Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nalar Timpang Pembukaan Lahan di Lereng Pegunungan

Redaksi • Kamis, 30 Januari 2025 | 18:02 WIB
Oleh: HERMAWAN ARIFIANTO, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Universitas KH. Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.
Oleh: HERMAWAN ARIFIANTO, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Universitas KH. Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.

DUGAAN alih fungsi lahan di kawasan hulu lereng Gunung Ijen bukan hanya jadi masalah ekologis. Tetapi juga persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kawasan hilir.

Sebagai daerah dengan ketinggian 500-900 meter di atas permukaan laut, lereng Gunung Ijen berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hidrologi di Banyuwangi.

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, alih fungsi lahan yang terjadi di lereng Gunung Ijen sangat berisiko meningkatkan kerusakan lingkungan dan memperburuk potensi bencana alam, khususnya banjir di kawasan hilir.

Bahkan Desember 2024 lalu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani meninjau lokasi pelepasan kawasan hutan di sekitar Erek-Erek, kawasan Perkebunan Kalibendo, dan Perkebunan Lidjen untuk memetakan kebencanaan di kawasan hilir.

Daerah Resapan Air yang Krusial

Secara alami, sejak puluhan tahun kawasan hulu lereng Gunung Ijen berfungsi sebagai daerah resapan air. Hujan di kawasan itu, seharusnya diserap tanah dan vegetasi berbatang keras, yang kemudian mengalir perlahan ke hilir.

Ini memberi kesempatan air untuk tersebar dan tidak langsung mengalir deras menuju sungai atau permukiman di bawahnya. Dengan fungsi resapan yang baik, risiko terjadinya banjir dapat dikurangi signifikan di masa lampau.

Tanah yang kaya akan unsur organik dan vegetasi yang lebat memainkan peran kunci dalam menjaga kestabilan ekosistem, mengatur aliran air, dan mencegah erosi. Namun beberapa tahun terakhir, kawasan ini mengalami alih fungsi lahan cukup masif. Sebagian besar kawasan yang sebelumnya dipenuhi tanaman berbatang keras, kini digantikan tanaman pertanian yang tidak cukup mampu menyerap air.

Alih fungsi tersebut, meskipun mungkin menguntungkan secara ekonomi dalam jangka pendek, namun sangat berbahaya bagi keberlanjutan ekosistem dan kehidupan di hilir.

Perkebunan yang Dimanfaatkan untuk Konservasi

Di hulu lereng Gunung Ijen terdapat beberapa perkebunan yang sejatinya dimanfaatkan untuk tujuan konservasi air sejak masa kolonial. Tiga perkebunan utama yang idealnya bisa mendukung upaya konservasi dengan menanami jenis tanaman yang menyerap air lebih maksimal.

Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan, perkebunan itu dapat berfungsi sebagai area tangkapan air yang penting untuk mengurangi potensi banjir. Sayangnya, alih fungsi lahan ini justru mengarah pada alih fungsi yang memperburuk kondisi ekologis kawasan tersebut.

Alih fungsi lahan di kawasan hulu tentu menciptakan ketidakseimbangan. Tanpa vegetasi yang memadai, air hujan tidak lagi diserap baik oleh tanah. Sebaliknya, air hujan yang langsung mengalir ke hilir, memperburuk potensi terjadinya banjir. Ini sangat berisiko bagi wilayah hilir.

Menghitung Kerugian Alami

Mengutip Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 10 Januari 2025, dampak alih fungsi lahan di lereng Ijen langsung dirasakan warga sekitar. Utamanya bukaan lahan di Perkebunan Kalibendo, yang berimbas bagi warga di Desa Kampunganyar.

Sebab setelah diguyur hujan selama satu jam, debit aliran Sungai Kalibendo naik. Warna air berubah menjadi kecokelatan karena bercampur lumpur dari kawasan hulu yang gundul.

Sementara itu, kawasan hilir lereng Gunung Ijen yang sebelumnya terlindungi dari risiko banjir berkat keberadaan kawasan hulu sebagai penangkal air, kini menghadapi ancaman lebih besar. Peningkatan aliran air yang tidak terkendali berpotensi merusak infrastruktur, seperti jalan raya, jembatan, serta rumah penduduk.

Tentu ingatan kejadian di Desa Alasmalang tahun 2018 perlu menjadi atensi bersama. Selain itu, banjir juga dapat merusak sektor pertanian dan ekonomi lokal, yang bergantung pada ketersediaan lahan yang aman dari bencana.

Kesadaran Pengelolaan Lahan yang Berkelanjutan

Dampak alih fungsi lahan itu tidak terbatas pada kerusakan lingkungan. Kehidupan masyarakat di wilayah hilir yang selama itu bergantung pada keberadaan kawasan hulu yang sehat, kini menjadi terancam. Banjir yang lebih sering dan lebih parah dapat menghancurkan infrastruktur. Ini dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar, dan merusak tanaman pertanian sumber kehidupan masyarakat lokal.

Selain itu, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan juga mengancam keragaman hayati di kawasan hulu. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, perlu upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta, untuk mengelola alih fungsi lahan dengan lebih bijaksana. Alih fungsi lahan seharusnya tidak dilakukan secara sembarangan, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pendekatan berbasis konservasi, seperti penghijauan kembali, penanaman tanaman yang ramah terhadap penyerapan air, dan perlindungan terhadap daerah tangkapan air, harus jadi prioritas. Upaya konservasi kawasan hulu akan memberikan manfaat jangka panjang. Baik bagi ekosistem, maupun bagi kehidupan masyarakat kawasan hilir. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#gundul #alih fungsi lahan #Rawan Banjir #pegunungan