Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

324 Hunian Layak di Senen Dikebut, Instruksi Prabowo Jadi Ujian Penataan Kawasan Padat Bantaran Rel Jakarta Pusat

Ali Sodiqin • Rabu, 15 April 2026 | 20:00 WIB
Hutama Karya kebut 324 unit hunian di Senen, Jakarta Pusat. Proyek target 15 Juni 2026 untuk relokasi warga bantaran rel. (hutamakarya.com)
Hutama Karya kebut 324 unit hunian di Senen, Jakarta Pusat. Proyek target 15 Juni 2026 untuk relokasi warga bantaran rel. (hutamakarya.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah mulai menancapkan langkah cepat untuk menata salah satu wajah paling padat di jantung ibu kota. PT Hutama Karya (Persero) resmi mempercepat pembangunan 324 unit hunian layak di kawasan Senen, Jakarta Pusat, sebagai tindak lanjut langsung atas instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Proyek ini menyasar warga yang selama bertahun-tahun tinggal di kawasan bantaran rel Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen—wilayah yang kerap menjadi simbol persoalan klasik Jakarta: kepadatan ekstrem, keterbatasan lahan, dan backlog hunian masyarakat berpenghasilan rendah.

Di balik percepatan pembangunan ini, muncul angle konflik yang kuat: mampukah proyek hunian cepat selesai tanpa mengulang persoalan lama relokasi warga kota?

Instruksi Presiden, Deadline Ketat 15 Juni

Langkah percepatan ini bukan proyek biasa.

Hutama Karya menegaskan pembangunan hunian tersebut merupakan respons langsung atas arahan Presiden untuk menyediakan rumah layak di tengah kawasan padat perkotaan.

Plt EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menegaskan target proyek sangat agresif.

“Kami menargetkan proyek hunian ini dapat rampung sepenuhnya pada 15 Juni mendatang,” ujarnya. 

Artinya, proyek ini hanya diberi waktu sekitar dua bulan lebih sejak peninjauan lahan dilakukan.

Tenggat super singkat inilah yang menjadi perhatian publik dan pasar properti.

Di satu sisi, percepatan ini menunjukkan political will yang kuat.

Namun di sisi lain, publik juga menyoroti kualitas, kesiapan relokasi, hingga keberlanjutan kawasan pascapembangunan.

Dony Oskaria dan Ara Tinjau Langsung Lokasi

Untuk memastikan proyek berjalan, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bersama Menteri PKP Maruarar Sirait turun langsung ke lokasi.

Peninjauan lapangan dilakukan bersama Direktur Operasi II Hutama Karya, Mardiansyah.

Fokus utama peninjauan adalah kesiapan teknis dan pemetaan aset lahan agar proyek bisa langsung masuk tahap konstruksi cepat.

Konflik Lama Jakarta: Hunian vs Kepadatan Kota

Senen bukan sekadar lokasi pembangunan.

Kawasan ini selama bertahun-tahun menjadi contoh nyata tekanan urbanisasi Jakarta.

Permukiman padat di tepian rel bukan hanya masalah estetika kota, tetapi juga persoalan keselamatan dan kualitas hidup.

Warga hidup di ruang yang sempit, dengan sanitasi terbatas, risiko kebakaran tinggi, dan kedekatan langsung dengan jalur aktif kereta.

Gambar kondisi permukiman padat Jakarta memperlihatkan kontras tajam antara hunian informal dan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Di sinilah proyek 324 unit ini menjadi lebih dari sekadar pembangunan rumah.

Ini adalah ujian besar penataan kawasan perkotaan.

Solusi Konkret atau Sekadar Proyek Cepat?

Pemerintah menyebut proyek ini sebagai solusi konkret untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Kolaborasi melibatkan:

Namun tantangan terbesarnya bukan hanya membangun unit fisik.

Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem hunian yang tetap dekat dengan sumber mata pencaharian warga.

Ini menjadi konflik yang selama ini sering muncul dalam proyek relokasi kota besar.

Jika lokasi baru jauh dari pusat aktivitas ekonomi, warga berpotensi kembali ke kawasan informal lama.

Optimalisasi Aset BUMN Jadi Kunci

Dony Oskaria menegaskan aset-aset BUMN yang selama ini belum termanfaatkan akan didorong untuk kepentingan publik.

“Aset-aset BUMN yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat kita dorong untuk memberikan manfaat nyata bagi rakyat.” 

Pernyataan ini membuka peluang proyek serupa di titik lain Jakarta seperti Tanah Abang dan Kampung Bandan, yang juga disebut masuk radar pemerintah.

Momentum Menjawab Backlog Hunian

Di tengah harga properti Jakarta yang terus melambung, proyek ini juga menjadi bagian dari agenda besar pemerintah untuk menekan backlog rumah.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, akses hunian di pusat kota nyaris mustahil tanpa intervensi negara.

Karena itu, proyek Senen berpotensi menjadi model baru hunian terjangkau berbasis optimalisasi aset negara.

Pertanyaannya kini satu:
apakah proyek ini benar-benar mampu mengubah wajah kawasan padat Jakarta, atau hanya menjadi solusi jangka pendek? (*)

Editor : Ali Sodiqin
#hunian Senen 2026 #relokasi bantaran rel #perumahan Jakarta Pusat #prabowo subianto #hutama karya