsung diare. Waktu menu soto ayam saya tidak ikut makan karena sudah sakit,” jelasnya.

Trauma pun tak terhindarkan.
“Kami takut. Inginnya lokasi MBG-nya pindah. Besok-besok mungkin tidak makan, saya pulang saja,” ucap Tika.

Dinkes Kudus Ambil Sampel, Operasional SPPG Dihentikan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, memastikan pihaknya telah melakukan pemeriksaan awal ke dapur SPPG Purwosari Kudus.

Tim Dinkes juga mengambil sampel bahan makanan untuk diuji di laboratorium. Meski belum merinci jenis sampel, Mustiko menegaskan operasional SPPG dihentikan sementara.

Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut langkah ini sebagai bagian dari penanganan cepat.

“Dugaan awal karena ayam suwir agak berbau. Sudah dilakukan evaluasi dapur dan perbaikan sistem sanitasi. Produksi akan dilanjutkan setelah hasil pemeriksaan dinyatakan aman,” ujarnya.

Menu MBG yang dikonsumsi pada Rabu (28/1) antara lain nasi, ayam suwir, kuah soto, kecambah rebus, tempe goreng, dan buah kelengkeng.

Pengelola SPPG Minta Maaf dan Siap Bertanggung Jawab

Kepala SPPG Purwosari Kudus, Nasihul Umam, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menegaskan siap bertanggung jawab penuh, termasuk mengganti biaya pengobatan siswa.

“Kami mohon maaf dan tetap berkomitmen bertanggung jawab penuh. Kami minta masyarakat bersabar menunggu hasil laboratorium,” kata Nasihul.

SPPG Purwosari saat ini melayani 13 sekolah dengan total 2.173 penerima manfaat, termasuk guru dan tenaga kependidikan.

Kasus Keracunan MBG Terus Berulang

Kasus di Kudus menambah panjang daftar keracunan MBG nasional. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 1.242 korban dugaan keracunan MBG sepanjang 1–13 Januari 2026.

Sementara perhitungan BBC News Indonesia menyebut jumlah korban mencapai 1.929 orang sepanjang Januari 2026 saja. Kasus terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Banten, NTT, dan NTB.

Total korban keracunan MBG sejak 2025 hingga awal 2026 disebut telah mencapai 21.254 orang.

Ahli Gizi: Tanpa Pengawasan, Keracunan Akan Terus Berulang

Ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menilai petunjuk teknis MBG saja tidak cukup. Menurutnya, pengawasan dan evaluasi menjadi titik lemah program ini.

“Kalau ada keracunan, berarti rantai HACCP-nya bermasalah. Pertanyaannya, siapa yang mengontrol?” tegasnya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa kurang dari 30 persen dapur SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS).

“Ibarat 70 persen pengendara belum punya SIM tapi ramai-ramai nyetir. Ya jelas kacau,” sindir Tan.

Tan mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara pemekaran dapur MBG, dan memprioritaskan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Lebih baik lambat tapi benar, daripada cepat tapi salah. Kalau tidak dibenahi, kasus keracunan MBG akan terus berulang dan memicu krisis kepercayaan publik,” pungkasnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#keracunan mbg #siswa keracunan #Makan Bergizi Gratis #SMAN 2 Kudus