Sound Horeg Dalam Kacamata Psikologi Anak: Apa yang Sedang Dipelajari Anak?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 09:30 WIB
Oleh: Halimatus Sa’diah, Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung/Magister Psikologi/Praktisi Psikologi Perkembangan Anak
Oleh: Halimatus Sa’diah, Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung/Magister Psikologi/Praktisi Psikologi Perkembangan Anak

RADAR BANYUWANGI - Belakangan ini kita semakin mudah menjumpai fenomena sound horeg di tengah masyarakat. Jalanan berubah menjadi panggung hiburan. Musik menggelegar, orang-orang berjoget, dan mirisnya anak-anak ikut berdesakan menonton dengan mata penuh rasa ingin tahu. Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk hiburan dan kegembiraan.

Namun sebagai seseorang yang mempelajari psikologi perkembangan, saya memiliki pertanyaan berbeda. Bukan sekadar apakah sound horeg menghibur atau tidak, melainkan: apa yang sedang dipelajari anak ketika mereka berada di tengah ruang hiburan tersebut?

Pertanyaan ini bukan bertujuan untuk menghakimi budaya hiburan masyarakat. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk melihat kembali bagaimana setiap pengalaman sosial dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak.

Dalam psikologi perkembangan, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Anak adalah individu yang sedang bertumbuh, baik secara fisik, kognitif, emosional, maupun sosial. Setiap pengalaman yang mereka lihat, dengar, dan rasakan akan menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya. Karena itu, pengalaman yang dianggap biasa oleh orang dewasa belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi anak.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah paparan suara yang sangat keras. UNICEF dalam laporan Noise and Children's Health tahun 2026 menegaskan bahwa anak memiliki kerentanan khusus terhadap kebisingan. WHO juga memasukkan musik keras sebagai salah satu sumber paparan kebisingan. Paparan kebisingan berlebihan ini dapat berkaitan dengan gangguan tidur, gangguan pendengaran, gangguan kognitif, serta berbagai dampak terhadap well-being anak.

Anak membutuhkan lingkungan yang aman dan mendukung agar proses tumbuh kembang berjalan optimal. Maka ketika anak berada sangat dekat dengan sumber suara yang ekstrem, pertanyaannya bukan hanya “Apakah mereka merasa senang?”, tetapi juga “Apakah lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka?”

Namun persoalan sound horeg bukan hanya tentang suara. Anak tidak hanya mendengar, tetapi juga mengamati. Anak belajar melalui apa yang mereka lihat dari lingkungan sekitarnya. Perilaku orang dewasa dapat menjadi contoh yang direkam dalam proses perkembangan sosial mereka. Dalam beberapa pertunjukan, terkadang anak dapat menyaksikan perilaku, bahasa, atau ekspresi yang belum tentu sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Sekali lagi, bukan berarti semua pertunjukan sound horeg menghadirkan hal yang negatif. Namun ketika ruang publik yang dipenuhi anak-anak juga menghadirkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai pendidikan keluarga, maka kita perlu melakukan refleksi bersama. Anak belajar bukan hanya dari nasihat orang tua. Anak belajar dari apa yang berulangkali mereka lihat.

Ketika kita mengatakan kepada anak bahwa menjaga aurat adalah sesuatu yang penting, tetapi pada saat yang sama mereka diajak menyaksikan aurat dipertontonkan sebagai bagian dari hiburan. Pesan pendidikan yang diterimanya menjadi kontradiktif.

Disinilah persoalan sound horeg menjadi lebih dari sekadar persoalan desibel. Hal ini menjadi persoalan Role Model, tentang lingkungan perkembangan dan keteladanan orang dewasa.

Dalam proses penanaman nilai baik, orang tua bukan hanya bertanggung jawab atas makanan yang masuk ke tubuh anak, tetapi juga atas apa yang masuk melalui mata, telinga, pikiran, dan pengalaman sosial mereka.

Ada kekhawatiran yang lebih jauh, jangan sampai sesuatu yang awalnya dianggap “sekadar hiburan” justru menjadi benih pembiasaan perilaku yang kelak sulit dikoreksi.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Mungkin jawabannya bukan pelarangan total. Masyarakat memiliki hak untuk menikmati hiburan. Pelaku seni juga memiliki hak untuk berekspresi. Tetapi hak tersebut seharusnya berjalan bersama tanggung jawab sosial.

Perlu ada kesepakatan bersama antara masyarakat, penyelenggara, pemerintah, tokoh agama, dan pemerhati anak mengenai batas-batas yang tetap menghargai hiburan sekaligus melindungi anak. Pengaturan tingkat suara, durasi kegiatan, waktu penyelenggaraan, lokasi pertunjukan, serta kesesuaian tontonan bagi anak menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Orang tua juga memiliki peran penting. Tidak semua hal yang dianggap hiburan oleh orang dewasa otomatis menjadi pengalaman yang baik bagi anak. Orangtua perlu membantu mereka mengenal dunia sesuai dengan kesiapan perkembangannya.

Pada akhirnya, kita tidak sedang mencari cara untuk mematikan suara kegembiraan. Kita hanya perlu memastikan bahwa kegembiraan tersebut tidak mengorbankan anak-anak yang belum memiliki kemampuan untuk memilih lingkungan mereka sendiri. Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang mampu menciptakan hiburan, tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga siapa saja yang berada di dalamnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
psikologi anak sound horeg