Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Oli Naik 30 Persen, Pemilik Motor Mulai Tunda Servis Kendaraan

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
HARGA MEROKET: Datuk melihat jejeran oli kendaraan yang melonjak di bengkelnya, Jumat (12/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
HARGA MEROKET: Datuk melihat jejeran oli kendaraan yang melonjak di bengkelnya, Jumat (12/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Gejolak ekonomi global mulai terasa hingga ke bengkel-bengkel kecil di daerah. Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang dibarengi ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor merangkak naik. Dampaknya, banyak pemilik kendaraan memilih menunda perawatan rutin demi menghemat pengeluaran rumah tangga.

Fenomena tersebut mulai dirasakan pelaku usaha bengkel di Banyuwangi dalam beberapa bulan terakhir. Harga pelumas yang sebelumnya relatif stabil kini mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 30 persen. Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komponen kendaraan, mulai ban hingga onderdil mesin.

Datuk, 41, pemilik bengkel di Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, mengaku kenaikan harga oli terjadi hampir pada seluruh merek yang beredar di pasaran. Salah satu yang paling banyak dikeluhkan pelanggan adalah oli MPX yang selama ini menjadi pilihan utama pengguna motor matik dan bebek.

"Harga oli MPX sekarang sudah sekitar Rp 75 ribu per botol. Dulu masih sekitar Rp 55 ribu," ujarnya.

Menurutnya, secara umum kenaikan harga pelumas berada di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per botol. Kenaikan tersebut berlangsung bertahap sejak konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian ekonomi global dan memperkuat nilai tukar dolar AS.

"Kenaikannya lumayan drastis. Rata-rata naik Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Kami yang punya bengkel harus pintar menjelaskan kepada pelanggan agar mereka tidak mengira kami menaikkan harga sesuka hati," katanya.

Kondisi itu memicu efek domino terhadap usaha bengkel. Banyak pelanggan yang mengurungkan niat melakukan servis setelah mengetahui biaya perawatan kendaraan meningkat. Akibatnya, jumlah kendaraan yang masuk ke bengkel mengalami penurunan cukup signifikan.

Dalam kondisi normal, bengkel milik Datuk bisa melayani lebih dari lima kendaraan per hari hanya untuk penggantian oli. Namun dalam beberapa hari terakhir, jumlah tersebut turun hingga tersisa sekitar dua kendaraan per hari.

"Biasanya lebih dari lima kendaraan per hari untuk ganti oli. Sekarang rata-rata hanya dua kendaraan saja," ungkapnya.

Menurut Datuk, sebagian besar pemilik kendaraan tampaknya memilih menunda penggantian oli dan perawatan berkala demi menyesuaikan kondisi keuangan keluarga. Padahal, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan mesin yang lebih serius dan biaya perbaikan yang jauh lebih mahal di kemudian hari.

"Saya menduga banyak yang menunda perawatan karena harga naik dan informasinya juga sudah ramai diberitakan," tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Ainul Gufron, 32, pemilik bengkel di Desa dan Kecamatan Sempu. Menurut dia, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada pelumas, tetapi juga menjalar ke berbagai komponen kendaraan lainnya.

"Harga ban dan beberapa onderdil mesin juga naik. Bahkan kabarnya Juli nanti ada kenaikan lagi," ujarnya.

Para pelaku usaha bengkel menilai lonjakan harga tersebut tidak lepas dari terganggunya rantai pasok global akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Ketergantungan industri otomotif terhadap bahan baku dan komponen impor membuat harga suku cadang sangat sensitif terhadap penguatan dolar AS.

Ketika nilai tukar rupiah melemah dan biaya impor meningkat, harga barang yang sampai ke konsumen pun ikut terdongkrak. Kondisi inilah yang kini dirasakan langsung oleh pemilik kendaraan bermotor di daerah.

"Kenaikan ini mulai terasa sejak konflik di Timur Tengah ramai. Ditambah nilai dolar yang terus naik," pungkas Ainul.

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, para pelaku usaha berharap kondisi global segera membaik agar harga pelumas dan spare part kembali stabil. Sebab jika tren kenaikan terus berlanjut, bukan hanya pemilik kendaraan yang terbebani, tetapi juga sektor usaha bengkel yang berpotensi kehilangan pelanggan akibat menurunnya daya beli masyarakat. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Harga oli #spare part #bengkel Banyuwangi #dolar as #Servis Motor