Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Oli dan Onderdil Naik hingga 30 Persen, Pedagang dan Bengkel Mulai Tertekan

Bagus Rio Rohman • Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:00 WIB
LESU: Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak terhadap lesunya penjualan sparepart kendaraan. Penjual onderdil di Jalan MH Thamrin sedang menunggu pembeli. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
LESU: Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak terhadap lesunya penjualan sparepart kendaraan. Penjual onderdil di Jalan MH Thamrin sedang menunggu pembeli. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha otomotif di daerah. Harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor melonjak hingga 30 persen dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga menekan omzet pedagang onderdil dan bengkel akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis pelumas dan komponen kendaraan yang beredar di pasaran. Akibatnya, biaya perawatan kendaraan meningkat dan membuat sebagian pemilik kendaraan memilih menunda pembelian suku cadang maupun servis berkala.

Arif, pemilik toko onderdil di Jalan MH Thamrin, Banyuwangi, mengaku merasakan langsung dampak lonjakan harga tersebut. Menurutnya, kenaikan harga dari distributor memaksa pedagang menyesuaikan harga jual kepada konsumen.

"Dalam beberapa bulan terakhir hampir semua jenis oli dan suku cadang mengalami kenaikan. Ada yang naik 20 persen, bahkan ada yang mendekati 30 persen. Kondisi ini membuat daya beli konsumen menurun karena mereka lebih selektif saat membeli onderdil," ujarnya.

Menurut Arif, perubahan perilaku konsumen mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya pelanggan kerap mengganti beberapa komponen kendaraan sekaligus, kini mereka lebih memilih membeli suku cadang yang benar-benar dibutuhkan.

Akibatnya, omzet penjualan mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Banyak pelanggan yang memutuskan menunda penggantian komponen yang dinilai belum terlalu mendesak demi menghemat pengeluaran.

"Kalau dulu pelanggan langsung mengganti beberapa komponen sekaligus, sekarang banyak yang hanya membeli yang benar-benar dibutuhkan. Kami berharap harga bisa kembali stabil agar penjualan ikut membaik," tambahnya.

Tekanan serupa juga dirasakan pelaku usaha bengkel. Surya, pemilik bengkel sepeda motor di kawasan Jalan MH Thamrin, mengatakan kenaikan harga oli dan spare part berdampak langsung terhadap biaya servis kendaraan yang harus dibayar pelanggan.

Menurutnya, bengkel berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi harga komponen terus meningkat sehingga tarif perawatan harus disesuaikan. Namun di sisi lain, kemampuan belanja konsumen juga mengalami penurunan.

"Kenaikan harga suku cadang dan oli tentu berpengaruh terhadap biaya perawatan kendaraan. Kami harus menyesuaikan harga jasa dan komponen, tetapi di sisi lain konsumen juga keberatan karena pengeluaran mereka bertambah," kata Surya.

Ia mengungkapkan, sebagian pelanggan kini mulai mengurangi frekuensi servis berkala karena mempertimbangkan biaya yang semakin tinggi. Meski demikian, pihaknya tetap mengingatkan pentingnya perawatan rutin untuk menjaga performa kendaraan.

Menurut Surya, menunda servis atau penggantian komponen dalam waktu lama justru berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih serius. Jika hal itu terjadi, biaya perbaikan yang harus dikeluarkan pemilik kendaraan bisa jauh lebih besar dibandingkan biaya servis rutin.

"Kami memahami kondisi konsumen saat ini. Namun servis rutin tetap penting agar kendaraan tidak mengalami kerusakan yang lebih parah dan biaya perbaikannya justru lebih besar," pungkasnya.

Para pelaku usaha berharap kondisi ekonomi dan nilai tukar rupiah segera kembali stabil sehingga harga oli maupun suku cadang kendaraan dapat terkendali. Dengan demikian, daya beli masyarakat bisa pulih dan aktivitas usaha di sektor otomotif kembali bergairah. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#rupiah melemah #Harga oli #suku cadang #bengkel motor #daya beli