Macet Banyuwangi Utara Tembus 30 Km, Okupansi Hotel Anjlok, Wisatawan Tunda Liburan

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:30 WIB
TAK BISA BERGERAK: Kendaraan pengangkut logistik terjebak macet berjam-jam di dekat wisata Watudodol ketapang, Banyuwangi, sejak Jumat (4/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TAK BISA BERGERAK: Kendaraan pengangkut logistik terjebak macet berjam-jam di dekat wisata Watudodol ketapang, Banyuwangi, sejak Jumat (4/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kemacetan di Banyuwangi Utara tak lagi sekadar persoalan perjalanan tersendat. Pada Jumat (4/9), antrean kendaraan mengular hingga sekitar 30 kilometer, dari kawasan Pelabuhan ASDP Ketapang menuju Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo. Dampaknya merembet ke aktivitas warga hingga sektor pariwisata: okupansi hotel disebut anjlok di bawah 60 persen, sementara sejumlah rombongan wisatawan menunda bahkan membatalkan kunjungan ke Banyuwangi.

Kemacetan panjang tersebut membuat jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang dipadati kendaraan dalam waktu cukup lama. Aktivitas masyarakat di sepanjang jalur ikut terganggu.

Pekerja yang hendak beraktivitas harus menghadapi perjalanan lebih panjang. Anak-anak sekolah turut terdampak. Begitu pula aktivitas pertanian warga di Kecamatan Wongsorejo yang tidak leluasa karena akses jalan tersendat.

Kapolsek Wongsorejo AKP Eko Darmawan mengatakan, situasi semakin parah karena masih ada pengemudi yang mengambil jalur berlawanan arah untuk menerobos antrean.

“Macetnya diperparah dengan adanya beberapa kendaraan yang ngeblong,” kata Eko.

Persoalan lain muncul dari kendaraan berat yang terjebak dalam antrean panjang. Sejumlah sopir truk diketahui tertidur di dalam kabin sembari menunggu kendaraan di depannya bergerak.

Kondisi tersebut membuat pergerakan truk semakin lambat. Antrean kendaraan berat pun bertambah panjang.

“Belum lagi ada beberapa sopir truk yang tertidur, sehingga membuat antrean truk semakin panjang,” imbuh Eko.

Okupansi Hotel Terjun di Bawah 60 Persen

Efek kemacetan tak berhenti di jalan raya. Industri pariwisata dan perhotelan Banyuwangi mulai ikut merasakan tekanan akibat akses yang terganggu.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi Yudia Prananta Wardhana mengatakan, tingkat hunian hotel mulai menurun sejak Senin (31/8).

Bahkan, okupansi mayoritas hotel disebut tidak mampu menembus angka 60 persen.

“Hotel di Banyuwangi drop occupancy sejak hari Senin tanggal 31 Agustus. Okupansi tidak sampai 60 persen,” ujar Yudia.

Menurut dia, hanya satu atau dua hotel yang masih mencatat tingkat hunian relatif baik. Selebihnya, sebagian besar hotel mengalami penurunan okupansi.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses transportasi bisa dengan cepat menjalar ke sektor ekonomi daerah. Wisatawan yang semula berencana menginap di Banyuwangi mulai mempertimbangkan ulang perjalanan mereka.

Restoran juga ikut terdampak. Sejumlah rombongan wisatawan bahkan memilih menunda reservasi karena khawatir perjalanan menuju Banyuwangi terganggu.

“Demikian juga terhadap restoran, juga berdampak, karena beberapa rombongan menunda reservasi kunjungannya,” jelas Yudia.

Penutupan Ijen Tambah Tekanan

Menurut Yudia, kemacetan Banyuwangi Utara bukan satu-satunya persoalan yang menekan sektor pariwisata. Penutupan kawasan Ijen turut memperbesar dampaknya.

Dua kondisi tersebut terjadi bersamaan dan membuat sejumlah group travel agent memilih membatalkan perjalanan ke Banyuwangi.

“Penutupan Ijen dan kemacetan sangat berpengaruh pada drop-nya occupancy hotel, karena banyak group travel agent membatalkan kunjungannya ke Banyuwangi,” ungkapnya.

Bagi pelaku usaha hotel dan restoran, kelancaran akses menjadi faktor penting untuk menjaga arus wisatawan. Terlebih jalur Banyuwangi Utara merupakan salah satu akses strategis menuju Pelabuhan Ketapang dan kawasan wisata di Banyuwangi.

Kemacetan yang berlangsung panjang berpotensi mengubah keputusan wisatawan, terutama rombongan yang memiliki jadwal perjalanan ketat.

PHRI Banyuwangi berharap persoalan tersebut segera terurai. Dengan akses transportasi kembali lancar, aktivitas wisata diharapkan pulih dan tingkat hunian hotel serta kunjungan restoran kembali stabil.

“Semoga kondisi akan segera membaik, sehingga harapan hotel dan restoran bisa kembali stabil,” pungkas Yudia. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Banyuwangi antrean Ketapang Banyuwangi Utara Okupansi Hotel wisata banyuwangi