LCM Gilimanuk Surut Parah, Antrean Ketapang Masih Mengular 7,1 Kilometer

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 04:30 WIB
SULIT SANDAR: Kondisi Dermaga LCM Gilimanuk yang ikut terdampak pasang surut air laut pada Kamis (17/9). Fenomena surutnya air laut di sisi Dermaga LCM Gilimanuk memicu keterlambatan proses bongkar muat kapal dan memperpanjang antrean kendaraan di Ketapang. (BPTD Ketapang for Radar Banyuwangi)
SULIT SANDAR: Kondisi Dermaga LCM Gilimanuk yang ikut terdampak pasang surut air laut pada Kamis (17/9). Fenomena surutnya air laut di sisi Dermaga LCM Gilimanuk memicu keterlambatan proses bongkar muat kapal dan memperpanjang antrean kendaraan di Ketapang. (BPTD Ketapang for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi mulai menyusut, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari kemacetan. Hingga Kamis (17/9) siang, ekor antrean masih mencapai 7,1 kilometer, setelah sehari sebelumnya sempat mengular hingga 12 kilometer. Di saat bersamaan, operasional penyeberangan masih terganggu karena air laut surut parah di Dermaga LCM Gilimanuk, Jembrana, Bali.

Kondisi tersebut membuat perjalanan kendaraan logistik dari Jawa menuju Bali belum kembali normal. Para sopir bahkan mengaku harus menanggung tambahan biaya operasional karena waktu tempuh yang sebelumnya dapat diselesaikan dalam sehari kini bisa molor hingga beberapa hari.

Pantauan koran ini sekitar pukul 14.00 WIB menunjukkan, ekor antrean kendaraan berada di kawasan Pembenihan Udang Bahari Bersama. Kepadatan kendaraan terlihat terputus-putus di sejumlah ruas jalan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang.

Bagi pengemudi truk logistik, antrean sepanjang beberapa kilometer bukan sekadar persoalan waktu. Semakin lama kendaraan tertahan, semakin besar pula biaya solar dan kebutuhan makan selama perjalanan.

Ongkos Angkutan Ikut Terdongkrak

Dampak kemacetan mulai terasa hingga ke tarif pengiriman barang. Sejumlah pengemudi armada logistik mengaku harus menaikkan ongkos angkutan untuk menutup biaya tambahan selama kendaraan tertahan di jalur menuju penyeberangan.

Kenaikan tarif untuk rute Surabaya–Denpasar disebut berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 1,2 juta.

Rendi, 37, sopir logistik asal Malang, mengatakan tambahan biaya tersebut tidak bisa sepenuhnya dihindari. Lamanya waktu perjalanan membuat pengeluaran untuk bahan bakar dan konsumsi meningkat.

”Kalau tarif tidak dinaikkan, kami yang rugi besar. Biaya solar dan makan membengkak di jalan. Dulu satu hari bisa langsung bongkar muatan di Bali, sekarang bisa dua sampai empat hari baru sampai,” keluh Rendi.

Kondisi itu menunjukkan dampak kemacetan Pelabuhan Ketapang tidak berhenti di kawasan pelabuhan. Keterlambatan perjalanan juga berpotensi memengaruhi biaya distribusi barang yang dikirim dari Jawa menuju Bali.

26 Kapal Tetap Beroperasi

Di tengah antrean kendaraan yang masih panjang, pola operasional penyeberangan Ketapang–Gilimanuk sebenarnya tidak mengalami perubahan.

Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran BPTD Satpel Ketapang Rahut Sianturi menjelaskan, sebanyak 26 kapal tetap dioperasikan dengan pola delapan trip.

Dari jumlah tersebut, 14 kapal reguler melayani Dermaga Moveable Bridge (MB). Sementara sembilan kapal beroperasi di Dermaga Landing Craft Machine (LCM). Selain itu, terdapat tiga kapal perbantuan dengan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB).

Dengan komposisi tersebut, sisi Ketapang disebut tidak mengalami kendala operasional yang berarti. Persoalan justru muncul di seberang lintasan, tepatnya di kawasan Gilimanuk.

Air Laut Surut Ganggu LCM Gilimanuk

Rahut mengatakan, faktor alam menjadi salah satu penyebab terganggunya kelancaran bongkar muat kapal. Air laut di Dermaga LCM Gilimanuk mengalami kondisi surut yang cukup parah sehingga sejumlah kapal kesulitan bersandar.

”Sisi Ketapang aman tanpa kendala. Tetapi di Gilimanuk terjadi surut sehingga sejumlah kapal tidak bisa bersandar di dermaga. Dampaknya otomatis merembet dan memicu keterlambatan jadwal kapal yang ada di sisi Ketapang,” tegas Rahut.

Gangguan di Gilimanuk tersebut membuat kapal yang telah menyelesaikan perjalanan dari Ketapang tidak selalu dapat segera melakukan proses sandar dan bongkar muat. Efek berantainya kemudian berpengaruh terhadap jadwal keberangkatan kapal dari sisi Ketapang.

Situasi tersebut turut menjelaskan mengapa antrean kendaraan masih bertahan meski volumenya telah menurun cukup signifikan dibanding sehari sebelumnya.

Antrean Menyusut, Distribusi Belum Pulih

Penurunan antrean dari 12 kilometer menjadi 7,1 kilometer menjadi sinyal bahwa kepadatan kendaraan mulai berkurang. Namun, panjang antrean yang masih mencapai beberapa kilometer menunjukkan arus kendaraan belum sepenuhnya kembali lancar.

Terlebih, bagi kendaraan logistik, keterlambatan penyeberangan memiliki konsekuensi berlapis. Waktu perjalanan bertambah, biaya operasional meningkat, dan jadwal distribusi barang ke Bali ikut terdampak.

Sementara itu, kelancaran penyeberangan masih bergantung pada kondisi operasional di kedua sisi dermaga. Selama surut di LCM Gilimanuk masih menghambat kapal bersandar, keterlambatan di satu sisi berpotensi kembali merembet ke sisi Ketapang.

Dengan antrean yang masih mencapai 7,1 kilometer pada Kamis siang, pengguna jasa penyeberangan—terutama armada logistik—masih harus bersabar menunggu kondisi lintasan Ketapang–Gilimanuk kembali normal. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
antrean Ketapang Kapal penyeberangan logistik bali pelabuhan ketapang LCM Gilimanuk