RADARBANYUWANGI.ID - Cuaca di Perairan Selat Bali tampaknya masih berpotensi adanya cuaca ekstrem. Hal itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi.
Cuaca ekstrem tersebut dikarenakan adanya potensi turunnya hujan ringan hingga sedang. Ada aktivitas dinamika atmosfer MJO (Osilasi Madden-Julian).
"MJO adalah fenomena atmosfer yang ditandai dengan pergerakan gelombang aktivitas konveksi (awan dan hujan) dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik di wilayah ekuatorial, dengan periode sekitar 30 hingga 60 hari," ujar Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto.
Yustoto menjelaskan, fenomena MJO dapat mempengaruhi pola curah hujan dan cuaca di wilayah tropis dan merupakan faktor penting dalam memahami variabilitas cuaca dalam skala sub-musiman.
"Hal itulah yang menjadi penyebab masih terjadinya cuaca ekstrem yang tidak menentu, padahal wilayah Banyuwangi sendiri seharusnya masuk di musim kemarau," jelasnya.
Yustoto mengimbau masyarakat sekitar pesisir termasuk yang akan melakan aktivitas penyeberangan agar mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas.
"Kami harap kepada masyarakat agar selalu memperhatikan update informasi cuaca dan gelombang dari BMKG dan dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap waspada," iimbaunya.
Yustoto menambahkan, bahwa angin kencang juga masih berpotensi terjadi. Sehingga dapat menyebabkan gelombang tinggi di Perairan Banyuwangi maupun selat Bali.
"Untuk angin kencang masih bisa terjadi, karena masih berpeluang adanya fenomena MJO tersebut," tegasnya. (rio/aif)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Ali Sodiqin