Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketika Kereta Api Naik Kelas, Apakah Penumpangnya Masih Sama?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 19 Mei 2026 | 10:00 WIB
Oleh: Vani Krismo Anggoro, Dosen Tadris Matematika Universitas Islam Cordoba Banyuwangi
Oleh: Vani Krismo Anggoro, Dosen Tadris Matematika Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - “Harga tiketnya hampir setara UMK Banyuwangi.” Kalimat itu berseliweran di media sosial sesaat setelah layanan compartment suite pada KA Sangkuriang rute Ketapang–Bandung diperkenalkan ke publik. Di tengah antusiasme hadirnya layanan kereta premium jarak jauh, publik kembali terbelah antara rasa kagum terhadap kemajuan perkeretaapian dan keresahan soal makin mahalnya biaya perjalanan dengan kereta api.

Peluncuran KA Sangkuriang rute Ketapang–Bandung menjadi salah satu pembicaraan hangat di kalangan pecinta transportasi beberapa waktu terakhir. Jalur yang menghubungkan ujung timur Pulau Jawa hingga Bandung ini dianggap sebagai langkah progresif dalam memperkuat konektivitas antardaerah. Tidak sedikit yang menyambutnya dengan antusias karena perjalanan panjang kini bisa ditempuh dengan fasilitas yang semakin nyaman dan modern.

Di media sosial, video perjalanan perdana, interior kereta, hingga suasana stasiun ramai dibagikan oleh railfans maupun penumpang umum. Tidak sedikit yang menyebut hadirnya layanan ini sebagai “angin segar” bagi transportasi publik Indonesia. Kereta api memang punya romantismenya sendiri: perjalanan panjang dengan panorama sawah, pegunungan, suara rel, dan pengalaman sosial yang tak ditemukan di moda lain.

Namun perhatian publik rupanya tidak hanya tertuju pada rute baru tersebut. Kehadiran layanan compartment suite justru menjadi pusat perdebatan di media sosial. Dengan harga tiket yang disebut-sebut mendekati Rp 2,5 juta, banyak netizen langsung membandingkannya dengan UMK Banyuwangi yang nilainya tidak terpaut jauh.

Komentar seperti “naik kereta sekarang cuma buat orang kaya” atau “harga tiketnya setara gaji sebulan” ramai menghiasi kolom komentar berbagai unggahan tentang KA Sangkuriang. Ada pula yang menyindir bahwa kereta api yang dulu dikenal sebagai transportasi rakyat kini perlahan berubah menjadi simbol gaya hidup kelas menengah atas.

Di sisi lain, banyak juga yang membela hadirnya layanan tersebut. Menurut mereka, compartment suite memang bukan ditujukan untuk semua penumpang. Konsepnya adalah layanan premium dengan privasi tinggi, fasilitas eksklusif, dan pengalaman perjalanan berbeda dari kelas reguler. Dalam logika bisnis, wajar jika harga yang ditawarkan juga jauh lebih mahal.

Perdebatan ini sebenarnya menarik karena memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia memandang transportasi publik, khususnya kereta api. Selama bertahun-tahun, kereta identik dengan moda transportasi massal yang relatif terjangkau. Meski kini tampil lebih modern dan nyaman, citra “transportasi rakyat” itu masih sangat melekat di benak masyarakat.

Ketika muncul layanan super premium dengan harga jutaan rupiah, sebagian publik merasa ada jarak yang mulai tercipta antara kereta api dan penumpang biasa. Apalagi konteks ekonomi masyarakat saat ini belum sepenuhnya stabil. Bagi sebagian orang, angka Rp 2,5 juta bukan sekadar mahal, tetapi juga simbol ketimpangan akses terhadap layanan transportasi.

Namun di sisi lain, kita juga perlu melihat bahwa perkembangan layanan kereta api merupakan bagian dari transformasi besar transportasi nasional. Dunia perkeretaapian Indonesia memang sedang bergerak menuju standar pelayanan yang lebih tinggi. Stasiun lebih modern, ketepatan waktu meningkat, sistem digital makin praktis, dan kualitas perjalanan semakin baik.

Layanan compartment suite hadir sebagai bentuk diversifikasi pasar. Sama seperti pesawat yang memiliki kelas ekonomi dan bisnis, kereta api kini mencoba menjangkau segmen penumpang yang menginginkan pengalaman perjalanan lebih privat dan eksklusif. Artinya, keberadaan layanan premium sebenarnya tidak otomatis menghilangkan layanan reguler yang masih digunakan mayoritas masyarakat.

Masalahnya, media sosial sering kali membuat diskusi menjadi hitam putih. Seolah-olah ketika ada layanan mahal, berarti kereta api sudah tidak peduli pada rakyat kecil. Padahal kenyataannya lebih kompleks dari itu.

Yang justru perlu menjadi perhatian adalah bagaimana operator transportasi tetap menjaga keseimbangan antara inovasi layanan dan keterjangkauan harga untuk masyarakat umum. Sebab sehebat apa pun fasilitas premium yang dihadirkan, kereta api tetaplah transportasi publik yang keberhasilannya diukur dari aksesibilitasnya bagi banyak orang.

Kritik masyarakat soal harga tiket sebenarnya bukan sesuatu yang negatif. Itu adalah bentuk kepedulian publik terhadap transportasi yang mereka gunakan sehari-hari. Orang mengeluh karena mereka masih berharap kereta api tetap menjadi moda yang nyaman sekaligus ramah di kantong.

Di tengah polemik tersebut, hadirnya KA Sangkuriang rute Ketapang–Bandung tetap patut diapresiasi sebagai langkah maju konektivitas antardaerah. Jalur panjang seperti ini membuka peluang ekonomi, pariwisata, dan mobilitas sosial yang lebih luas. Banyuwangi, Jember, hingga Bandung kini terasa lebih dekat lewat rel kereta.

Tetapi satu hal yang juga penting diingat: modernisasi transportasi tidak boleh hanya menjadi etalase kemewahan. Kemajuan seharusnya tetap memberi ruang bagi semua kalangan untuk ikut menikmati perjalanan, bukan hanya mereka yang mampu membeli kenyamanan dengan harga fantastis.

Karena pada akhirnya, kereta api bukan sekadar soal kursi mewah atau interior elegan. Ia adalah tentang perjalanan bersama—tentang bagaimana semua orang, dari berbagai latar belakang ekonomi, tetap bisa duduk di jalur yang sama menuju tujuan yang mereka impikan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#KA Sangkuriang #ketepang #harga tiket #bandung #Kereta Api