Ijen Tanpa Angle Spesial

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 02:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi
Oleh: Samsudin Adlawi

RADAR BANYUWANGI - TWA (Taman Wisata Alam) Kawah Ijen menuju ecotourism. Konsepnya sedang dirancang. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sedang menggodok tata kelolanya. Bersama Pemprov Jawa Timur. Ecotourism menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung. Seperti apa konsepnya?

Tidak banyak bocoran yang saya terima. Tapi informasi yang sedikit itu cukup menyentak. Khususnya bagi saya. Atau, bahkan, juga akan dirasakan oleh mereka yang sudah telanjur jatuh cinta pada Ijen. Mendakinya berkali-kali. Berlama-lama di kawahnya.

Konsep baru wisata Ijen bakal menghadirkan suasana berbeda. “Lewat konsep itu, terdapat pemisahan jalur serta titik aktivitas wisatawan dan penambang tradisional,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Evy Afianasari, dilansir Jawa Pos (14/09/26).

Soal titik aktivitas tidak dibahas dalam tulisan ini. Karena hal itu terlalu teknis. Dan, persoalan teknis itu seyogianya bisa diselesaikan dengan mudah, cepat, dan tepat. Kuncinya adalah peningkatan koordinasi dengan para pihak. Buatkan aturan yang jelas. Siapa saja yang boleh masuk ke area “dapur” belerang tersebut. Dan, ini yang terpenting, ada petugas khusus yang berjaga. Halau siapa pun yang berusaha masuk ke area itu. Kecuali penambang belerang.     

Pisah Jalur

Bila terwujud, kelak, suasana wisata ke Ijen akan berubah signifikan. Wisatawan dan penambang belerang akan mendaki Kawah Ijen di jalur berbeda. Pun turunnya, tentu. Tidak seperti sekarang. Wisatawan dan penambang berbaur. Wisatawan dan penambang belerang mendaki dan menuruni jalur yang sama.

Bahkan, di beberapa spot tertentu, wisatawan harus berhenti. Mengalah. Menepi. Memberi jalan bagi para penambang yang sedang memikul 50 kg – 80 kg belerang batangan. Membiarkan mereka lewat duluan. Sebab medan jalannya sempit. Berat pula kondisinya.

Bagi pengunjung harus siap-siap kehilangan spot indah selain pemandangan kawah –lengkap dengan blue fire (api biru ajaib)– dan sunrise yang sedang memandikan kota Banyuwangi. Spot indah itu adalah pemandangan para penambang belerang tradisional berjalan. Bahkan, sebagian sambil lari-lari kecil. Padahal, beban seberat 50 kg – 80 kg belerang batangan sedang bertengger di pundaknya. Tepatnya, di dua keranjang yang bergelantungan diantara pundaknya.

Lewat beberapa cerita kawan dan unggahan video di medsos, memang tampak di sebuah spot pendakian Ijen sejumlah wisatawan terpaksa harus berhenti. Berdesakan dan harus memberi jalan bagi penambang yang sedang memikul puluhan kilogram belerang.

Pemandangan itu, memang, membuat sejumlah wisatawan terenyuh. Merasa iba. Tersentuh. Melihat begitu beratnya derita para penambang belerang. Berjalan berkilo-kilometer dengan memanggul puluhan kilogram belerang di atas medan jalan yang tidak biasa. Naik dan turun. Becek pula di kala hujan.

Tapi, wisatawan yang lain bisa memaklumi. Bahwa berjalan memikul beban berat itu fakta. Dan, itu memang menjadi pekerjaan sehari-hari para penambang belerang. Sudah dilakukan selama puluhan tahun.  Bahkan, sebagian malah menjadi pekerjaan turun-temurun. Mau diapakan lagi kalau tidak ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, begitu kira-kira komentar wisatawan apa adanya.

Dengan permakluman seperti itu, wisatawan memanfaatkan aksi penambang belerang sebagai objek foto. Mereka segera keluarkan kamera. Penambang belerang sedang memikul dua keranjang penuh belerang batangan menjadi angle foto yang menawan. Apalagi ditambah ekspresi dan raut wajah para penambangnya. Wow sangat keren.

Bahkan, dalam beberapa lomba foto, atau foto-foto yang dimuat di media, para penambang belerang sedang duduk istirahat di dekat keranjang belerang tampak sangat eksotis. Apalagi bila peng-angle-annya mengambil latar alam sekitar. Terutama suasana kawah dengan kekayaan pernak-perniknya. Sangat memukau.

Itu tidak mengherankan. Sebab, “atraksi” penambang belerang telah menjadi salah satu ikon TWA Kawah Ijen. Melengkapi fenomena langka api biru dan pemandangan panorama matahari terbit.

Api biru menyala dari gas sulfur yang keluar dari rekahan bumi. Fenomena yang terlihat jelas dalam gelap dini hari itu sangat langka. Konon, hanya ada di sedikit tempat di dunia. Sedangkan sunrise yang memukau terlihat memesona dari bibir Kawah Ijen di ketinggian sekitar 2.386 hingga 2.443 mdpl. Latar barisan pegunungan di sekitar Ijen menyempurnakan keindahan alam Banyuwangi itu.

Ayam dan Telur

Bicara Kawah Ijen tidak bisa lepas dari nama Maurice dan Katia Krafft. Suami-istri asal Prancis. Namanya sangat legendaris. Keduanya sangat berjasa bagi Kawah Ijen.

Sejumlah sumber menyebutkan, pasangan vulkanolog itu tercatat sebagai dua orang pertama yang memperkenalkan keindahan dan keunikan Kawah Ijen ke kancah internasional. Khususnya di era modern. Pada 1971, Maurice-Krafft melakukan riset vulkanologi. Mereka meneliti orang pertama yang berani menavigasi sekaligus mengambil sampel air danau asam Kawah Ijen.

Maurice-Krafft mengabarkan hasil penelitiannya kepada dunia. Terutama di negaranya: Prancis. Sejak itu, mulai banyak orang Prancis berkunjung ke Kawah Ijen. Ketika wisatawan mancanegara masih belum mengenalnya, orang Prancis menjadikan Kawah Ijen sebagai destinasi utama. Tidak mengherankan bila hingga kini Ijen tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan Negara Mode Dunia itu.

Bagaimana dengan kegiatan penambangan belerang di bibir dasar Kawah Ijen. Sejak kapan dilakukan. Informasinya dilakukan sejak masa penjajahan Belanda. Belanda memang meninggalkan jejak di Kawah Ijen. Yakni sebuah dam. Bendungan. Pemerintah kolonial Belanda membangunnya selama lima tahun: 1910-1915.

Dam itu dibuat sebagai pengatur permukaan air danau kawah. Juga menahan volume air. Agar tidak meluber. Saat ketinggian permukaan air naik. Sehingga banjir air asam belerang bisa dicegah. Kawasan di bawahnya pun aman. Dam itu terletak di sisi barat danau Kawah Ijen. Tepatnya wilayah Sempol, Kabupaten Bondowoso. Di wilayah itulah air limpahan dari dam mengalir. Orang menyebutnya Sungai Kalipait. Airnya memang terasa pahit. Akibat keasamannya yang tinggi. Saat mendaki Ijen puluhan tahun silam, saya sempat mbolang sampai ke dam itu. Juga menyusuri Kalipait.

Wa ba’du. Penambang belerang Kawah Ijen dan wisatawannya tidak bisa dipisahkan. Mereka seperti ayam dan telur. Sama-sama pentingnya. Sama menariknya. Bagi wisatawan. Kenapa harus dipisah. Wisatawan membutuhkan aksi penambang belerang sebagai angle tambahan yang istimewa. Penambang belerang juga mengambil manfaat sebagai ojek troli bagi wisatawan yang kelelahan.

Kalau masih bisa menikmati ayam dan telur sekaligus, kenapa dipaksa memilih salah satunya. Pertanyaan yang sama juga untuk panorama Kawah Ijen dan penambang belerang. Kalau memungkinkan mendapat dua-duanya, kenapa harus dipisah-paksa. Patut dijadikan bahan renungan. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
ecotourism bksda kawah ijen Penambang Belerang