RADARBANYUWANGI.ID - Kemacetan panjang yang berulang di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk kembali menjadi perhatian serius. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperingatkan kondisi tersebut berpotensi semakin berat ketika Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi) tersambung penuh ke Banyuwangi.
Di tengah keterbatasan kapasitas pelabuhan dan area penyangga kendaraan, lonjakan arus kendaraan dari Tol Trans Jawa dikhawatirkan memicu antrean yang lebih panjang di pintu penyeberangan Jawa-Bali itu.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (24/6). Menurutnya, Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi dan Pelabuhan Gilimanuk di Bali hampir setiap tahun menghadapi persoalan kemacetan luar biasa, terutama saat Natal dan Tahun Baru, Lebaran, maupun musim liburan sekolah.
"Yang kami khawatirkan adalah ketika nanti jalan tol sudah langsung tersambung ke Banyuwangi. Tol belum tersambung saja kemacetannya sudah luar biasa, apalagi kalau nanti sudah tersambung penuh," ujar Heru.
Kapasitas Pelabuhan Mulai Mendekati Batas Maksimum
ASDP menilai persoalan kemacetan di lintasan Ketapang-Gilimanuk tidak semata-mata disebabkan operasional kapal. Faktor keterbatasan infrastruktur pelabuhan menjadi tantangan utama yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.
Saat periode puncak perjalanan, volume kendaraan yang masuk ke pelabuhan meningkat signifikan hingga membuat kapasitas eksisting mendekati batas maksimum. Kondisi tersebut diperburuk oleh keterbatasan lahan parkir kendaraan dan minimnya ruang untuk pengembangan kawasan pelabuhan.
Akibatnya, antrean kendaraan kerap meluber hingga ke jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi dengan wilayah lain di Jawa Timur. Situasi ini tidak hanya mengganggu kelancaran arus logistik, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Larangan Kapal LCT Berpotensi Kurangi Kapasitas Angkut
Di sisi lain, ASDP juga menghadapi tantangan baru setelah adanya kebijakan pelarangan kapal Landing Craft Tank (LCT) mengangkut penumpang pasca insiden kecelakaan kapal beberapa waktu lalu.
Menurut Heru, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi kapasitas angkut di lintasan Ketapang-Gilimanuk apabila tidak diimbangi dengan penambahan armada pengganti yang memiliki kapasitas besar.
"Kalau kapal LCT dilarang beroperasi maka kapasitas angkut akan semakin berkurang. Sementara kapal terbesar yang beroperasi di Ketapang-Gilimanuk saat ini kapasitasnya hanya sekitar 2.000 GT dan selebihnya di bawah 1.000 GT," katanya.
Berkurangnya kapasitas kapal di tengah peningkatan jumlah kendaraan dinilai dapat memperpanjang waktu tunggu penyeberangan, khususnya pada musim libur panjang dan hari besar keagamaan.
Tol Prosiwangi Jadi Penghubung Ujung Timur Pulau Jawa
Kekhawatiran ASDP muncul seiring percepatan pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi atau Tol Prosiwangi yang menjadi bagian akhir jaringan Tol Trans Jawa.
Jika proyek tersebut rampung, Pulau Jawa akan terhubung oleh jaringan jalan tol dari Merak di Banten hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa Timur. Saat ini, ruas tol yang telah beroperasi membentang dari Merak hingga Pasuruan dengan panjang sekitar 1.056 kilometer.
Dalam rencana besarnya, jaringan Tol Trans Jawa akan mencapai panjang sekitar 1.232 kilometer setelah seluruh ruas selesai dibangun. Salah satu fokus pembangunan saat ini adalah ruas Gending-Besuki sepanjang 49,7 kilometer yang ditargetkan selesai pada 2026.
Keberadaan tol diproyeksikan memangkas waktu tempuh distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Namun di sisi lain, akses yang semakin mudah menuju Banyuwangi diperkirakan akan meningkatkan volume kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Ketapang.
Perlu Solusi Jangka Panjang
Dengan proyeksi pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat, ASDP menilai penanganan kemacetan Ketapang-Gilimanuk tidak cukup hanya melalui penambahan kapal. Dibutuhkan solusi jangka panjang berupa perluasan kapasitas pelabuhan, penambahan area buffer zone, pengaturan lalu lintas yang lebih terintegrasi, hingga modernisasi sistem layanan penyeberangan.
Tanpa langkah antisipatif, tersambungnya Tol Trans Jawa hingga Banyuwangi berpotensi menghadirkan tantangan baru bagi salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia tersebut.
Ketapang-Gilimanuk selama ini menjadi gerbang utama mobilitas manusia dan logistik antara Pulau Jawa dan Bali. Karena itu, kesiapan infrastruktur penyeberangan menjadi faktor krusial agar manfaat konektivitas Tol Trans Jawa tidak justru berujung pada kemacetan yang semakin parah di kawasan pelabuhan. (*)
Editor : Ali Sodiqin