RADARBANYUWANGI.ID - Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Putri Hemilia (13), santri asal Dusun Rawan, Desa/Kecamatan Besuki, Situbondo, Jawa Timur.
Putri Hemilia meninggal dunia akibat reruntuhan plafon asrama Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Jailani Ra di Dusun Pesanggrahan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Rabu (29/10/2025) dini hari.
Putri dikenal sebagai anak yang bercita-cita menjadi hafidzah, penghafal Al-Qur’an. Namun, takdir berkata lain. Cita-citanya terhenti ketika ia dipanggil Sang Khalik dalam keadaan menuntut ilmu.
Di ruang tamu rumahnya, tampak almanak Ponpes Syekh Abdul Qodir Jailani Ra tergantung rapi di dinding—menjadi pengingat cita-cita dan semangat almarhumah semasa hidup.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Situbondo, Dr. H. Muhammad Mudaffar, bersama anggota Polres Situbondo, turut melayat ke rumah duka dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
“Kami sudah mendatangi rumah almarhumah dan ditemui langsung oleh kedua orang tuanya. Mereka hanya meminta agar putrinya didoakan bisa masuk surga,” ujar Mudaffar.
Menurut keterangan keluarga, selama empat bulan terakhir Putri mulai menghafal Al-Qur’an dengan tekun.
“Waktu berangkat mondok, dia ingin jadi hafidzah. Empat bulan terakhir sudah mulai menghafal,” tutur Mudaffar.
Mudaffar menegaskan, Putri meninggal dunia dalam keadaan mulia karena wafat saat mencari ilmu agama.
“InsyaAllah, Putri meninggal dalam keadaan syahid. Mungkin orang tuanya belum bisa melihat dia hafal Al-Qur’an di dunia, tapi kelak bisa menyaksikan di akhirat,” imbuhnya.
Selain mengunjungi rumah duka, Mudaffar juga meninjau langsung lokasi ambruknya asrama putri bersama tim Polres Situbondo.
Dari hasil pengamatan awal, kuda-kuda plafon masih terlihat kuat, namun diduga ada pergeseran kayu akibat guncangan gempa beberapa bulan lalu.
“Kata pihak pesantren, sempat terdengar bunyi aneh saat gempa bulan lalu, tapi tak terlihat kerusakannya karena tertutup plafon. Namun, penyebab pastinya masih menunggu hasil penyelidikan polisi,” pungkas Mudaffar.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi dunia pendidikan pesantren untuk memperhatikan keselamatan dan kelayakan bangunan, agar tragedi serupa tak kembali terulang. (*)
Editor : Ali Sodiqin