RADAR BANYUWANGI – Kemacetan horor di jalur utara Banyuwangi tak lagi sekadar mengganggu perjalanan. Antrean kendaraan sepanjang sekitar 16 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang hingga Koramil Wongsorejo telah melumpuhkan akses menuju sejumlah destinasi wisata dan membuat kunjungan wisatawan anjlok hingga 90 persen.
Kemacetan yang terjadi sejak Sabtu (29/8) itu menjadi pukulan telak bagi pelaku pariwisata Banyuwangi Utara. Dua destinasi unggulan, Bangsring Underwater dan Grand Watudodol (GWD), menjadi yang paling merasakan dampaknya.
Jalur utama menuju kedua destinasi tersebut praktis tertutup antrean kendaraan. Mobil operasional maupun kendaraan pribadi wisatawan kesulitan melintas. Akibatnya, kawasan yang biasanya ramai wisatawan mendadak berubah sepi.
Dari Ratusan Tamu, Tinggal Puluhan
Pengelola Bangsring Underwater Sukirno mengatakan, penurunan jumlah wisatawan sudah berada pada kondisi mengkhawatirkan.
Pada hari biasa, destinasi wisata yang dikenal dengan konservasi terumbu karang tersebut mampu menerima sekitar 300 pengunjung. Namun, pada Rabu (2/9), jumlah wisatawan yang datang merosot drastis menjadi sekitar 20 orang.
Penurunan semakin terasa saat akhir pekan. Padahal, Sabtu dan Minggu biasanya menjadi periode dengan jumlah kunjungan tertinggi.
Pada Minggu (30/8), misalnya, jumlah wisatawan yang datang hanya sekitar 50 orang. Angka tersebut sangat jauh dibandingkan kondisi normal yang bisa menembus lebih dari 1.000 wisatawan.
Tidak hanya kehilangan pengunjung, pelaku usaha wisata juga menghadapi pembatalan paket perjalanan dari agen wisata.
Banyak wisatawan memilih membatalkan perjalanan karena khawatir terjebak kemacetan berjam-jam di jalur utara.
“Jelas kita paling terdampak karena tidak ada solusi lain. Jalan besar itu jalur utama. Kalau wisata di Banyuwangi Selatan masih ada alternatif dari jalur Jember. Kalau di utara tidak ada,” keluh Sukirno.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat keberlangsungan usaha wisata di kawasan utara sangat bergantung pada kelancaran jalur utama.
“Kita benar-benar mengandalkan jalur ini untuk bertahan. Kami berharap ada solusi dari Dishub atau ASDP untuk memperlancar lalu lintas,” ujarnya.
GWD Sepi, Ojek Jadi Jalan Darurat
Kondisi tak kalah parah terjadi di Grand Watudodol. Pengelola GWD sekaligus Ketua Paguyuban Pokdarwis Banyuwangi Abdul Aziz menyebut, selama tiga hari terakhir nyaris tidak ada wisatawan yang datang.
Pantai yang biasanya dipenuhi pengunjung mendadak lengang. Hanya ada satu-dua wisatawan yang tetap nekat datang dengan berbagai cara.
Sebagian bahkan harus meninggalkan kendaraan roda empat dan menggunakan jasa ojek motor untuk menembus kepadatan kendaraan, terutama antrean truk logistik.
Namun, solusi darurat tersebut tidak murah. Aziz menyebut tarif ojek dari kawasan GWD menuju Hotel Illira bisa mencapai sekitar Rp100 ribu.
“Sejak tiga hari terakhir nyaris tidak ada tamu. Ada satu dua yang nekat datang, mereka memilih menggunakan ojek,” jelasnya.
Bagi wisatawan, kemacetan bukan lagi sekadar persoalan kehilangan waktu. Biaya perjalanan ikut membengkak dan rencana liburan menjadi tidak nyaman.
Efek Domino Menjalar ke Paket Wisata
Dampak kemacetan juga tidak berhenti di Bangsring Underwater dan GWD. Industri pariwisata Banyuwangi secara lebih luas ikut terkena imbas.
Pasalnya, banyak biro perjalanan menjual paket wisata bundling yang menghubungkan sejumlah destinasi dalam satu perjalanan. Di antaranya Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, GWD, dan Bangsring Underwater.
Ketika jalur utara terganggu parah, rangkaian perjalanan tersebut ikut terdampak. Jadwal kunjungan yang telah disusun agen perjalanan berpotensi berantakan karena waktu tempuh tidak lagi bisa diprediksi.
Situasi itu dikhawatirkan membuat wisatawan dari luar daerah berpikir ulang untuk memilih Banyuwangi sebagai tujuan liburan.
Aziz menilai persoalan kemacetan di sekitar Pelabuhan Ketapang bukan masalah baru. Menurut dia, kondisi serupa telah berulang selama hampir dua tahun terakhir.
Karena itu, dia mendesak pemerintah daerah dan pengelola pelabuhan tidak hanya menyelesaikan persoalan saat kemacetan terjadi, tetapi menyiapkan mitigasi dan solusi permanen.
“Kalau melihat kondisi yang terus berulang seperti ini, harusnya mitigasi dan solusinya sudah ada. Jangan sampai sektor wisata yang ikut menjadi korban,” tegasnya.
Tak Hanya Wisata, Logistik Terancam
Kekhawatiran terbesar justru berada pada efek lanjutan kemacetan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Jalur utara Banyuwangi merupakan salah satu jalur penting bagi lalu lintas logistik dan distribusi berbagai kebutuhan dari luar daerah. Arus kendaraan angkutan barang, termasuk distribusi elpiji dan kebutuhan pokok, juga melintasi kawasan tersebut.
Jika truk pengangkut logistik ikut tertahan dalam antrean hingga belasan kilometer, distribusi barang berpotensi terganggu.
Kondisi itu membuat persoalan kemacetan Ketapang tidak lagi hanya menjadi masalah pengguna jalan atau sektor penyeberangan. Dampaknya dapat merembet ke pariwisata, perdagangan, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
“Jadi dampaknya sangat luas. Bukan hanya wisata, tetapi distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat juga bisa ikut terganggu,” pungkas Aziz. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin