RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tekanan ekonomi global, dinamika politik nasional, dan sorotan terhadap sejumlah kebijakan strategis, tingkat dukungan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tetap terjaga tinggi. Survei terbaru Poltracking Indonesia mencatat kepuasan publik menembus 74,1 persen, sementara tingkat kepercayaan terhadap pemerintah mencapai 75,1 persen.
Angka tersebut menjadi indikator penting bahwa legitimasi politik pemerintahan masih solid menjelang satu setengah tahun masa kepemimpinan.
Survei dilakukan pada 2–8 Maret 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Kepercayaan Publik Tetap Tinggi di Tengah Dinamika Nasional
Peneliti Utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, menyebut tingkat dukungan masyarakat masih berada di level yang sangat kuat.
“Kepuasan publik terhadap Prabowo-Gibran berada di angka 74,1 persen dan kepercayaan terhadap pemerintah mencapai 75,1 persen,” ujarnya dalam rilis survei bertajuk Evaluasi Kinerja Pemerintah & Program Prioritas Prabowo-Gibran.
Data tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat masih memberikan penilaian positif terhadap arah pemerintahan.
Secara politik, angka di atas 70 persen menjadi modal penting bagi stabilitas kekuasaan dan daya tahan kebijakan di tengah tantangan global.
MBG Jadi Program Paling Terasa, Penopang Utama Kepuasan
Salah satu temuan paling menonjol dalam survei ini adalah besarnya pengaruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap persepsi publik.
Masduri menyebut MBG menjadi program yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Program yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah MBG dengan angka 36,5 persen.”
Program ini dinilai menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, khususnya keluarga dan pelajar.
Selain manfaat gizi, MBG juga membangun persepsi bahwa pemerintah hadir secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Efek psikologis kebijakan yang langsung menyentuh rumah tangga menjadi faktor utama mengapa dukungan tetap stabil.
Angle Konflik: Dukungan Tinggi di Tengah Ujian Kebijakan
Yang membuat hasil survei ini menarik adalah timing-nya.
Angka kepuasan tinggi muncul di tengah berbagai dinamika nasional, mulai dari tekanan ekonomi, isu geopolitik, hingga perdebatan kebijakan luar negeri.
Bahkan salah satu hasil survei juga menunjukkan masih ada kritik terhadap beberapa keputusan strategis pemerintah.
Sebagian responden, misalnya, menyatakan ketidaksetujuan terhadap langkah pemerintah di forum internasional tertentu.
Di sinilah angle konfliknya:
meski ada perdebatan kebijakan, program berbasis kebutuhan dasar tetap menjadi penyangga utama legitimasi politik.
Ini menunjukkan masyarakat cenderung menilai pemerintah dari kebijakan yang langsung dirasakan, bukan hanya isu elite.
Legitimasi Politik Masih Kuat
Secara politik, tingkat kepercayaan 75,1 persen menandakan legitimasi pemerintahan masih berada dalam posisi aman.
Dalam konteks pemerintahan presidensial, angka ini memberi ruang yang luas bagi pemerintah untuk melanjutkan program prioritas.
Terutama kebijakan yang berkaitan dengan:
-
pangan
-
pendidikan
-
bantuan sosial
-
penguatan ekonomi rumah tangga
Poltracking juga menilai kepemimpinan yang tegas menjadi salah satu faktor yang diapresiasi publik.
MBG Jadi Senjata Politik dan Sosial
Program MBG kini tidak hanya dipandang sebagai program sosial, tetapi juga telah menjadi instrumen politik yang efektif.
Dalam perspektif komunikasi politik, kebijakan yang mudah dilihat dan dirasakan publik biasanya memiliki efek elektoral yang kuat.
Karena itu, capaian kepuasan 74,1 persen tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan narasi pemerintah dalam menghadirkan program yang tangible.
Potret Stabilitas Dukungan Jelang 2029
Meski Pilpres 2029 masih jauh, survei seperti ini mulai dibaca sebagai indikator awal peta kekuatan politik.
Dukungan publik yang tinggi memberi modal besar bagi konsolidasi koalisi pemerintahan.
Di ruang publik dan forum diskusi daring, isu keberlanjutan kepemimpinan Prabowo pada 2029 mulai ramai diperbincangkan.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap pada konsistensi implementasi program dan kondisi ekonomi.
Jika manfaat kebijakan tetap terasa, angka kepuasan berpotensi bertahan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : poltracking.com