Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Meneroka Literasi Wacawica di Unit Kegiatan Mahasiswa

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 24 Juni 2026 | 09:00 WIB
Oleh: Nurul Ludfia Rochmah, Guru di MAN 1 Banyuwangi
Oleh: Nurul Ludfia Rochmah, Guru di MAN 1 Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID Wacawica adalah singkatan dari wacana dan wicara. Mari kita bicarakan keduanya dalam konteks kegiatan mahasiswa. Topik ini saya dapatkkan setelah berbincang bersama dengan mahasiswa-mahasiswa yang berkegiatan di unit kegiatan mahasiswa di Untag banyuwangi. Perbincangan berlangsung menarik sehingga sayang jika dilewatkan saja tanpa disarikan dan direfleksikan.

Kemampuan membaca dan berbicara mahasiswa sering kali belum berkembang secara seimbang. Sebagian mahasiswa cenderung membaca hanya untuk memenuhi tuntutan akademik tanpa diikuti kebiasaan reflektif seperti membuat catatan, merangkum, atau mendiskusikan isi bacaan. Di sisi lain, kemampuan berbicara kerap terhambat oleh rasa gugup, kurang percaya diri, dan minimnya latihan mengungkapkan gagasan secara terstruktur. Literasi memang tidak cukup dipahami sebagai aktivitas individual, tetapi perlu dikembangkan sebagai praktik akademik yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Input responden terkait pengalaman mereka sejalan dengan integrated literacy approach. Membaca dan berbicara bukan keterampilan yang berdiri sendiri. Kegiatan itu saling memperkuat dalam proses belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa literasi berkembang secara terpadu melalui aktivitas berbahasa yang saling terhubung, seperti membaca nyaring, berdiskusi, retelling, dan presentasi lisan. Responden berulang kali menyatakan bahwa membaca memberi bahan, kosakata, dan pemahaman untuk berbicara. Berbicara mendorong mereka memahami bacaan secara lebih mendalam sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Pola ini mendukung gagasan bahwa literasi akademik akan lebih efektif ketika reading dan speaking dipraktikkan secara terpadu, bukan dipisahkan.

Perkembangan bahasa dan literasi akan meningkat jika dilakukan melalui interaksi sosial, latihan, serta mediasi lingkungan belajar. Kegiatan seperti shared reading, diskusi berpasangan, bercerita kepada teman, dan presentasi menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan berbicara mahasiswa terbentuk melalui praktik sosial yang memberi ruang bagi negosiasi makna dan penguatan kepercayaan diri. Hambatan yang muncul, seperti gugup, kalimat tidak terstruktur, atau rasa takut salah, juga dapat dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan yang memerlukan scaffolding, latihan berulang, dan lingkungan yang aman secara komunikatif.

Praktik literasi bagi responden yang berkegiatan di UKM Literasi berada pada spektrum yang beragam, tetapi cenderung lebih kuat pada aktivitas membaca berbasis kebutuhan akademik daripada pembacaan reflektif yang terstruktur. Beberapa responden mengaku sering membaca dalam hati sebelum aktivitas kampus, membaca nyaring, atau membaca artikel dan jurnal untuk menambah wawasan Namun kegiatan seperti membuat jurnal membaca sederhana dan membaca bersama terpandu masih relatif jarang dilakukan. Pola ini mengindikasikan bahwa budaya membaca sudah hadir, tetapi belum sepenuhnya berkembang menjadi kebiasaan literasi yang sistematis dan metakognitif.

Pada aspek berbicara, jawaban responden memperlihatkan kecenderungan yang lebih optimistis dibandingkan aspek membaca, terutama dalam latihan berbicara spontan, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat di lingkungan perkuliahan. Sejumlah responden menyatakan bahwa berbicara penting untuk menyampaikan ide secara jelas, sopan, dan percaya diri, baik dalam presentasi, diskusi, maupun komunikasi sehari-hari. Meski demikian, beberapa responden masih mengakui adanya hambatan berupa rasa gugup, kurang percaya diri, dan belum terbiasanya latihan berbicara secara konsisten.

Secara konseptual, respons responden mahasiswa menegaskan adanya hubungan erat antara membaca dan berbicara. Membaca dipahami sebagai sarana memperluas wawasan, memperkaya kosakata, dan membangun pemahaman terhadap informasi, sedangkan berbicara diposisikan sebagai medium untuk mengekspresikan hasil pemahaman tersebut secara lisan. Dalam beberapa jawaban, responden bahkan secara eksplisit menyebut bahwa kemampuan berbicara akan lebih baik apabila didukung oleh kebiasaan membaca yang memadai, karena bacaan menyediakan materi, struktur gagasan, dan kepercayaan diri untuk berkomunikasi.

Pengamatan ini sampai pada simpulan bahwa sebagian mahasiswa telah memiliki kesadaran metakognitif terhadap proses literasi mereka. Mereka tidak hanya menyebut frekuensi kegiatan, tetapi juga menjelaskan strategi yang digunakan, seperti membaca pelan, menyimpulkan per paragraf, menghubungkan isi bacaan dengan pemahaman sebelumnya, dan melatih berbicara melalui diskusi atau menjelaskan ulang materi kepada teman. Hal ini menunjukkan bahwa literasi dipahami bukan sekadar aktivitas mekanis, melainkan proses memahami, mengolah, dan mengomunikasikan makna.

Praktik literasi mahasiswa membentuk pola yang saling menguatkan. Secara tematik, respons mahasiswa mengerucut pada tiga kecenderungan utama, yakni membaca sebagai kebutuhan akademik, berbicara sebagai latihan komunikasi dan kepercayaan diri, serta keterkaitan keduanya sebagai satu kesatuan proses literasi. Membaca menyediakan fondasi pengetahuan, struktur gagasan, dan kosakata. Berbicara menjadi ruang aktualisasi dari pemahaman tersebut dalam bentuk komunikasi yang bermakna.

Implikasi dari temuan ini mengarah pada pentingnya menggeser praktik literasi dari aktivitas yang bersifat individual dan parsial menuju praktik yang terintegrasi dan partisipatif. Pembelajaran literasi di perguruan tinggi perlu dirancang untuk mendorong mahasiswa membaca lebih banyak dan juga untuk memfasilitasi mereka mengolah dan mengomunikasikan hasil bacaan secara lisan. Kegiatan seperti jurnal membaca, shared reading, diskusi terpandu, presentasi singkat, dan retelling menjadi variasi metode dan jembatan pedagogis yang menghubungkan pemahaman teks dengan ekspresi lisan.

Pada titik ini, literasi wacawica menemukan relevansinya sebagai praktik akademik sebagai konsep dankebiasaan yang perlu dilatih, dinegosiasikan, dan direfleksikan secara berkelanjutan. Mahasiswa hendaknya menjadi pembaca yang memahami dan menjadi penutur yang mampu menyampaikan makna. Kemampuan berbicara yang baik tidak lahir dari spontanitas semata, melainkan dari kedalaman interaksi dengan teks. Dengan demikian, penguatan literasi tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi bergerak menuju pembentukan budaya akademik. Budaya membaca menjadi proses berpikir dan berbicara menjadi proses berbagi makna. Akhirnya setiap mahasiswa memiliki ruang untuk berkembang dan lebih sadar akan proses literasi yang mereka jalani. Di situlah literasi wacawica berperan. Ia menjadi jembatan antara pengetahuan dan komunikasi, antara pemahaman dan keberanian untuk menyuarakannya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Literasi #diskusi #berbicara #membaca #presentasi