Menuju Terowongan Banyuwangi–Bali

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 00:30 WIB
Oleh: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
Oleh: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Kisah tentang Goa Lungun Cemoro yang konon memiliki jalan rahasia menembus Bali telah lama mengalir dari mulut ke mulut. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang sebuah goa, melainkan bagian dari napas kebudayaan yang diwariskan antargenerasi, tumbuh di antara mitos dan imajinasi tentang ruang-ruang yang belum sepenuhnya mampu dijelaskan oleh pengetahuan. Bagi sebagian orang, hal tersebut hanyalah legenda, tetapi bagi sebagian lainnya merupakan jejak dari rahasia yang disimpan bumi. Sesuatu yang hari ini hanya hidup dalam cerita, pada suatu ketika dapat menemukan bentuk baru melalui ilmu pengetahuan.

Barangkali Goa Lungun Cemoro tidak benar-benar memiliki lorong gaib menuju Bali. Namun, gagasan tentang jalan yang menembus bumi, menyusuri kedalaman laut, dan mempertemukan dua pulau yang dipisahkan Selat Bali, boleh jadi kelak menemukan tempatnya sebagai fiksi masa depan—sebuah mimpi yang menunggu zaman, teknologi, dan keberanian manusia untuk mengubahnya menjadi kemungkinan.

Secara geografis, kita harus membedakan antara cerita rakyat dan kenyataan. Belum ada bukti ilmiah bahwa Goa Lungun Cemoro merupakan lorong alam yang menembus langsung ke Bali. Selat Bali tetaplah hamparan air yang memisahkan Jawa dan Bali. Namun, manusia sejak dahulu memang hidup di antara dua tepian: antara apa yang diyakini dan apa yang dapat dibuktikan, serta antara cerita leluhur dan pengetahuan yang perlahan ditemukan zaman.

Dahulu, orang mungkin akan tertawa mendengar gagasan tentang kereta yang masuk ke dalam perut bumi, menyusuri kegelapan di bawah dasar laut, lalu muncul kembali di negeri yang berbeda. Tetapi, waktu mengajarkan bahwa imajinasi manusia sering kali berjalan lebih dahulu daripada teknologi. Hari ini, kita mengenal Channel Tunnel, terowongan sepanjang sekitar 50,5 kilometer yang menghubungkan Inggris dengan daratan Eropa, dengan lintasan di bawah Selat Inggris sepanjang sekitar 37,9 kilometer. Apa yang dahulu terdengar seperti dongeng, pada akhirnya menjelma menjadi karya rekayasa yang nyata.

Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar perjalanan antar-dermaga. Di antara keduanya, Selat Bali membawa pula denyut kehidupan ribuan manusia yang setiap hari bergantung pada kelancaran transportasi laut tersebut. Namun, persoalan kerap datang berulang: kapal terbatas, dermaga yang tak mampu menampung gelombang pergerakan, hingga alam yang sewaktu-waktu mengubah wajah Selat Bali. Ketika satu simpul tersendat, antrean panjang langsung mengular di sisi Banyuwangi dan menumpuk di Gilimanuk.

Selama ini, penyelesaian lebih sering diarahkan kepada penambahan kapal dan dermaga. Padahal, Selat Bali adalah ruang yang hidup, tempat teknologi, alam, manusia, ekonomi, dan kebijakan saling bertemu. Mungkin sudah waktunya kita melihat persoalan penyeberangan ini sebagai persoalan peradaban: bagaimana sebuah wilayah menjaga agar arus manusia tetap mengalir ketika kapal harus berhenti, ketika dermaga terbatas, dan ketika alam meminta manusia untuk sejenak menundukkan kepala.

Ketika gagasan terowongan Banyuwangi–Bali kembali dibicarakan, kita tidak perlu tergesa menertawakannya sebagai kemustahilan. Biarlah ia menjadi gagasan, bayangan masa depan, atau fiksi ilmiah yang lahir dari keberanian manusia membayangkan sesuatu yang belum ada. Sejarah menunjukkan bahwa laut, gunung, dan kedalaman bumi yang dahulu menjadi batas, perlahan dapat ditembus oleh ilmu pengetahuan. Selat Bali bukan tembok, melainkan bentang alam yang mengajarkan bahwa setiap batas menyimpan kemungkinan.

Dalam pandangan Islam, laut adalah ayat kauniah tentang kebesaran Tuhan. Dalam kebijaksanaan agama, alam adalah bagian dari keseimbangan semesta dan darma. Karena itu, membayangkan terowongan bukanlah kesombongan menantang Tuhan, melainkan ikhtiar yang harus disertai ilmu, tawakal, kehati-hatian, dan penghormatan kepada hukum alam. Kedalaman Selat Bali yang relatif dangkal di bagian utara bukan berarti persoalan selesai. Faktor geologi, tektonik, keselamatan, lingkungan, biaya, hingga kehidupan masyarakat tetap menjadi pertimbangan yang tidak boleh diabaikan. Teknologi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa jauh manusia mampu menembus bumi dan laut, tetapi seberapa bijaksana ia menggunakan kemampuan itu untuk kemaslahatan.

Menghubungkan Jawa dan Bali bukan sekadar memindahkan kendaraan antar-pulau. Di antara keduanya terdapat sejarah, adat, agama, ruang sakral, ekologi, dan kehidupan masyarakat yang harus dihormati. Bali bukan sekadar titik di peta; di dalamnya hidup pura, upacara, tradisi, serta tata ruang yang mengandung makna spiritual. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar jika bisa dibangun, mengapa tidak dibangun, melainkan: apakah ia layak, di mana sebaiknya dibangun, dan bagaimana membangunnya tanpa melukai kesucian, kebudayaan, dan keseimbangan alam?

Di sinilah teknologi bertemu dengan kebijaksanaan. Dalam dimensi agama, kita menemukan kesadaran bahwa ruang bukan sekadar ruang, tanah bukan sekadar tanah, dan perjalanan bukan sekadar perjalanan. Ada tempat yang dimuliakan, ada alam yang harus dijaga, dan ada batas yang sepatutnya dihormati.

Andaikata suatu hari terowongan Banyuwangi–Bali benar-benar terwujud, sejarah akan mencatatnya bukan sekadar sebagai proyek transportasi, melainkan sebagai perjumpaan antara imajinasi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kehendak zaman. Legenda Goa Lungun Cemoro tidak perlu dibunuh oleh ilmu; biarlah ia tetap hidup sebagai cerita yang lahir dari tanah Songgon, dari ingatan dan daya bayang manusia tentang jalan menuju seberang. Peta tetaplah peta, Selat Bali tetaplah selat, dan legenda tetaplah legenda. Namun, apa yang dahulu dibayangkan sebagai lorong gaib, kelak mungkin diterjemahkan menjadi lorong beton dan baja di kedalaman bumi—bukan karena legenda terbukti benar, melainkan karena ilmu menemukan jalan untuk mewujudkan sebuah kemungkinan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Goa Lungun Cemoro kisah bali terowongan banyuwangi