Geger Desil 9-10 DTSEN, Gaji Pas-pasan Kok Bisa Masuk Kelompok Terkaya?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:18 WIB
Ekonomi pas-pasan tapi tercatat di Desil 10.
Ekonomi pas-pasan tapi tercatat di Desil 10.

RADAR BANYUWANGI – Curhatan warga soal hasil penelusuran Desil DTSEN mendadak memenuhi media sosial. Sejumlah pengguna Threads dan X mengaku terkejut setelah mengetahui keluarganya masuk Desil 9 bahkan Desil 10, meski merasa penghasilan dan kondisi ekonominya masih pas-pasan.

Kegaduhan itu muncul setelah masyarakat mengecek peringkat kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian warga merasa hasil pemeringkatan tidak menggambarkan kondisi kehidupan mereka sehari-hari.

Ada yang mengaku masih tinggal di rumah kontrakan, hanya memiliki kendaraan bekas, bahkan ada keluarga yang masih menumpang di rumah orang tua. Namun, hasil penelusuran justru menempatkan mereka di kelompok Desil 9 atau 10.

Salah satu pengguna Threads mengaku heran setelah mendapati keluarganya berada di Desil 9. Padahal, dia menyebut hanya tinggal di rumah kontrakan tipe 36 dan memiliki satu mobil bekas.

Keluhan serupa datang dari pengguna lain yang mengaku masuk Desil 10 meski keluarganya masih mengontrak rumah dan hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp3 juta per bulan.

Ada pula ibu rumah tangga yang mengaku tidak memiliki penghasilan dan masih tinggal bersama orang tuanya. Namun, hasil penelusuran tetap menempatkan keluarganya di Desil 9.

“Bu/Pak, mon maap ini saya pengangguran, gak punya penghasilan, kok bisa-bisanya masuk desil 9? Suami juga sama. Jangankan mobil, rumah aja masih numpang orang tua. Bisa-bisanya masuk kategori orang kaya,” tulis akun @its*****.

Kegaduhan semakin mendapat perhatian karena pemerintah tengah mengkaji pembatasan penggunaan BBM bersubsidi Pertalite bagi kelompok Desil 9 dan Desil 10.

Lantas, apakah masuk Desil 9 atau 10 otomatis berarti sebuah keluarga tergolong kaya? Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan penjelasan yang penting dipahami sebelum menyimpulkan hasil pemeringkatan DTSEN.

Desil Bukan Batas Gaji Orang Kaya

BPS, salah satunya melalui penjelasan BPS Cilegon di Threads, menerangkan bahwa desil merupakan pembagian populasi keluarga menjadi 10 kelompok berdasarkan peringkat atau ranking.

Artinya, Desil 1 merupakan kelompok dengan peringkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 berada di posisi paling tinggi dalam pemeringkatan.

Sebagai gambaran, jika jumlah keluarga yang dihitung sebanyak 270 keluarga, populasi tersebut akan dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok berisi 27 keluarga berdasarkan urutan peringkat.

Dengan mekanisme tersebut, tidak ada batas nominal tunggal yang otomatis membuat seseorang masuk Desil tertentu.

“Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point-nya. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil X, atau aset sekian masuk desil Y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga,” terang BPS.

Penjelasan ini menjadi kunci untuk memahami mengapa keluarga dengan pendapatan yang menurut mereka biasa saja bisa masuk Desil 9 atau 10.

Yang Dinilai Keluarga, Bukan Individu

Hal lain yang tak kalah penting adalah unit analisis DTSEN merupakan keluarga atau satu Kartu Keluarga (KK), bukan individu.

Karena itu, seseorang yang sedang tidak bekerja belum tentu otomatis masuk kelompok Desil 1-4. Posisi desil tetap dipengaruhi kondisi sosial ekonomi seluruh anggota keluarga dalam satu KK.

Dengan kata lain, status seseorang sebagai pengangguran tidak serta-merta menentukan posisi desil rumah tangganya.

Pemeringkatan juga tidak hanya melihat nominal gaji. BPS menggunakan berbagai variabel untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Sejumlah aspek yang diperhitungkan antara lain:

Karena indikator yang digunakan cukup beragam, BPS mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai tabel nominal gaji yang beredar di media sosial sebagai patokan menentukan desil.

Mengapa Desil 10 Bisa Berisi Kelas Menengah hingga Miliarder?

Inilah bagian yang paling banyak memicu kebingungan di media sosial. Warga mempertanyakan bagaimana keluarga dengan kondisi ekonomi biasa dapat berada di kelompok yang sama dengan orang-orang superkaya.

BPS menjelaskan, jawabannya justru berkaitan dengan cara kerja pemeringkatan desil.

Desil membagi populasi menjadi 10 kelompok dengan jumlah relatif sama berdasarkan urutan kondisi sosial ekonomi. Sementara jumlah konglomerat atau individu dengan kekayaan ekstrem sangat sedikit dibandingkan keseluruhan populasi.

Akibatnya, kelompok Desil 10 dapat berisi keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat beragam. Di dalamnya bisa terdapat keluarga kelas menengah atas hingga kelompok dengan kekayaan yang jauh lebih besar.

BPS menyebut kontras tersebut bukan otomatis menunjukkan kesalahan dalam pendataan. Sebaliknya, perbedaan yang sangat lebar dalam satu kelompok dapat mencerminkan tingkat ketimpangan ekonomi yang terjadi di masyarakat.

“Banyak juga yang mengeluh kenapa masuk desil 10 padahal masyarakat dengan kondisi ekonomi biasa-biasa aja? Kenapa bisa satu level sama Raffi Ahmad dan para 9 naga?” papar BPS.

Menurut BPS, populasi konglomerat dengan kekayaan ekstrem sebenarnya sangat kecil dan berada di bagian paling atas piramida ekonomi.

Ketika seluruh keluarga kemudian dibagi menjadi 10 kelompok dengan ukuran relatif sama, kelompok dengan kondisi ekonomi menengah atas bisa berada dalam kotak Desil 10 yang sama dengan keluarga superkaya.

Karena itu, Desil 10 tidak boleh dimaknai sebagai kumpulan keluarga dengan tingkat kekayaan yang sama. Posisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga berada pada bagian tertinggi dalam pemeringkatan relatif terhadap populasi yang dianalisis.

Pemahaman tersebut penting, terutama ketika data desil mulai digunakan sebagai salah satu dasar kebijakan pemerintah. Bagi masyarakat, hasil pemeringkatan DTSEN sebaiknya tidak diterjemahkan secara sederhana sebagai label “miskin” atau “kaya”, melainkan sebagai posisi relatif kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga dalam keseluruhan populasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Solo
desil DTSEN data DTSEN Desil 10 kesejahteraan warga BPS