Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Viral Dialog Wapres Gibran dan Petani Gorontalo, Mengapa Combine Harvester Tak Mungkin Digendong?

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:21 WIB
Dialog Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan petani Gorontalo viral usai membahas combine harvester. (Trenggalek Jenggelek)
Dialog Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan petani Gorontalo viral usai membahas combine harvester. (Trenggalek Jenggelek)

RADARBANYUWANGI.ID – Potongan video dialog antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan seorang petani bernama Rukamto di Gorontalo menjadi perhatian publik setelah ramai beredar di media sosial. Namun, di balik percakapan yang memicu beragam tanggapan itu, tersimpan persoalan yang telah lama dihadapi petani Indonesia, yakni belum memadainya infrastruktur pertanian untuk mendukung pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern.

Dalam dialog tersebut, Rukamto menyampaikan bahwa bantuan alsintan dari pemerintah dinilai sudah sangat membantu petani. Persoalan utama bukan lagi kekurangan mesin, melainkan akses menuju lahan pertanian yang belum memadai.

"Yang kurang jalannya Pak. Jadi dari jalan menuju ke sawah itu combine atau jonder masih kesulitan," ujar Rukamto.

Keluhan tersebut merujuk pada sulitnya mesin pertanian berukuran besar memasuki area persawahan karena belum tersedia jalan usaha tani maupun jembatan penghubung di sejumlah lokasi.

Petani Terpaksa Gunakan Titian Kayu

Menanggapi keluhan tersebut, Gibran kemudian bertanya mengenai penyebab kendala yang dihadapi petani.

Rukamto menjelaskan bahwa banyak petak sawah dipisahkan saluran irigasi tanpa jembatan permanen atau box culvert. Kondisi itu membuat petani harus menggunakan papan atau tangga kayu sebagai titian darurat agar alat berat dapat melintas.

Untuk memindahkan titian tersebut dari satu petak ke petak lainnya dibutuhkan sedikitnya enam orang. Sementara itu, mesin pemanen didorong perlahan agar dapat melewati jembatan sementara tersebut.

Di tengah penjelasan itu, Gibran kemudian melontarkan pertanyaan, "Kenapa enggak digendong itu combine-nya?"

Ucapan tersebut membuat Rukamto sempat terdiam beberapa saat. Potongan video itu kemudian ramai dibagikan di berbagai platform digital dan memunculkan beragam respons. Sebagian publik menilai pernyataan tersebut sebagai candaan spontan, sementara sebagian lainnya menilai dialog itu menunjukkan pentingnya pemahaman mengenai kondisi riil pertanian di lapangan.

Di Balik Percakapan yang Ramai Dibahas, Ada Persoalan Infrastruktur Pertanian

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, inti persoalan yang disampaikan petani sebenarnya adalah keterbatasan infrastruktur pendukung mekanisasi pertanian.

Jalan usaha tani memiliki fungsi strategis karena menjadi akses utama mobilisasi alat berat menuju lahan pertanian. Tanpa jalan yang memadai maupun jembatan penghubung, mesin modern yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di berbagai daerah sentra produksi padi, pembangunan jalan usaha tani, box culvert, dan jembatan kecil menjadi bagian penting dalam mendukung program mekanisasi pertanian. Infrastruktur tersebut memungkinkan combine harvester maupun traktor roda empat berpindah dari satu hamparan sawah ke hamparan lainnya dengan aman dan efisien.

Apa Itu Combine Harvester?

Istilah combine harvester mendadak menjadi perhatian masyarakat setelah muncul dalam dialog tersebut.

Combine harvester merupakan mesin panen modern yang menggabungkan tiga tahapan pekerjaan dalam satu proses sekaligus, yaitu memotong tanaman, merontokkan bulir padi dari batang, serta membersihkan gabah dari kotoran sebelum ditampung.

Teknologi ini mampu mempercepat proses panen, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, sekaligus meningkatkan efisiensi pekerjaan di lahan pertanian.

Penggunaan combine harvester juga membantu mengurangi kehilangan hasil panen (losses) yang kerap terjadi saat panen manual apabila dioperasikan pada kondisi lahan yang sesuai dan didukung infrastruktur yang memadai.

Mengapa Combine Harvester Tidak Bisa Dipindahkan Secara Manual?

Berbeda dengan alat pertanian sederhana, combine harvester merupakan mesin berukuran besar.

Mayoritas unit yang digunakan di Indonesia memakai roda crawler berbahan karet sehingga mampu bergerak di lahan berlumpur tanpa mudah terperosok.

Bobot mesin pun sangat besar.

Dengan bobot mencapai ribuan kilogram, mesin tersebut jelas tidak mungkin dipikul atau digendong oleh manusia. Bahkan untuk memindahkannya melintasi saluran irigasi diperlukan akses jalan atau jembatan yang memadai.

Karena itulah pembangunan jalan usaha tani menjadi kebutuhan penting agar investasi alsintan benar-benar memberikan manfaat bagi petani.

Merek yang Banyak Digunakan Petani Indonesia

Di Indonesia, combine harvester didominasi mesin beroda crawler dari berbagai produsen.

Merek Kubota menjadi salah satu yang paling banyak digunakan, terutama seri DC-35 untuk lahan sempit dan DC-70 yang banyak dipakai kelompok tani maupun brigade alsintan.

Selain itu terdapat Yanmar yang dikenal memiliki kapasitas panen besar serta sejumlah produsen lain seperti Quick, PT Pindad melalui produk multikomoditas, hingga beberapa merek asal Tiongkok yang menawarkan harga lebih ekonomis.

Harga Combine Harvester Capai Ratusan Juta Rupiah

Nilai investasi sebuah combine harvester tergolong tinggi.

Harga unit baru tipe kecil berada pada kisaran Rp140 juta hingga Rp280 juta. Untuk tipe sedang yang paling banyak digunakan petani Indonesia, harga berkisar Rp350 juta hingga Rp550 juta.

Sementara itu, tipe besar berkapasitas tinggi dapat menembus Rp800 juta per unit.

Adapun unit bekas masih banyak diminati. Salah satu model yang populer, Kubota DC-70 bekas, umumnya dipasarkan pada kisaran Rp150 juta hingga Rp250 juta, bergantung pada kondisi mesin, usia pakai, kondisi crawler, dan jam operasional.

Modernisasi Pertanian Tidak Cukup Hanya dengan Alsintan

Program mekanisasi pertanian bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah bantuan alsintan yang disalurkan. Kesiapan infrastruktur seperti jalan usaha tani, jembatan penghubung, saluran irigasi, hingga akses menuju lahan menjadi faktor yang sama pentingnya.

Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, alat pertanian modern berpotensi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal meskipun telah tersedia di tingkat kelompok tani.

Dialog yang menjadi perhatian publik tersebut pada akhirnya tidak hanya memunculkan perdebatan mengenai sebuah pertanyaan spontan, tetapi juga mengangkat kembali persoalan mendasar yang masih dihadapi banyak petani Indonesia, yakni pentingnya pembangunan infrastruktur pertanian agar modernisasi sektor pangan berjalan lebih efektif.

FAQ

Apa itu combine harvester?

Combine harvester adalah mesin panen modern yang menggabungkan proses memotong tanaman, merontokkan bulir padi, dan membersihkan gabah dalam satu alat.

Berapa berat combine harvester?

Tergantung tipenya, mulai sekitar 1,1 ton hingga lebih dari 3,5 ton.

Mengapa combine harvester membutuhkan jalan usaha tani?

Karena mesin memiliki dimensi besar dan bobot sangat berat sehingga memerlukan akses jalan dan jembatan yang memadai untuk berpindah antarpetak sawah.

Berapa harga combine harvester di Indonesia?

Harga unit baru berkisar Rp140 juta hingga sekitar Rp800 juta, sedangkan unit bekas umumnya dijual mulai Rp150 juta tergantung kondisi dan usia mesin.

Apa inti keluhan petani dalam dialog tersebut?

Petani menyampaikan bahwa bantuan alsintan sudah tersedia, tetapi pemanfaatannya terkendala karena jalan usaha tani dan jembatan menuju sawah belum memadai.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Petani Gorontalo #Infrastruktur Pertanian #Alat dan Mesin Pertanian #gibran rakabuming raka #Combine Harvester