RADARBANYUWANGI.ID - Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) menyoroti perlunya perbaikan dalam penanganan kemacetan serta distribusi bahan bakar minyak (BBM) pada arus mudik Idul Fitri 1447 H/2026. Evaluasi ini disampaikan setelah penyelenggaraan mudik tahun ini dinilai berjalan relatif baik, meski masih menyisakan sejumlah catatan penting.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, Tulus Abadi, mengapresiasi pelaksanaan layanan mudik yang berlangsung aman di berbagai sektor transportasi. Ia menilai keberhasilan tersebut terlihat dari minimnya insiden besar selama periode mudik.
“Secara umum prosesi pelayanan mudik Lebaran berjalan baik di semua sektor. Hal ini ditandai dengan tidak adanya kecelakaan fatal dengan korban massal di angkutan umum,” ujar Tulus, Kamis (26/3/2026), dikutip Antara.
Ia juga menambahkan bahwa sektor transportasi udara dan perkeretaapian menunjukkan performa yang stabil. “Tidak ada delay signifikan di maskapai maupun kereta api, serta tidak ada kecelakaan kereta api,” lanjutnya.
Namun demikian, FKBI menilai kemacetan masih menjadi persoalan utama, khususnya di sejumlah ruas jalan tol dan titik penyeberangan. Tulus mengungkapkan bahwa kemacetan di Jalan Tol MBZ sempat mencapai durasi hingga lima jam.
“Di tol MBZ kemacetan bisa mencapai lima jam, namun ini belum sampai level horror traffic. Level tersebut justru terjadi di Pelabuhan Gilimanuk dengan antrean hingga 20 km,” katanya.
Menurut Tulus, kemacetan parah di Pelabuhan Gilimanuk dipicu oleh masih beroperasinya kendaraan angkutan barang bersumbu tiga ke atas, yang seharusnya dibatasi selama periode mudik. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat arus lalu lintas, tetapi juga berdampak pada distribusi BBM.
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan distribusi BBM terjadi karena mobil tangki terjebak kemacetan, sehingga pasokan di sejumlah SPBU terganggu. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya tanggung jawab pengelola SPBU dalam menjaga ketersediaan BBM.
“Apapun alasannya tidak boleh BBM di SPBU sampai kosong, karena melanggar hak-hak publik,” tegasnya.
Lebih lanjut, FKBI mendorong pemerintah bersama Korlantas Polri untuk mengoptimalkan rekayasa lalu lintas, tidak hanya di jalan tol tetapi juga di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa yang mengalami peningkatan volume kendaraan.
Selain itu, Tulus juga menyoroti pentingnya pembatasan penggunaan sepeda motor untuk mudik, mengingat tingginya risiko keselamatan. Ia juga menekankan agar kebijakan contraflow diterapkan dengan lebih hati-hati dan mengedepankan aspek keamanan.
“Pemudik motor perlu dibatasi karena risikonya tinggi, dan contraflow harus dilakukan lebih hati-hati dengan pembatas yang lebih aman,” ujarnya.
FKBI berharap evaluasi ini dapat menjadi bahan perbaikan bagi pemerintah agar penyelenggaraan mudik di masa mendatang semakin aman, lancar, dan menjamin hak-hak masyarakat sebagai konsumen layanan publik.
Editor : Lugas Rumpakaadi