Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tol Gilimanuk–Mengwi Dipangkas Jadi 42 Km, Pemerintah Ubah Strategi Demi Tarik Investor dan Percepat Proyek

Ali Sodiqin • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:34 WIB
Trase tol Gilimanuk-Mengwi yang ditetapkan Pemprov Bali pada 8 Maret 2022 dan berakhir pada 7 Maret 2026
Trase awal tol Gilimanuk-Mengwi. Tol ini dipangkas dari 97 kilometer menjadi sekitar 42 kilometer. (bpjt)

RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah melakukan perubahan besar terhadap proyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi di Bali. Proyek strategis nasional (PSN) yang semula dirancang membentang hampir 97 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk hingga Mengwi kini dipangkas lebih dari separuh menjadi hanya sekitar 42 kilometer. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kelayakan investasi sekaligus mempercepat realisasi proyek yang selama beberapa tahun terakhir belum juga memasuki tahap konstruksi.

Perubahan tersebut menandai strategi baru pemerintah dalam membangun infrastruktur. Jika sebelumnya fokus utama adalah memperkuat konektivitas dari ujung barat hingga selatan Pulau Dewata, kini pendekatan diarahkan pada pembangunan ruas yang dinilai paling layak secara ekonomi agar lebih menarik bagi investor.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum, Ni Komang Rasminiati, mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan kaji ulang terhadap keseluruhan proyek, termasuk studi kelayakan dan lingkup pembangunan.

"Yang awal itu lingkup proyeknya dari Gilimanuk sampai Mengwi kurang lebih sekitar 90 kilometer. Nanti akan dilakukan re-scoping mengubah targetnya," ujar Komang Rasminiati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Fokus Beralih ke Ruas Pekutatan–Mengwi

Dalam skema terbaru, pembangunan tidak lagi dimulai dari kawasan Pelabuhan Gilimanuk sebagai pintu masuk utama Bali dari Pulau Jawa.

Pemerintah memutuskan memfokuskan pembangunan pada ruas Pekutatan–Mengwi sepanjang sekitar 42 kilometer.

Dengan trase yang lebih pendek, nilai investasi proyek diperkirakan turun secara signifikan sehingga tingkat kelayakan finansial meningkat.

Menurut Komang, penurunan kebutuhan investasi menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah melakukan penyesuaian proyek.

"Harapannya dengan ada re-scoping ini akan bisa meningkatkan kelayakannya, karena kita melihat dari sisi capital expenditure atau biaya investasinya bisa lebih turun," katanya.

Pemerintah optimistis skema baru tersebut akan memperbesar peluang masuknya investor swasta dalam pengusahaan jalan tol.

Pemerintah Masih Tuntaskan Kajian Teknis

Meski trase telah dipersempit, proyek belum akan langsung memasuki tahap konstruksi.

Sepanjang tahun 2026, Kementerian Pekerjaan Umum masih akan menyelesaikan berbagai dokumen pendukung yang menjadi syarat sebelum pelelangan dilakukan.

Beberapa dokumen yang masih dikaji antara lain Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), serta penyempurnaan studi kelayakan dan dokumen teknis lainnya.

Setelah seluruh proses tersebut rampung, pemerintah menargetkan proyek dapat segera masuk ke tahap pelelangan pengusahaan.

Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian kepada calon investor sekaligus mempercepat dimulainya pembangunan fisik.

Rencana Lama Mencapai Hampir 97 Kilometer

Sebelum dilakukan perubahan, Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi dirancang memiliki panjang mencapai 96,84 kilometer.

Proyek itu terbagi menjadi tiga seksi, yaitu:

Jalur tersebut melintasi tiga kabupaten di Bali dengan cakupan 13 kecamatan dan 58 desa.

Tol ini diproyeksikan menjadi tulang punggung transportasi darat Bali karena menghubungkan kawasan pelabuhan penyeberangan di Gilimanuk dengan pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan.

Namun, tingginya kebutuhan investasi membuat proyek berjalan lebih lambat dari target awal.

Gilimanuk Tidak Lagi Menjadi Titik Awal

Perubahan paling mendasar dalam skema baru adalah dihilangkannya ruas Gilimanuk–Pekutatan dari tahap pembangunan.

Artinya, akses langsung dari Pelabuhan Gilimanuk menuju jalan tol belum akan terwujud dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut diperkirakan akan mengubah pola konektivitas kawasan Bali Barat, terutama bagi kendaraan logistik maupun wisatawan yang masuk melalui jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.

Meski demikian, pemerintah menilai langkah tersebut merupakan kompromi terbaik agar proyek tetap memiliki peluang direalisasikan.

Strategi Baru: Utamakan Kelayakan Investasi

Penyesuaian proyek mencerminkan perubahan pendekatan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

Jika sebelumnya orientasi utama adalah membangun konektivitas secara penuh, kini pemerintah lebih mengedepankan aspek kelayakan ekonomi agar proyek memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi.

Dengan biaya pembangunan yang lebih rendah, risiko investasi juga dinilai menjadi lebih kecil.

Strategi ini diharapkan mampu mempercepat proses pelelangan sekaligus meningkatkan minat badan usaha untuk ikut membangun jalan tol tersebut melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

Tetap Jadi Infrastruktur Strategis Bali

Meski panjangnya berkurang drastis, pemerintah memastikan proyek Tol Gilimanuk–Mengwi tetap menjadi salah satu infrastruktur strategis bagi Pulau Bali.

Keberadaan ruas Pekutatan–Mengwi diproyeksikan tetap mampu mempercepat mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi logistik, serta mendukung pertumbuhan sektor pariwisata.

Jalan tol ini juga diharapkan menjadi pelengkap jaringan jalan bebas hambatan di Bali setelah beroperasinya Tol Bali Mandara.

Dalam jangka panjang, pemerintah membuka peluang pengembangan ruas lanjutan apabila kondisi investasi dan kebutuhan lalu lintas dinilai telah memenuhi persyaratan.

Dengan demikian, pembangunan dilakukan secara bertahap tanpa membebani investasi terlalu besar pada tahap awal.

Langkah re-scoping yang ditempuh Kementerian Pekerjaan Umum menjadi sinyal bahwa pemerintah kini lebih mengutamakan proyek yang realistis untuk dieksekusi dibanding mempertahankan desain awal yang membutuhkan investasi sangat besar namun sulit direalisasikan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Tol Bali 2026 #Jalan Tol Pekutatan Mengwi #Proyek Tol Gilimanuk #Kementerian PU Tol Bali #Tol Gilimanuk Mengwi