RADARBANYUWANGI.ID - Prosesi kremasi tokoh agama Hindu asal Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Sarkam, 83, digelar di Krematorium Kusuma Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Senin (27/10).
Tokoh agama Hindu yang akrab disapa Mbah Sarkam ini, meninggal pada Sabtu (25/10) sekitar pukul 10.00.
Prosesi kremasi dilakukan di Krematorium Kusuma Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo dan abunya dilabur di Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.
“Mbah Sarkam meninggal di rumahnya,” kata putra Mbah Sarkam, Anang Wedha, 54.
Prosesi upacara kremasi jenazah Mbah Sarkam ini, diikuti puluhan jemaat Hindu yang ada di Kabupaten Banyuwangi.
Puluhan mobil yang berisi jemaat, keluarga, dan pecalang ikut mengiringi upacara kremasi.
“Setelah dilakukan kremasi beserta upacara keagamaan, abu dibawa ke Pantai Grajagan untuk Pelarungan,” kata Anang.
Menurut Anang, Mbah Sarkam itu salah satu pencetus upacara ngaben massal yang ada di Kabupaten Banyuwangi.
Ia yang mengedukasi masyarakat upacara ngaben tidak harus membutuhkan biaya yang tinggi.
“Awal mula ngaben pada tahun 2011, Mbah Sarkam salah satu penggeraknya dengan biaya Rp 300 ribu sudah bisa ikut upacara ngaben massal,” ujarnya.
Selain pencetus upacara ngaben massal, kata dia, sosok Mbah Sarkam itu juga aktif dalam organisasi keagamaan sejak tahun 1970 atau usia mudanya.
Mulai dari peradah pemuda Hindu, tokoh pura wasesa di Curah Pecak, Desa/Kecamatan Purwoharjo, hingga lembaga pendidikan umat Hindu.
“Ia juga yang mencetuskan sekolah TK Saraswati yang ada di Bumi Blambangan,” terangnya.
Dianggap sebagai panutan, lanjut Anang, sebab, Mbah Sarkam sering dijadikan rujukan umat Hindu ketika ingin memperdalam Agama.
“Tapi kalau disuruh jadi pemangku atau pendeta (Resi) sama masyarakat selalu menolak," terangnya. (cw3/abi)
Editor : Ali Sodiqin