KITA seharusnya bersyukur atas kesempatan Tuhan yang melimpah. Namun sayang, kita sering tidak memiliki rasa “sadar diri”. Sadar diri tidak hanya sadar akan posisi diri sendiri. Tetapi juga sadar akan potensi dalam diri.
Seseorang yang sadar diri, memiliki kesadaran akan potensi dan kelemahan dirinya. Oleh karena itu, dalam diri masing-masing perlu cerminan untuk membenahi pribadi tersebut.
Banyak kejadian berawal dari sikap yang tidak sadar diri. Banyak peristiwa buruk terjadi karena seseorang atau sekelompok orang tidak sadar diri.
Terkadang hal yang baik akan berlangsung jika setiap orang memiliki rasa sadar diri. Sadar akan posisi dan potensi diri sendiri. Dengan sadar diri, seseorang dapat memiliki fondasi yang kokoh dalam menjalani kehidupan.
Lantas, mengapa setiap orang perlu “sadar diri”? Banyak hal yang dapat kita jadikan contoh berikut: Ketika seseorang sadar bahwa dia memiliki potensi di dunia tarik suara dan tidak cukup pintar dalam hal akademik, tentunya dia seharusnya sadar untuk tidak memaksakan mengambil kuliah jurusan elektro. Tetapi lebih memilih memperdalam teknik bernyanyi.
Contoh lain, seorang suami selayaknya sadar diri bahwa dirinya adalah suami dari seorang istri. Jika dia sadar diri, tentunya pulang kerja tidak mungkin masih bersantai-santai nongkrong hingga larut malam, tebar pesona kepada para gadis, menggoda istri orang lain, atau lirik sana lirik sini.
Dia tidak sadar, bahwa dia seorang suami yang istrinya di rumah telah tiga kali menghangatkan sayur sambil terkantuk-kantuk menunggu.
Lain halnya dengan seorang istri selayaknya sadar, bahwa dirinya adalah istri dari seorang suami. Jika dia sadar diri, tentunya tidak akan berani bergenit-genit di depan lelaki lain, bermanja-manja pada suami orang, menggoda berondong, atau dugem hingga larut malam.
Dia seharusnya sadar bahwa dia hanya bisa bermanja pada suami. Dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dia seharusnya ingat, bahwa anak-anak menunggu perhatian dan kasih sayang. Jika suami dan istri sadar diri, sadar posisinya masing-masing, alangkah indahnya.
Sadar akan rakyat Indonesia yang menginginkan untuk dibawa ke arah yang lebih baik. Sadar bahwa menjadi pemimpin Indonesia, berarti memimpin negeri dengan segala keberagaman dan kebinnekaan. Sadar menjadi pemimpin negeri bukan hal yang mudah.
Layakkah mencalonkan diri? Mampukah memimpin negeri? Apakah yakin dapat membawa Indonesia lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh nurani masing-masing.
Menjadi pemimpin negeri pun harus sadar diri. Sadar bahwa, pemikiran Anda akan lebih menarik pengalaman-pengalaman untuk membenarkan apa yang Anda percayai, bukan apa yang Anda miliki. Konsep introspeksi diri sebagai pengontrol kehidupan Anda.
Introspeksi diri yang paling baik adalah yang paling jujur. Soal teknik, intinya kita harus tahu apa yang benar, baru bisa mengenali apa yang salah. Lalu, bagaimana cara introspeksi diri sebagai berikut:
Pertama, memahami kelemahan pribadi. Introspeksi diri diawali dengan rendah hati. Menyadari kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan. Orang yang sombong tidak mau melakukan evaluasi diri, karena selalu merasa benar.
Akibatnya tidak ada pertumbuhan pribadi, karena hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Memahami titik kritis berarti memiliki sikap waspada dan antisipasi. Kemampuan menjaga diri dan mewaspadai situasi sebelum terjadi hal-hal yang fatal.
Kedua, agenda introspeksi. Kapan dan apa saja dalam diri yang perlu dievaluasi? Sebelum melakukan sesuatu, orang yang mau membangun menara pasti akan memperhitungkan anggaran biayanya.
Introspeksi dalam hal langkah awal yang harus dilakukan, bagaimana rencana dan kesanggupan atau sumber-sumber yang kita miliki. Selanjutnya ketika sedang melakukan sesuatu, introspeksi diperlukan untuk mencegah agar tidak telanjur jauh jika ternyata ada kekeliruan.
Ketiga, proses menuju pribadi yang lebih baik. Introspeksi diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri. Tetapi bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri. Orang yang sulit melakukan introspeksi, cenderung bersikap kekanak-kanakan.
Karena kedewasaan dan kematangan pribadi lahir dari keterbukaan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri.
Lantas dengan introspeksi, Anda dapat mengevaluasi kata-kata, impian, sikap, tindakan, dan pemikiran kita, ke arah yang lebih baik. Hal tersebut memiliki kekuatan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dalam hidup Anda.
Apa yang Anda katakan, pikirkan, dan kerjakan. Itu yang Anda dapatkan dalam hidup Anda. Mari perbaiki hidup kita dengan sadar diri, sadar posisi, dan sadar potensi. (*)
*) Mahasiswi Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin