RADARBANYUWANGI.ID - Para petani di Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore mulai gelisah dengan serangan tikus yang merusak tanaman padi. Untuk mengatasinya, mereka memilih cara alami dengan memanfaatkan burung hantu atau tyto alba.
Kini, di lahan persawahan warga banyak berdiri kandang atau pagupon untuk burung hantu nokturnal itu.
Hewan ini aktif di malam hari sebagai penjaga sawah dari hama tikus. Sejak metode ini diterapkan, populasi tikus jauh berkurang.
“Hama tetap ada, tapi tikus sudah tidak ada,” kata Nurhadi (41), petani asal Dusun Salamrejo.
Menurut Nurhadi, keberhasilan tersebut membuat para petani kompak memasang pagupon di sawah masing-masing. Selain murah dan mudah dibuat, cara ini dianggap ramah lingkungan.
“Caranya sederhana, tinggal dibuatkan rumah, nanti burung hantu akan datang sendiri, atau kalau tidak kita yang menempatkan di situ,” ujarnya.
Ia menambahkan, burung hantu relatif aman di alam karena jarang diburu. Karakternya yang tidak berkicau serta dagingnya yang tidak menarik untuk konsumsi membuat satwa ini tidak diminati pemburu.
“Tidak ada yang mau menangkap. Kalau di sini tikusnya banyak, burung ini pasti mau tinggal,” jelasnya.
Namun, burung hantu hanya akan bertahan selama persediaan makanan cukup. Jika tikus berkurang, mereka bisa pergi mencari lokasi baru. “Harus ada cara agar burungnya bisa bertahan lama di pagupon,” tambahnya.
Langkah petani tersebut sejalan dengan program gerakan pengendalian hama (Gerdal) dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi. Sebelumnya, Dispertan telah melepas 421 ekor tyto alba pada Senin (2/6).
Gerdal serentak itu dilakukan di 10 kecamatan, di antaranya Singojuruh, Glagah, Kabat, Rogojampi, Blimbingsari, Giri, Srono, Kalipuro, Licin, dan Genteng.
“Langkah ini solusi alami yang efektif dan ramah lingkungan untuk mengendalikan hama tikus, tanpa pestisida berbahaya,” kata Plt Kepala Dispertan Banyuwangi, Ilham Juanda.
Ilham menjelaskan, burung hantu memiliki kemampuan berburu luar biasa: mendeteksi mangsa dari jarak jauh, daya jelajah tinggi, menyergap tanpa suara, dan pendengaran tajam hingga 500 meter.
“Seekor burung hantu mampu memangsa dua hingga empat ekor tikus per hari, bahkan bisa membunuh lebih dari 10 ekor,” ungkapnya.
Dengan daya jelajah luas, sepasang burung hantu dapat melindungi lahan seluas 25 hektare tanaman padi, sehingga dinilai sangat ekonomis. “Kelemahannya, burung hantu tidak mahir membuat sarang,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Ilham, petani perlu menyediakan rumah burung hantu (Rubuha) sebagai tempat bersarang dan berkembang biak.
“Dengan pelepasan burung hantu dan pemasangan Rubuha, diharapkan populasinya meningkat, ekosistem terjaga, dan serangan hama tikus bisa dikendalikan,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana