Menata Masa Depan Pendidikan Matematika dari Daerah

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 09:00 WIB
Oleh: Alex Haris Fauzi, Dosen Prodi Tadris Matematika Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB)
Oleh: Alex Haris Fauzi, Dosen Prodi Tadris Matematika Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB)

RADAR BANYUWANGI - Hasil Program Penilaian Siswa Internasional atau yang lebih dikenal dengan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2025 telah dirilis dalam sebuah laporan yang bertajuk PISA 2025 Results (Volume I), yang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa Indonesia mencapai tingkat kecakapan matematika dasar. Persoalan pendidikan matematika tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar masalah nilai ujian.

Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan siswa menggunakan matematika untuk memahami situasi, menalar, dan memecahkan masalah kehidupan nyata. Namun, di tengah tantangan nasional tersebut, Banyuwangi menghadirkan pengalaman yang patut dikaji melalui program Matematika Gasing. Program ini menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran yang didukung pemerintah daerah dapat membuka peluang bagi pengembangan kemampuan matematika dan prestasi siswa. PISA 2025 harus diperlakukan sebagai instrumen diagnostik, bukan sekadar sebagai peringkat internasional, sedangkan pengalaman Banyuwangi perlu dikembangkan melalui kebijakan berbasis bukti, berkelanjutan, dan menjangkau seluruh siswa..

Posisi Indonesia dan Tantangan Literasi Matematika

Data OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), sebagai pendiri dan pelaksana PISA, menunjukkan bahwa capaian matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Pada PISA 2025, hanya sekitar 17% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika, sedangkan rata-rata OECD mencapai sekitar 65%. Level 2 penting karena menggambarkan kemampuan dasar siswa dalam mengenali dan menggunakan representasi matematika sederhana dalam situasi yang tidak selalu disertai petunjuk langsung. Data ini mengindikasikan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menghasilkan siswa berprestasi tinggi, tetapi juga memastikan mayoritas siswa menguasai kompetensi numerasi dasar. Menurut saya, kebijakan pendidikan perlu menggeser perhatian dari hafalan prosedur menuju pemahaman konsep, penalaran, dan penerapan matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Rendahnya capaian matematika tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada siswa atau guru karena berkaitan dengan kualitas pembelajaran, kesiapan pendidik, sistem asesmen, ketersediaan sumber belajar, dan kesenjangan antarsekolah. Sejalan dengan penekanan PISA terhadap penerapan dan penalaran matematika, reformasi perlu dilakukan melalui pelatihan guru berkelanjutan, penguatan asesmen formatif, pembelajaran kontekstual, dan dukungan bagi siswa yang mengalami kesulitan, disertai indikator keberhasilan serta evaluasi dampak yang jelas. Meskipun PISA tidak sepenuhnya merepresentasikan realitas pendidikan Indonesia akibat perbedaan budaya, kurikulum, kondisi sosial, dan sumber daya, serta program berbasis kompetisi berpotensi lebih menguntungkan siswa berkemampuan akademik tinggi, kedua pendekatan tersebut tidak perlu ditolak, melainkan digunakan secara proporsional dan dilengkapi dengan asesmen lokal yang mengukur perkembangan seluruh siswa. Dengan demikian, kebijakan pendidikan perlu mengintegrasikan standar internasional dan kebutuhan lokal melalui evaluasi yang kontekstual, berkeadilan, dan berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir siswa.

Pelajaran dari Program Matematika Gasing Banyuwangi

Pengalaman Banyuwangi memberikan contoh mengenai bagaimana pemerintah daerah dapat mengembangkan inovasi matematika melalui kolaborasi dengan Prof. Yohanes Surya. Sejak 2023, program Matematika Gasing dilaporkan telah menjangkau 5.269 guru dan 81.257 siswa di Banyuwangi. Pada Olimpiade Matematika Gasing Nasional 2025, siswa Banyuwangi juga meraih prestasi individu dan tim. Capaian tersebut menunjukkan adanya potensi program dalam membangun motivasi, keterampilan berhitung, dan kepercayaan diri siswa. Namun, prestasi kompetisi tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai bukti peningkatan kemampuan matematika seluruh siswa. Pemerintah perlu melakukan evaluasi longitudinal yang membandingkan kemampuan numerasi, penalaran, dan pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah mengikuti program. Dengan demikian, Gasing tidak berhenti sebagai kegiatan kompetitif, tetapi menjadi bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran reguler.

Selanjutnya, dalam hal ini, ada tiga langkah strategis yang mungkin bisa menjadi program lanjutan. Pertama, prinsip pembelajaran Gasing perlu diintegrasikan ke dalam pembelajaran matematika reguler, bukan hanya persiapan olimpiade. Kedua, pemerintah perlu memperkuat pengembangan profesional guru melalui pelatihan, lesson study, pendampingan, dan pertukaran praktik baik antarsekolah. Ketiga, evaluasi pendidikan harus mengukur proses berpikir, kemampuan menjelaskan strategi, penalaran, dan pemecahan masalah, bukan hanya kecepatan menghitung atau jumlah prestasi kompetisi. Pada tingkat nasional, pemerintah juga perlu memperluas distribusi sumber daya pendidikan dan memberikan dukungan terarah kepada sekolah dengan capaian numerasi rendah.

PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kompetensi matematika dasar. Kondisi ini perlu menjadi dasar perbaikan, dengan menjadikan inovasi lokal seperti Matematika Gasing di Banyuwangi sebagai pembelajaran kebijakan yang berdampak terukur dan merata. Keberhasilan pendidikan matematika pada akhirnya bukan hanya tentang peringkat atau prestasi kompetisi, tetapi juga kemampuan siswa berpikir logis dan menerapkan matematika dalam kehidupan nyata. Salam Matematika!. (*)

Editor : Ali Sodiqin
PISA 2025 Gasing Literasi Matematika