RADAR BANYUWANGI – Hamparan sawah di Dusun Cemetuk, Desa dan Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Senin (17/8), mendadak berubah menjadi lapangan upacara. Sekitar 200 petani berdiri khidmat di antara lahan pertanian, mengenakan pakaian khas saat bekerja di sawah lengkap dengan capil, untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Semangat kemerdekaan pagi itu bahkan diawali dengan kirab bendera Merah Putih sepanjang 10 meter dan lebar satu meter. Bendera raksasa tersebut diarak sebelum ratusan petani berkumpul di area persawahan untuk mengikuti upacara yang dimulai sekitar pukul 08.00.
Tak ada seragam resmi layaknya upacara di kantor pemerintahan. Sebagian petani mengenakan pakaian kelompok tani, sementara lainnya hadir dengan baju bebas yang biasa digunakan saat bekerja di sawah.
Namun, suasana upacara tetap berlangsung khidmat.
Kepala Desa Cluring Sunarto membenarkan adanya kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang digelar di tengah area persawahan Dusun Cemetuk. Upacara tersebut diikuti gabungan kelompok tani atau Gapoktan yang ada di wilayah setempat.
“Kegiatan ini diikuti ratusan petani setempat dengan inspektur upacara Ketua BPP Cluring, Margawati Wulandari,” katanya.
Menurut Sunarto, tingginya antusiasme para petani menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah desa. Di tengah aktivitas mereka sebagai penggarap lahan dan penjaga produktivitas pertanian, para petani memilih memperingati Hari Kemerdekaan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Upacara di tengah sawah itu sekaligus menjadi simbol kecintaan terhadap tanah air. Para petani yang selama ini berperan menjaga ketersediaan pangan ingin menunjukkan bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan juga dilakukan dari sektor pertanian.
“Ini merupakan kebanggaan bagi kami. Sebagai pahlawan pangan, mereka menunjukkan cinta tanah air dan bangsa,” ujarnya.
Ide Petani di Tengah Semangat Swasembada Pangan
Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cluring Margawati Wulandari mengatakan, gagasan menggelar upacara kemerdekaan di area persawahan muncul dari Gapoktan Cipto, Dusun Cemetuk.
Ide tersebut berangkat dari semangat pemerintah yang tengah mendorong swasembada pangan. Para petani ingin menegaskan posisi mereka sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Total peserta yang hadir dalam upacara itu sekitar 200 orang,” katanya.
Ratusan peserta hadir dengan beragam pakaian. Ada yang mengenakan seragam kelompok tani, ada pula yang memakai pakaian bebas khas petani saat berada di sawah. Sementara para penyuluh pertanian lapangan (PPL) mengenakan seragam Korpri.
Menariknya, hampir seluruh petugas upacara berasal dari kalangan petani sendiri. Mereka menjalankan tugas mulai dari persiapan hingga pelaksanaan upacara sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam peringatan Hari Kemerdekaan.
Persiapan pun dilakukan secara sederhana. Para petugas hanya menjalani satu kali gladi bersih sebelum pelaksanaan.
“Hanya inspektur upacara saja yang dari PPL. Yang lain dari petani sendiri,” jelas Margawati.
Berkibarnya Merah Putih di tengah hamparan sawah Dusun Cemetuk menjadi gambaran sederhana tentang cara petani memaknai kemerdekaan. Di tempat mereka setiap hari menanam dan merawat tanaman, ratusan petani berdiri bersama untuk menegaskan satu pesan: perjuangan menjaga pangan juga merupakan bagian dari menjaga Indonesia. (why/aif)
Editor : Ali Sodiqin