Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pengacara SPPG Kelir Bantah 133 Siswa Keracunan Usai Mengonsumsi MBG: Dampaknya 50 Pekerja Dirumahkan, 3.000 Porsi Makan Siswa Tidak Tersalurkan

Syaifuddin Mahmud • Sabtu, 1 November 2025 | 22:56 WIB
SPPG Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, dilarang beroperasi pasca dugaan kasus keracunan yang menimpa ratusan siswa di tiga sekolah. Insert: Rifki Pria Hartawan
SPPG Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, dilarang beroperasi pasca dugaan kasus keracunan yang menimpa ratusan siswa di tiga sekolah. Insert: Rifki Pria Hartawan

RADARBANYUWANGI.ID – Pengacara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rifki Pria Hartawan Usman angkat bicara terkait pemberitaan siswa keracunan MBG beberapa waktu lalu.

Rifki yang juga pengurus DPC Partai Gerindra menegaskan tidak benar 133 siswa di tiga sekolah tersebut mengalami keracunan.

Terkait pemberitaan tersebut, Rifki sudah melakukan konfirmasi kepada Kepala Puskesmas Kelir dan Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat.

Dari hasil penelusuran dia, hanya dua siswa yang pingsan, satu merasa lemas, satu menangis tersedu, dan sembilan siswa serta satu guru mengeluh sakit perut usai olahraga.

“Pihak MBG bahkan membantu membawa para siswa ke RSUD Blambangan dan Puskesmas Kelir. Tidak ada kesimpulan resmi yang menyebut mereka keracunan akibat makanan MBG,” jelasnya.

Rifki menambahkan, dua siswa yang pingsan diketahui memiliki riwayat penyakit sesak napas dan kondisi fisik yang lemah.

Selain itu, isu bahwa 20 siswa SMPN 3 Kalipuro juga mengalami gejala keracunan disebutnya tidak benar.

“Pihak SPPG sudah mengonfirmasi ke sekolah, dan pihak sekolah menyatakan tidak ada siswa yang sakit karena makanan MBG. Itu hoaks,” tegasnya.

Dikatakan Rifki, dirinya telah menemui langsung Kepala Puskesmas Kelir dan Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat.

Mereka membantah pernah memberikan pernyataan kepada media soal penyebab keracunan tersebut.

”Kedua pejabat itu menyatakan tidak pernah memberikan keterangan apa pun kepada wartawan atau pihak lain bahwa keracunan disebabkan oleh makanan dari MBG,” tegasnya.

Baca Juga: Joshua Zirkzee Ingin Hengkang dari Manchester United Januari 2026! West Ham dan Klub Italia Berebut Tanda Tangannya

Pemberitaan tersebut, kata Rifki, sangat berdampak terhadap SPPG Kelir. Saat ini SPPG Kelir terpaksa menghentikan aktivitas produksi.

Ada sekitar 50 pekerja yang dirumahkan dan 3.000 porsi jatah makan siswa yang tidak tersalurkan, serta puluhan mitra pemasok ikut terdampak.

Rifki juga menyoal sidak yang dilakukan  anggota DPRD Banyuwangi Zamroni dkk terkait dugaan kasus keracunan siswa di wilayah Kecamatan Kalipuro.

Seharusnya wakil rakyat bersikap lebih bijak dan mengedepankan data sebelum menyampaikan pernyataan publik.

“Sidak boleh saja, konferensi pers juga boleh. Tapi jangan menjadikan isu seperti ini sebagai ajang mencari panggung politik. Ini soal kemanusiaan,” tegasnya.

Rifki juga mengingatkan bahwa hak imunitas anggota dewan tidak bersifat mutlak. Jika terbukti menyebarkan berita bohong, anggota DPRD tetap bisa dilaporkan secara hukum.

”Imunitas tidak bisa digunakan untuk melindungi tindakan di luar fungsi legislatif,” tegasnya.

Rifki mengimbau mitra SPPG dan SPPI dapur MBG Kelir agar terus berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Pastikan makanan yang diberikan kepada siswa aman dan bergizi. Program ini adalah bagian dari upaya besar pemerintah dalam memberantas stunting dan mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, keracunan yang menimpa ratusan siswa di wilayah Kecamatan Kalipuro pada 24-25 Oktober 2025 lalu membuat Dinas Kesehatan Banyuwangi mengambil langkah tegas.

Sejak Minggu (25/10), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro diminta tak lagi beroperasi sampai bisa menuntaskan masalah sanitasi.

Penutupan dilakukan menyusul temuan bakteri  Escherichia (E.coli) pada sejumlah sampel makanan dan air yang diduga menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, ada total 133 siswa yang mengalami gejala diare usai mengonsumsi makanan dari SPPG Desa Kelir.

Rinciannya, dari MA Nurul Khoiroh Desa Kelir sebanyak 100 siswa, SMP NU Gombengsari 13 siswa, dan SMPN 3 Kalipuro 20 siswa.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri E.coli di berbagai komponen.

Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel air, makanan, alat masak, dan swab rektal dari siswa yang mengalami diare.

Dari hasil uji, kadar E.coli di air melebihi ambang batas. Sampel makanan seperti ayam, nasi, serta tumis brokoli dan wortel juga positif E.coli.

Alat makannya saat di-swab ditemukan cemaran mikroba cukup tinggi, di atas 160 per cm persegi.

"Alhamdulillah, saat ini seluruh siswa yang sempat dirawat sudah membaik semua. Kita temukan bakteri E.coli di bahan makanan dan alat makan," jelas Amir. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#keracunan mbg #siswa keracunan #kalipuro #Makan Bergizi Gratis #SPPG #banyuwangi #Kelir