RADARBANYUWANGI.ID – Kabupaten Banyuwangi kembali menarik perhatian dunia. Kali ini, daerah berjuluk Sunrise of Java tersebut dipercaya menjadi lokasi Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber, program internasional yang mempertemukan 36 delegasi dari 16 negara untuk mempelajari praktik pengelolaan kehutanan, perkebunan, dan industri kayu berkelanjutan di Indonesia.
Selama empat hari, 24–27 Juni 2026, para peserta yang berasal dari kalangan pemerintah, diplomat, akademisi, hingga pelaku usaha diajak melihat langsung berbagai praktik pengelolaan sumber daya alam di Banyuwangi. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University.
Bagi banyak peserta, pengalaman di Banyuwangi meninggalkan kesan mendalam. Salah satunya dirasakan Facundo Gonzalez, pejabat pada unit lingkungan hidup, perubahan iklim, dan perdagangan di Kementerian Luar Negeri Argentina.
Menariknya, kunjungan ke Banyuwangi sekaligus menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Asia.
"Ini pertama kalinya saya datang ke Asia, jadi rasanya luar biasa sekali bisa berada di Indonesia. Ini adalah negara Asia pertama yang saya pijak, dan menurut saya sejauh ini keramahan orang-orang Indonesia benar-benar luar biasa. Saya bisa merasakannya setelah seharian di sini," ujar Facundo saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi, Rabu malam (24/6).
Tak hanya keramahan masyarakat, Facundo mengaku terpesona dengan bentang alam Banyuwangi, terutama kawasan hutan dan perkebunan yang sebelumnya telah ia kunjungi bersama rombongan.
Menurutnya, suasana hutan di Banyuwangi memiliki karakter yang berbeda dibandingkan hutan-hutan di Argentina.
"Saya sudah sering ke berbagai hutan, di Argentina kami juga punya hutan, tapi yang satu ini benar-benar berbeda. Menariknya, kami bisa mendengar suara azan dari masjid, dan di saat yang sama kami sedang berada di tengah hutan," ungkapnya.
Baginya, pengalaman tersebut menghadirkan suasana yang unik sekaligus memberikan pengalaman spiritual yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Hal itu menciptakan suasana yang sangat unik dan terasa cukup spiritual. Bagi saya pribadi, saya sangat menghargai momen itu. Rasanya menyenangkan sekali bisa berada di sana," tambah Facundo.
Kesan positif juga datang dari delegasi Ghana, Ophilious Lambog, yang bertugas di Timber Industry Development Division, Forestry Commission Ghana.
Ia mengaku tidak hanya menikmati proses pembelajaran selama berada di Banyuwangi, tetapi juga merasakan kehangatan masyarakat setempat.
"Kami juga terkesan dengan kehangatan warga Banyuwangi. Makanannya juga sangat enak," ujarnya.
Dalam program tersebut, para peserta berasal dari Argentina, Brasil, Guatemala, Bolivia, Kolombia, Ekuador, Meksiko, Ghana, Honduras, Republik Dominika, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua Nugini, Malaysia, dan Thailand.
Selama berada di Banyuwangi, mereka mempelajari praktik pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, serta memiliki daya saing di pasar internasional.
Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menjelaskan bahwa program peningkatan kapasitas ini dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan sektor kehutanan modern yang mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan.
Menurutnya, Banyuwangi menjadi lokasi yang tepat karena mampu menunjukkan praktik lapangan secara langsung, mulai dari pengelolaan hutan, teknologi pendukung, hingga perkembangan industri timber berkelanjutan.
"Banyuwangi memberikan ruang yang baik untuk melihat praktik lapangan, teknologi, dan perkembangan sektor timber berkelanjutan di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi sebagai lokasi penyelenggaraan forum internasional tersebut.
Menurut Ipuk, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman bagi para delegasi dari berbagai negara, tetapi juga membuka peluang bagi Banyuwangi untuk menyerap praktik-praktik terbaik dalam pengembangan sektor kehutanan dan perkebunan.
"Kami berterima kasih karena Banyuwangi dipilih sebagai lokus kegiatan. Kami juga berharap Banyuwangi bisa mendapatkan insight berharga untuk pengembangan perkebunan dan kehutanan," tuturnya.
Terpilihnya Banyuwangi sebagai lokasi pembelajaran internasional semakin menegaskan posisi daerah ini sebagai salah satu contoh praktik pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Indonesia yang mulai mendapat perhatian masyarakat global. (*)
Editor : Ali Sodiqin