RADARBANYUWANGI.ID - Hari raya Idul Adha semakin dekat. Pada puncak Idul Adha nanti dibutuhkan pisau tajam untuk menyembelih hewan kurban.
Tidak begitu banyak jasa penajaman pisau di Banyuwangi. Muhammad Pandu, 38, membuka jasa pengasahan pisau dengan dua metode.
Siapa menyangka kekhawatiran Muhammad Pandu, melihat istrinya jengkel karena pisau di dapur tak lagi tajam. Dari sana, Pandu berpikir bagaimana pisau yang dipakai istrinya bisa setajam silet.
Pria yang tinggal di Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi itu awalnya hanya coba-coba skill mengasah pisau berbekal tutorial YouTube.
Di luar dugaan, banyak konsumen datang untuk menajamkan pisau. Di lantai dua rumahnya di kawasan Perumahan Kebalenan Baru I, Pandu kini menjadi seorang pengasah pisau yang cukup mahir.
Setiap minggu, dia berjibaku dengan puluhan pisau dapur milik warga Banyuwangi yang diasah di ruang kerjanya. Bermacam pisau mulai dari pisau buah, pisau roti hingga pisau daging ditanganinya.
"Saya melayani segala macam pisau dapur. Mulai yang paling murah pisau biasa seharga Rp 30 ribu hingga yang bermerek seharga Rp 4,5 juta," kata Pandu.
Dia menceritakan, keahlianya mengasah pisau muncul secara tidak sengaja. Istrinya yang selama ini berjualana asinan kerap berurusan dengan potong memotong buah. Jika pisau yang digunakan dalam kondisi tumpul, istinya kerap kali badmood dan cemberut.
"Mulai dari situ saya belajar mengasah pisau supaya istri senang. Awalnya dari belajar YouTube, lalu belajar ke sejumlah orang yang mahir di dunia asah pisau dapur," ujarnya.
Perlahan, ada beberapa teman yang meminta untuk mengasahkan pisau. Mereka tahu keahlian Pandu mengasah pisau dari medsos.
Lambat laun mulai banyak orang mengasahkan pisau. Pandu pun mulai mereapkan tarif. Dia menggunakan acuan tarif berdasarkan panjang bilah mata pisau.
Setiap sentimeter pisau berbahan stainless stell, Pandu mematok harga Rp 1.000. Sedangkan untuk pisau berbahan karbon atau baja, dikenakan tarif lebih mahal, yaitu Rp 2.000 per sentimeter.
"Rata-rata proses asah selesai dalam 24 jam. Sehari belum tentu selesai. Sebagai gantinya saya pinjami pisau lain. Jadi konsumen tetap bisa beraktivitas di dapur," ujar pria yang mulai membuka jasa pengasahan pisau sejak bulan Agustus tahun 2024.
Untuk mengasah pisau, Pandu menggunakan dua metode pengasahan. Metode pertama, menggunakan cara manual dengan ungkal atau batu asah.
Metode ini membutuhkan waktu cukup lama. Minimal, untuk satu pisau butuh waktu sampai dua jam.
Metode yang kedua menggunakan mesin dinamo. Cara ini lebih irit waktu karena lebih cepat dalam proses mengasah.
Pandu memilih menggunakan dua metode tersebut bersamaan untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
"Meski kelihatan sepele, mengasah pisau tak bisa dilakukan sembarangan biar hasil maksimal,’’ ucapnya.
Pandu sempat menunjukkan perbedaan performa pisau sebelum dan sesudah diasah. Dia mendemonstrasikan bagaimana kondisi pisau sebelum diasah alias tumpul.
Pisau tersebut cukup sulit untuk memotong benda yang sebenarnya tak terlalu keras. Setelah diasah, pisau jadi teramat tajam, tak butuh tenaga untuk sekadar memotong kertas.
"Kita pahami dulu pisaunya dan alat asahnya. Batu ungkal ada banyak sekali jenisnya. Harganya pun bervariasi. Salah satu milik saya adalah buatan Jepang seharga Rp 1,8 juta," tuturnya.
Pada hari-hari biasa, setiap hari ada saja orang yang datang untuk mengasah pisau ke rumahnya. Paling banyak ibu-ibu yang memang keseharianya berkutat di dapur.
"Mendekati Idul Adha makin banyak yang datang. Sehari ada empat sampai lima pisau. Rata-rata punya ibu-ibu. Kalau jagal sepertinya sudah punya langganan sendiri," jelasnya.
Selain mengasah pisau pelanggan, Pandu juga memiliki koleksi pisau dengan beragam ukuran dan jenis.
Setidaknya, ada sekitar 40 pisau dapur yang dipajang di dapur kerjanya. Pandu selalu merawat puluhan pisau koleksinya agar tetap berfungsi dan tajam sesuai dengan kegunaanya.
"Kalau dipakai untuk kepentingan dapur, saya sarankan menggunakan pisau stainless saja. Perawatannya tidak susah dan makanan yang dipotong bisa tetap terjaga kesehatanya,’’ pungkasnya. (aif)
Editor : Lugas Rumpakaadi