Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bongkar 62 Jenazah Pemuda Ansor Korban Keganasan PKI, Anggota TNI Butuh Waktu Tiga Hari

Agus Baihaqi • Jumat, 29 September 2023 | 14:00 WIB
Monumen Pancasila Sakti di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di bawah ini pernah dikubur 62 anggota Ansor yang dibantai PKI pada 1965.
Monumen Pancasila Sakti di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di bawah ini pernah dikubur 62 anggota Ansor yang dibantai PKI pada 1965.

RadarBanyuwangi.id – Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menjadi sejarah kelam Indonesia.

Enam jenderal menjadi korban peristiwa tragis tersebut. Jasad mereka dikubur dalam satu liang di Lubang Buaya, Jakarta.

Kejadian serupa juga terjadi di Banyuwangi. Sebanyak 62 Pemuda Ansor dibantai, lalu dikubur di tiga sumur di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring.

Patung Garuda berukuran besar yang dijaga dua patung terlihat berdiri megah di pinggir jalan raya Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring.

Di bawah patung Garuda tertulis ”Monumen Pancasila Jaya, pada tanggal 18-10-1965 telah terjadi pembunuhan masal terhadap 62 orang pemuda Pancasila oleh Kebiadaban G-30-S/PKI”.

Tulisan tersebut sempat direvisi. Sebelumnya tertulis 62 orang pemuda Pancasilais.

Di belakang patung Garuda, ada tiga kolam. Satu berukuran besar dan dua lainnya berukuran lebih kecil.

Di sebelah utara, ada relief yang menggambarkan aksi keji pembantaian yang dilakukan oleh anggota PKI kepada para pemuda Ansor.

Bangunan itu menjadi monumen sejarah dan saksi bisu kejamnya PKI.

”Tiga lubang itu dulu dibuat mengubur 62 orang yang dibantai PKI,” ujar juru kunci Monumen Lubang Buaya Cemetuk, Supingi, 60.

Supingi yang tinggal di samping monumen itu menuturkan, ketiga lubang itu dulu sengaja digali oleh anggota PKI untuk mengubur para korban.

Dari tiga lubang itu, satu lubang yang berukuran besar dibuat mengubur 42 orang. Sedangkan dua lubang lainnya masing-masing untuk mengubur 10 korban.

”Tiga lubang itu sengaja disiapkan untuk para korban,” ungkapnya.

Supingi mengaku tidak tahu pasti aksi pembantaian anggota PKI pada para pemuda Ansor dari Kecamatan Muncar.

Selama ini banyak versi yang beredar di masyarakat. ”Saya ini pendatang, cerita PKI di Cemetuk ini banyak versinya,” katanya.

Salah satu saksi sejarah Mukharam, 70, warga Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring mengatakan, saat kejadian itu dia masih remaja.

Dia tinggal di Dusun Cemetuk bersama keluarganya. ”Korbannya itu para Pemuda Ansor dari Muncar,” katanya.

Menurut Mukharam, para pemuda dari Muncar itu diundang oleh anggota PKI ke Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo), Kecamatan Gambiran untuk acara keagamaan.

Dalam acara itu, mereka disambut dengan baik dan dijamu. ”Makanan yang disuguhkan itu diberi racun,” katanya.

Setelah menyantap makanan dan minuman, para pemuda itu banyak yang tidak sadarkan diri. Ketika dalam kondisi lemas itulah mereka dibantai dengan sadis.

Sebagian pemuda, ada yang lari ke utara hingga sampai di Dusun Cemetuk, Desa Cluring. ”Yang lari itu hampir semua tertangkap dan ikut dibantai,” ujarnya.

Para pemuda yang dibunuh tanpa ada belas kasihan itu, selanjutnya diusung ke Lubang Buaya yang ada di Dusun Cemetuk, Desa Cluring.

Sebanyak 62 korban lantas dimasukkan ke tiga lubang yang telah disiapkan. Di atas lubang itu selanjutnya diberi tanaman pisang.

”Truk yang membawa para pemuda itu oleh PKI juga dibakar,” ungkapnya.

Usai aksi pembantaian dan penguburan masal itu, para tentara datang dengan mengepung perkampungan di Dusun Cemetuk. Kala itu sudah tak ada satu pun anggota PKI yang tampak batang hidungnya. Para tentara (TNI) kemudian mengambil jenazah yang dikubur di tiga lubang tersebut.

”Untuk mengambil tiga jenazah itu, dibutuhkan waktu sampai tiga hari,” terangnya.

Saat proses evakuasi para korban, tidak ada orang yang berani mendekat, apalagi menanyakan orang-orang yang menjadi korban itu.

”Saat itu lokasi sekitar monumen Lubang Buaya itu sangat sepi. Di sekitar kebun dan semak belukar, tidak ada permukiman penduduk,” paparnya seraya menyebut semua jenazah itu akhirnya dibawa ke Muncar.

Untuk mengenang kebiadaban PKI, warga dengan swadaya membangun monumen Lubang Buaya. ”Monumen dan relief itu dibangun agar generasi penerus dapat melihat dan membayangkan bagaimana kekejaman anggota PKI pada masa itu,” pungkasnya. (kri/abi/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#lubang buaya #dibantai #ansor #G30S/PKI #cluring #dikubur #pancasila sakti #garuda #pki #monumen #banyuwangi #muncar