Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Beli Rp10 Ribu, Pertalite Dijual Rp25 Ribu per Liter! Tengkulak Jember Serbu SPBU Banyuwangi

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 30 Juli 2025 | 18:36 WIB
DAMPAK GUMITIR DITUTUP: Warga Pakusasi Jember, M Ridho, menata jeriken berisi BBM di depan SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (29/7).
DAMPAK GUMITIR DITUTUP: Warga Pakusasi Jember, M Ridho, menata jeriken berisi BBM di depan SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (29/7).

RADARBANYUWANGI.ID – Perjalanan penuh risiko ditempuh para tengkulak bahan bakar minyak (BBM) dari Jember demi mengais keuntungan.

Mereka rela melintasi jalur alternatif terjal dan berbatu di Gumitir hanya untuk berburu Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU kawasan Kalibaru, Glenmore, hingga Genteng, Banyuwangi.

Dengan harga beli Rp 10 ribu per liter untuk Pertalite dan Rp 12.500 untuk Pertamax, para tengkulak bisa menjual kembali hingga Rp 25 ribu per liter.

"Kalau sudah sulit didapat dan banyak yang butuh, mau tak mau orang beli," ujar Muhammad Ridho, 39, tengkulak asal Kecamatan Pakusari, Jember, Selasa (29/7).

Ridho ditemui saat mengisi BBM di SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Ia datang membawa beberapa jeriken kosong.

"Harga jual saya Rp 15 ribu per liter. Orang tetap beli karena kebutuhan," katanya.

Di tempat yang sama, Sholihin, 40, tengkulak asal Kecamatan Mayang, Jember, menyebut harga eceran di wilayahnya semakin liar.

"Sekarang sudah ada yang jual Rp 20 ribu, bahkan sampai Rp 25 ribu per liter," ungkapnya.

Meski mahal, BBM tetap laris manis. Para mahasiswa hingga pekerja tetap nekat membeli.

"Kalau tidak laku, saya juga tidak mungkin nekat ke sini. Sekarang bawa tujuh jeriken dan uang Rp 4 juta buat kulakan," ucap Sholihin.

Tak hanya dari wilayah pinggiran Jember seperti Silo atau Ledokombo, para pemburu BBM ini datang dari Pakusari, Ajung, hingga pusat kota.

Mereka nekat menempuh jalur ekstrem melewati kebun kopi Mrawan, satu-satunya jalur yang bisa dilalui sepeda motor saat jalur utama Gumitir ditutup akibat longsor.

Ridho, misalnya, menempuh perjalanan dua jam setengah dari Pakusari. Sesampainya di SPBU, ia langsung menyedot BBM dari tangki motornya ke jeriken dengan selang plastik.

 "Di Jember antre tiga sampai empat jam. Kadang sudah antre, BBM-nya habis," keluhnya.

Kondisi ini membuat Bupati Jember Muhammad Fawait sampai mengeluarkan surat edaran agar sekolah dilakukan daring karena kelangkaan BBM.

Namun perjuangan Ridho dan kawan-kawan bukannya tanpa risiko.

"Jalur alternatifnya batu tajam semua. Kalau jatuh bisa celaka. Tapi mau bagaimana lagi, di Jember kosong semua," ucapnya, menyebut belanja BBM kali ini menghabiskan dana Rp 3,5 juta.

Hal senada diungkapkan Iskandar, 41, asal Kecamatan Ajung. Ia sudah tiga hari mondar-mandir mencari BBM.

"Di Kalibaru kosong, di Glenmore juga kosong. Akhirnya saya ke Genteng," ujarnya.

Maraknya praktik pembelian BBM secara besar-besaran untuk dijual kembali ini dibantah pihak SPBU.

Pengawas SPBU Setail, Ismail, 65, mengaku pihaknya melarang transaksi dengan tengkulak.

"Sudah kami larang. Walaupun SPBU jadi sepi, yang penting tidak melanggar aturan," tegasnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pertalite #pertamax #tengkulak #gumitir ditutup total #SPBU #bbm #banyuwangi #jember