RADARBANYUWANGI.ID – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro mulai menimbulkan efek domino terhadap roda perekonomian masyarakat. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi kelompok yang paling terdampak karena aktivitas produksi mereka sangat bergantung pada pasokan listrik.
Sejumlah pelaku usaha mengaku kehilangan jam produksi, gagal memenuhi permintaan pelanggan, hingga mengalami penurunan omzet akibat gangguan pasokan listrik yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena sebagian besar UMKM tidak memiliki sumber listrik cadangan untuk menopang operasional usaha.
Ketua CEC Bojonegoro Adib Nurdiyanto mengatakan, pemadaman listrik tidak hanya menghambat proses produksi, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha.
Menurut dia, mayoritas UMKM saat ini menggunakan peralatan berbasis listrik dalam setiap tahapan produksi. Ketika aliran listrik terputus, aktivitas usaha praktis berhenti total.
“Sebagian besar proses produksi membutuhkan listrik. Ketika listrik padam, pelaku UMKM tidak bisa berproduksi sehingga penjualan ikut menurun,” ujarnya kepada Radar Bojonegoro.
Adib menjelaskan, dampak pemadaman dirasakan oleh berbagai jenis usaha. Mulai dari pedagang minuman segar yang mengandalkan blender, pelaku usaha minuman kemasan dengan mesin cup sealer, hingga perajin yang menggunakan mesin pemotong dan peralatan elektronik lainnya.
Tak hanya itu, sektor kuliner juga ikut terdampak. Banyak pelaku usaha makanan bergantung pada kulkas, freezer, dan magic com untuk menjaga kualitas bahan baku maupun proses produksi harian.
Saat listrik padam, sebagian pelaku usaha terpaksa menghentikan operasional karena peralatan utama tidak dapat digunakan. Kondisi tersebut menyebabkan potensi kehilangan pelanggan sekaligus mengurangi volume penjualan.
“Yang paling terasa adalah pelaku usaha yang mengandalkan mesin produksi. Ketika listrik mati, produksi berhenti, sementara biaya operasional tetap berjalan,” imbuhnya.
Kerugian yang dialami UMKM tidak hanya berasal dari hilangnya kesempatan berjualan. Para pemilik usaha tetap harus menanggung berbagai biaya rutin seperti upah pekerja, biaya sewa tempat usaha, hingga pengeluaran operasional lainnya meski aktivitas produksi terhenti.
Situasi ini dinilai cukup berat bagi UMKM yang selama ini beroperasi dengan modal terbatas dan mengandalkan perputaran pendapatan harian untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Di tengah keluhan pelaku usaha, PLN meminta masyarakat tetap tenang menyikapi kondisi sistem kelistrikan yang sedang mengalami tekanan.
Manajer PLN ULP Bojonegoro Saiful Amin mengatakan, perusahaan terus berupaya menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat proses pemulihan apabila terjadi gangguan maupun pengaturan beban di sejumlah wilayah.
Menurut Saiful, masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi selama proses penanganan berlangsung agar dampak pemadaman dapat diminimalkan.
“Masyarakat kami imbau melakukan antisipasi dengan mengisi daya perangkat komunikasi, menggunakan listrik secara bijak, serta memperhatikan keselamatan instalasi listrik selama masa pemadaman,” katanya.
Ia juga berharap masyarakat dapat memberikan dukungan dan pengertian selama proses penanganan sistem kelistrikan berlangsung.
“Setiap langkah yang dilakukan bertujuan menjaga kestabilan sistem kelistrikan agar pelayanan dapat segera kembali normal dan tetap andal,” ungkapnya.
PLN memastikan informasi terbaru terkait perkembangan kondisi kelistrikan akan terus disampaikan melalui kanal komunikasi resmi perusahaan agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat.
Sementara itu, Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur Dana Puspita Sari menjelaskan, gangguan pasokan listrik yang terjadi saat ini dipicu adanya kendala teknis operasional pada pembangkit listrik yang menyebabkan penurunan kapasitas pasokan ke sistem.
Untuk menjaga stabilitas jaringan dan mencegah gangguan yang lebih luas, PLN menerapkan manajemen beban secara terbatas di sejumlah daerah terdampak sambil mempercepat proses pemulihan pembangkit.
“PLN saat ini mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan dan mempercepat proses pemulihan operasional pembangkit,” ujarnya.
Menurut Dana, koordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan guna memastikan proses penanganan berjalan optimal dan pasokan listrik dapat segera kembali normal.
“Perkembangan proses penanganan dan pemulihan akan terus kami informasikan melalui kanal komunikasi resmi perusahaan,” tambahnya.
Di sisi lain, kalangan UMKM berharap pemulihan pasokan listrik dapat dilakukan secepat mungkin mengingat gangguan yang berkepanjangan berpotensi memperbesar kerugian usaha.
Selain berdampak pada penurunan produksi dan omzet, pemadaman listrik juga dapat mengganggu stabilitas ekonomi lokal yang selama ini banyak ditopang sektor usaha mikro dan kecil.
Bagi pelaku UMKM, listrik bukan sekadar kebutuhan pendukung, melainkan menjadi urat nadi operasional usaha. Karena itu, keberlangsungan pasokan listrik yang andal menjadi faktor krusial untuk menjaga produktivitas, pendapatan, dan keberlangsungan usaha masyarakat di Bojonegoro.
Jika kondisi pemadaman bergilir berlangsung lebih lama, bukan hanya pelaku usaha yang merasakan dampaknya. Rantai pasok, tenaga kerja, hingga daya beli masyarakat juga berpotensi ikut terpengaruh. Karena itu, percepatan pemulihan sistem kelistrikan menjadi harapan utama agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan normal. (*)
Editor : Ali Sodiqin