Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketika Tradisi Menantang Zaman: Catatan Peradaban untuk NU

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 19 Mei 2026 | 11:00 WIB
Oleh: Budi Kurniawan Sumarsono, Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi
Oleh: Budi Kurniawan Sumarsono, Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Nahdlatul Ulama hari ini sedang berdiri di titik persimpangan sejarah yang tidak ringan. Di satu sisi, NU masih menjadi organisasi Islam terbesar dengan akar sosial paling kuat di Indonesia. Namun di sisi lain, perubahan dunia bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme adaptasi sebagian besar organisasi sosial-keagamaan.

Dunia sedang memasuki era disrupsi besar. Teknologi digital mengubah pola komunikasi manusia. Artificial Intelligence mulai menggantikan banyak ruang berpikir teknis. Geopolitik global memunculkan ketidakpastian ekonomi. Polarisasi identitas berkembang liar melalui media sosial. Bahkan otoritas keilmuan agama mulai diuji oleh banjir informasi yang serba instan.

Dalam situasi seperti ini, NU tidak cukup hanya bertahan sebagai simbol sejarah. Organisasi sebesar NU harus mampu membaca arah peradaban. Sebab tantangan terbesar hari ini bukan sekadar soal mempertahankan tradisi, melainkan bagaimana memastikan tradisi tetap relevan di masa depan.

Di titik inilah muncul kebutuhan terhadap transformasi cara berpikir di tubuh NU.

Selama bertahun-tahun, NU dikenal sebagai benteng moderasi Islam Nusantara. Kekuatan utamanya terletak pada pesantren, jaringan kiai, tradisi keilmuan, dan kultur sosial yang lentur terhadap kebudayaan lokal. Tetapi zaman telah berubah. Otoritas sosial kini tidak lagi hanya dibangun dari mimbar pengajian dan forum musyawarah, melainkan juga melalui algoritma digital, media visual, dan pertarungan opini di ruang publik virtual. Jika NU gagal masuk ke ruang perubahan itu, maka lambat laun NU hanya akan menjadi penonton dari perubahan zaman yang bergerak tanpa kendali moral.

Karena itu, arah baru NU hari ini tampak mulai bergerak ke wilayah yang lebih strategis: membangun pengaruh global, memperkuat diplomasi kebudayaan, mengembangkan ekonomi umat, hingga menyiapkan generasi muda pesantren untuk menghadapi dunia modern. Sebagian kalangan mungkin melihat langkah ini terlalu jauh dari kultur tradisional NU. Ada yang merasa NU mulai kehilangan romantisme lama. Ada pula yang menganggap organisasi ini terlalu sibuk berbicara soal geopolitik, ekonomi, dan diplomasi internasional. Namun jika dibaca lebih dalam, perubahan orientasi tersebut sebenarnya merupakan bentuk ikhtiar mempertahankan eksistensi NU agar tidak tertinggal oleh sejarah. Tradisi tanpa adaptasi hanya akan berubah menjadi nostalgia.

Tetapi modernisasi juga tidak boleh dilakukan secara serampangan. Sebab kekuatan NU bukan sekadar pada struktur organisasi, melainkan pada legitimasi moral yang hidup di tengah masyarakat bawah. NU besar karena kedekatannya dengan umat kecil. NU dihormati karena adab para kiai dan kesederhanaan pesantrennya. Di sinilah tantangan terbesar NU ke depan: bagaimana menjaga keseimbangan antara modernitas dan akar tradisi.

NU tidak boleh terjebak menjadi organisasi elitis yang terlalu jauh dari denyut psikologis warga nahdliyin. Sebab ketika bahasa elite terlalu akademik dan terlalu global, sementara masyarakat bawah menghadapi persoalan ekonomi dan sosial yang konkret, maka jarak emosional perlahan akan terbentuk. Karena itu transformasi NU harus tetap berpijak pada kultur pesantren. Teknologi boleh berkembang. Diplomasi global boleh diperluas. Tetapi ruh NU tetap harus lahir dari akhlak, tawadhu’, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

NU juga perlu berhati-hati terhadap godaan politik praktis. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika organisasi keagamaan terlalu dalam masuk ke pusaran kekuasaan, independensi moral sering kali ikut tergerus. Padahal kekuatan NU justru lahir dari posisinya sebagai penjaga etika bangsa, bukan sekadar pemain politik sesaat.  Maka NU masa depan harus menjadi kekuatan civil society yang matang: mampu berdialog dengan negara tanpa kehilangan independensi, mampu bekerja sama dengan kekuasaan tanpa menjadi alat kekuasaan.

Selain itu, regenerasi intelektual di tubuh NU juga menjadi pekerjaan besar. Dunia hari ini membutuhkan ulama yang tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga menguasai ekonomi digital, hukum internasional, teknologi informasi, lingkungan hidup, dan geopolitik global. Pesantren tidak cukup hanya mencetak ahli fiqih, tetapi juga harus melahirkan arsitek peradaban.

Karena perang masa depan bukan hanya perang senjata, melainkan perang narasi, teknologi, dan pengaruh budaya.

Dalam konteks itu, NU sebenarnya memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Jaringan pesantren, kultur gotong royong, serta tradisi intelektual Aswaja adalah fondasi kuat untuk membangun model Islam moderat yang relevan bagi dunia modern. Namun modal besar itu hanya akan menjadi potensi tidur apabila NU gagal membangun tata kelola organisasi yang adaptif, profesional, dan visioner.

Masa depan NU tidak ditentukan oleh seberapa besar massa yang dimiliki, tetapi oleh seberapa jauh organisasi ini mampu memimpin arah perubahan zaman.

Jika berhasil, NU bukan hanya akan menjadi organisasi Islam terbesar di dunia, tetapi juga menjadi pusat peradaban Islam modern yang mampu memadukan spiritualitas, kebudayaan, dan kemajuan.

Tetapi jika gagal membaca momentum sejarah, NU berisiko terjebak dalam konflik internal, romantisme masa lalu, dan kehilangan relevansi di tengah generasi baru. Dan sejarah selalu mencatat: organisasi besar tidak pernah runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena gagal memahami perubahan dari dalam dirinya sendiri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#artificial intelligence #nahdlatul ulama #nu